Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

[Cerpen] Cinta Pertama Calysta - Maya Asyataqu Ilayk

Sumber gambar : https://pixabay.com/illustrations/birds-couple-branch-sitting-love-5770589/

𝐂𝐈𝐍𝐓𝐀 𝐏𝐄𝐑𝐓𝐀𝐌𝐀 𝐂𝐀𝐋𝐘𝐒𝐓𝐀


Kuhanya diam, menggenggam menahan,

Segala kerinduan, memanggil namamu,

Disetiap malam ingin engkau datang,

dan hadir dimimpiku, rindu.


Dan waktu kan menjawab,

Pertemuanku dan dirimu,

Hngga sampai kini aku masih ada di sini.


______________________


Pintu diketuk dari luar. Calysta buru-buru menyimpan kembali buku hariannya di belakang lemari pakaian. Ia tak ingin siapa pun menemukan buku itu. 


"Calysta, apa kamu tidur, Nak?" Lembut ibunya memanggil. Mengajaknya untuk makan siang. 


Calysta berjalan sembari menyeka air mata sebelum membuka pintu kamarnya. "Maaf, Bu, Calysta ketiduran," jawabnya sambil mengucek-ngucek mata dengan kedua tangannya. 


Tentu saja ia harus bersandiwara di depan ibunya. Berpura-pura baru bangun tidur agar sang ibu tidak mempertanyakan sembab di matanya. 

Baca Juga : [Cerpen] Cinta Bersemi Di Musim Gugur - Maya Asytaqu Ilayk


Lagi, untuk yang kesekian kalinya ia berurai air mata. Air mata kerinduan untuk cinta pertama dalam hidupnya. Seseorang yang kini entah di mana keberadaannya. 


"Makan, yuk, Sayang. Kakek sama Nenek sudah menunggu sejak tadi."


Calysta mengangguk. Kemudian, mengekori ibunya menuju meja makan. 


Di rumah itu ia tinggal bersama dengan kakek dan nenek dari ibunya. Kedua orang tuanya berpisah sejak Calysta masih kecil. Hingga usianya sekarang menginjak lima belas tahun, belum sekali pun ia bertemu dengan ayahnya lagi. Selain itu, ia juga tidak tahu pasti, alasan perceraian kedua orang tuanya. 


Calysta hanya memendam keingintahuan itu dalam hati. Ia masih ingat, dahulu sekali pernah membuat ibunya bersedih lantaran kerap menanyakan keberadaan sang ayah. Apalagi kakeknya selalu melarangnya untuk bertanya apapun tentang ayahnya. 


Sejak saat itu, Calysta berjanji akan memendam rasa rindu untuk ayahnya seorang diri. Sedih dan kecewanya tidak ada yang memahami. Satu-satunya yang tahu betapa besar rindunya kepada sang ayah adalah buku hariannya. Itulah alasannya, mengapa ia harus menyembunyikan buku harian itu dari semua orang yang ada di rumah. 

Baca Juga : [Senandika] Diary Usang yang Kau Buang - Theo Kiik

****


"Selamat ulang tahun, cucu Kakek tersayang. Ini hadiah kecil dari Kakek. Semoga Calysta suka." Sebuah kunci diserahkan oleh kakek padanya. 


Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-17, Calysta mendapatkan hadiah sepeda motor matic dari sang kakek. Apakah itu membuatnya bahagia? 


Selama ini ia tak pernah kekurangan suatu apapun dari segi materi. Semua kebutuhannya dipenuhi oleh kakeknya. Calysta adalah cucu satu-satunya. Hal itu yang membuat sang kakek begitu menyayangi dan memanjakannya dengan kasih sayang juga materi. Namun, semua yang ia dapatkan tidak cukup membuatnya bahagia. Ada lubang menganga di hatinya.


Calysta menerima kunci itu sambil mengulas senyum. "Terima kasih banyak, Kek." 


Kakek mengajak Calysta melihat hadiah untuknya yang disimpan di garasi. 


"Apa Calysta suka?" tanya kakek. 


"Tentu saja, Kek," jawabnya singkat. 


Sang kakek menyadari ada raut sedih yang berusaha disembunyikan cucunya.

Baca Juga : [Cerpen] Cemburu - Uli Nasifa


"Apa ada hal lain yang Calysta inginkan? Katakan saja, Kakek akan berikan apa pun yang Calysta inginkan."


"Apa pun, Kek? Benarkah?" Binar di kedua mata kecokelatan itu tampak nyata. Sudah saatnya ia mengungkapkan keinginan yang jauh terpendam di dasar hatinya. 


"Benar, kecuali ... jika itu tentang ayahmu, maka jawabannya tidak! Raut tidak suka jelas terlihat di wajah sang kakek. 


Binar di kedua mata indah itu redup seketika. Calysta menunduk. Memainkan jemarinya. 


"Benar 'kan, pasti itu yang Calysta inginkan? Dengar baik-baik Calysta, selama Kakek masih hidup, jangan pernah sebut ayahmu lagi!"


Deg! Jantung Calysta seperti dikejutkan oleh listrik bertekanan tinggi. Rasanya ia hampir pingsan. 


"Apa salah ayahku, Kek? Kenapa Calysta tidak boleh bertemu dengan Ayah? Calysta rindu, Ayah." Gadis itu terisak pilu. 


Wajah sang kakek merah padam. "Apa yang kamu harapkan dari ayahmu yang miskin itu? Kurang apa Kakek selama ini? Calysta tidak butuh Ayah lagi. Anggap saja dia sudah mati!" 


Calysta mengangkat kepalanya. Menatap tajam pada sang kakek. "Apa Kakek mau, dianggap sudah mati oleh ibuku?! Jawab, Kek," ucapnya bergetar. Kembang kempis dadanya mengatur napas yang susul-menyusul. 


Calysta berlari meninggalkan sang kakek setelah tak mendapatkan jawaban. Lelaki enam puluh tahun itu tampak syok. Ia tak menyangka cucu kesayangannya akan berkata seperti itu.

Baca Juga : [Cerpen] Fatin Karya Maulidya


****


Tanpa sepengetahuan penghuni rumah, diam-diam ia mencari tahu keberadaan ayahnya. Sejak masuk SMA ia mempunyai teman akrab, Nency namanya. Selain kepada buku harian, kini Nencylah teman berbagi keluh kesahnya. Termasuk tentang rindunya kepada sosok ayah yang telah hilang dari kehidupannya. Rindu yang terus menggerus dalam dada hingga menciptakan lubang menganga di sana.


Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menemukan keberadaan sang ayah. Ibunya pernah bercerita bahwa ayahnya adalah seorang guru sekolah menengah di kota X. Jarak ke kota itu juga tidak terlalu jauh. Sekitar satu jam jika ditempuh dengan mengendarai sepeda motor. Satu-satunya yang menjadi penghalang untuk mereka bertemu adalah sifat egois kakeknya. 


Siang sepulang sekolah Calysta mengirim pesan kepada ibunya bahwa akan pulang sore. Ada sesuatu yang harus ia kerjakan bersama Nency. Setelah mendapat izin, mereka pun beraksi. 


Mula-mula mereka menuju ke sekolah tempat ayahnya mengajar terakhir kalinya. Ternyata sesampainya di sana sekolah sudah sepi. Calysta sangat kecewa. Kalau ia harus mencari sepulang sekolah pasti akan sulit. Karena semua guru pasti sudah kembali pulang. 


Mereka hanya duduk di atas motor mengamati dari seberang jalan. Calysta masih enggan untuk pulang.

Baca Juga : [Cerpen] Suatu Pertanda - Fukuda Maruyama


Seorang lelaki tua penjaga sekolah menggeser pintu gerbang untuk ditutup. Melihat itu Calsyta langsung turun dari motor. Buru-buru ia menyeberang jalan, menghampiri bapak tua penjaga sekolah. 


"Maaf, Pak. Boleh saya tanya sesuatu?" Sapaan Calysta menghentikan pekerjaan penjaga sekolah yang hampir menutup rapat pintu gerbang. 


"Oh, bisa. Mau tanya apa?" tanya penjaga sekolah ramah. 


"Maaf, apakah ada guru di sekolah ini yang bernama Adi Wijaya, Pak?" 


Penjaga sekolah itu mengernyitkan dahi. Mencoba mengingat-ingat. "Adi Wijaya ...," gumamnya. 


"Maaf, Pak. Ini fotonya, siapa tahu Bapak mengenalinya." Calysta memberikan selembar foto lama ayahnya saat masih bersama ibunya. 


"Oh, iya, saya ingat. Pak Adi Wijaya sudah lama sekali pindah dari sekolah ini. Kalau tidak salah, beliau dimutasi ke SMAN 11. Kebetulan Bapak cukup akrab dengan Pak Adi, sering ke masjid bareng," tutur penjaga sekolah. 


Calysta mengucapkan terima kasih kepada penjaga sekolah yang baik itu. Ia pulang dengan membawa harapan besar untuk bisa menemukan sang ayah dipencariannya besok. 


****

Semalaman Calysta tidak bisa tidur nyenyak. Rasanya sudah tak sabar menunggu fajar. Wajah sang ayah terus membayang di kedua matanya. Gadis itu penasaran, seperti apa wajah ayahnya saat ini. Ia memandang selembar foto usang sang ayah yang didapatkannya dari album pernikahan ibunya. 


Pukul tiga dini hari ia terjaga. Ada rasa tak tenang jika pencariannya besok diketahui oleh sang kakek. Pasti kakeknya akan marah besar.

Baca Juga : [Cerpen] Gambar Diri Yang Merusak - Bundo Milanisto


Calysta menyikap selimut yang menutupi tubuhnya. Beranjak turun dari ranjang menuju ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri, gadis itu kemudian berwudhu. 


Dalam sujud panjangnya ia meminta kepada Yang Maha Kuasa untuk memudahkan dalam pencarian cinta pertamanya. Sosok yang begitu ia dambakan selama ini. Bulir-bulir bening berjatuhan, membasahi sajadah keimanan. 


Isak pilunya didengar oleh sang ibu yang juga terjaga malam itu. Ibunya keheranan, apa gerangan yang membuat putri satu-satunya itu sampai terisak sedemikian memilukan? 


Dengan hati-hati sang ibu mendekat. Wanita berwajah ayu itu duduk di tepi ranjang menunggu putrinya menyelesaikan qiyamul lailnya. 


Calysta mendapati wajah sendu sang ibu. Ia menghamburkan diri ke dalam pelukan ibunya. Wanita yang telah melahirkan Calysta itu kini tahu apa yang membuat putrinya bersedih di tengah malam.

Baca Juga : [Cerpen] Mimpiku Bersama Sahabat - Siti Khusnul Shoffiyah


Sang ibu mengusap lembut kepala dan punggung Calysta. Mencoba menenangkan putri kesayangannya. Akhirnya, Calysta mengungkapkan keinginan terbesar dalam hidupnya. Pada ibunya ia menceritakan semuanya. 


"Pergilah, Nak. Temui ayahmu. Ibu tidak bisa menghalangimu lagi. Sudah saatnya kamu mendapatkan hakmu yang selama ini ditentang oleh Kakek. Ibu akan membelamu kali ini. Darah tetaplah darah. Tidak bisa digantikan oleh apapun juga. Maafkan ibu sudah membuatmu menahan rindu begitu lama." Air mata berguguran dari kedua mata sendu ibunya seiring restu yang ia berikan. 


Calysta mengeratkan pelukannya. Ia tak bisa lagi berkata-kata. 


***


Pagi ini Calysta tampak lebih bersemangat. Sementara, wajah sang kakek begitu lesu. Kejadian beberapa hari yang lalu rupanya menjadi pukulan berat baginya. Ia menyadari kekeliruannya selama ini. Benar yang dikatakan oleh cucunya, tak mungkin ia mau dianggap sudah mati oleh darah dagingnya sendiri. 


Saat berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi, ibu Calysta menyampaikan keinginannya kepada sang ayah untuk mempertemukan putri semata wayangnya dengan ayah kandungnya. Ia sudah siap pasang badan jika sang ayah akan menentangnya lagi kali ini. Namun, di luar dugaan, ayahnya mengizinkan cucunya untuk betemu dengan mantan menantunya itu. 

Baca Juga : [Cerpen] Tragedi Cinta Di Bumi Prambanan - Yohana Restu Wilistya


Calysta bangkit dari duduknya. Memeluk erat sang kakek. "Terima kasih, Kek. Kakek adalah kakek terbaik di dunia." Gadis kecil itu mencium lembut pipi kakeknya. 


Pagi itu Calysta memang sengaja izin tidak masuk sekolah. Akan tetapi, ia tetap mengenakan seragam putih abu-abu. Ia ingin memberi kejutan untuk ayahnya.


Kakek dan nenek juga ibunya ikut menemani mencari sang ayah di sekolah tempat ayahnya mengajar. Informasi dari penjaga sekolah kemarin ternyata benar. Ayah Calysta dimutasi ke SMAN 11.


Mereka menghadap kepala sekolah secara langsung. Meminta izin untuk mempertemukan  Calysta dengan ayahnya. Kepala sekolah memberi mereka izin. Bahkan, bersedia mengantarkan Calysta menemui Pak Adi Wijaya di kelasnya. 


Pintu kelas diketuk oleh kepala sekolah sembari mengucap salam. Pak Adi Wijaya menjawab salam sambil bangkit dari duduknya membukakan pintu.

Baca Juga : [Cerpen] Aksara Hati Sang Penyair - Dyramifth Dyra


"Silakan masuk, Pak." Pak Adi Wijaya sedikit membungkukkan badan di depan kepala sekolah. 


Pak Adi Wijaya sempat merasa heran. Tidak biasanya siswa baru ditemani oleh kepala sekolah untuk masuk kelas. 


Calysta mengikuti langkah kepala sekolah di belakang. Kemudian, berdiri di samping kepala sekolah menghadap siswa-siswa yang sedang belajar. 


"Maaf, jika saya mengganggu kegiatan belajar mengajar di kelas Pak Adi. Kedatangan saya di sini untuk menyerahkan siswa ini kepada Pak Adi." Kepala sekolah meminta Calysta untuk memperkenalkan diri. "Ayo, perkenalkan namamu pada teman-teman," ucap kepala sekolah. 


Calysta gugup sekali. Sesekali ia melirik pada Pak Adi Wijaya. Jantungnya berdegup kencang. Ia tak bisa membuka mulut di hadapan semua orang. 


"Sepertinya teman kita ini sangat pemalu. Biar Bapak yang bertanya, ya. Siapa namamu?" tanya Pak Adi Wijaya. 


Calysta mengangkat wajahnya. Menghadap Pak Adi Wijaya. 


"Nama saya Calysta Putri Wijaya." Kedua matanya mengembun. Tatapan lembutnya menyentuh hati Pak Adi Wijaya. 


Ada desir halus di dada Pak Adi Wijaya. Nama  itu seperti nama putri kecilnya yang dipisahkan darinya belasan tahun silam. Ia tergerak untuk menanyakan hal lain.

Baca Juga : [Cerpen] Membias Samar - Daypen


"Calysta Putri Wijaya ... itu nama yang bagus. Calysta pindahan dari sekolah mana?" tanyanya lagi. 


Calysta menggelengkan kepalanya. "Saya tidak pindah sekolah, Pak. Saya ke sini untuk bertemu Bapak." Bulir bening yang menganak di kedua sudut matanya akhirnya tumpah juga. 


Pak Adi Wijaya tampak kebingungan. Kemudian, kepala sekolah mendekat dan menjelaskan singkat siapa siswi berseragam putih abu-abu yang datang mencarinya. 


Seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya. Pak Adi Wijaya mendekati Calysta. Menatap lekat pemilik nama yang tersemat namanya di sana. Ia seperti melihat dirinya di cermin. Manik kecokelatan dan rupa Calysta memang sama persis dengannya. 


Calysta tak kuasa lagi menahan rindunya. Ditubruknya tubuh Pak Adi Wijaya. "Ayah ...!" Gadis itu membenamkan tangis di dada ayahnya. 


Bapak kepala sekolah ikut terharu melihatnya. Kemudian, meminta seluruh siswa untuk berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah.

Baca Juga : [Cerpen] Suzan : Cinta Ayra - Yantea


Bersamaan dengan itu, ibu Calysta beserta kakek dan neneknya masuk ke kelas sambil membawa kue ulang tahun dengan lilin yang menyala di atasnya. 


Bersama-sama seluruh siswa yang ada di kelas itu mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Calysta. 


Calysta begitu gembira dan terharu. Sepanjang hidupnya inilah kado ulang tahun paling berharga yang pernah ia dapatkan. Calysta menemukan cinta pertamanya tepat diusianya yang ke-17.


TAMAT.


Tarakan, 27 April 2024.

Diberdayakan oleh Blogger.
close