Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

[Dongeng] Sahabat Dua Alam : Paus dan Burung - Rizka Awaliah

Dongeng paus dan burung

Ini adalah kisah cinta antara dua makhluk berbeda alam. Kisah cinta persabahatan dua ekor hewan yang memiliki banyak perbedaan. Kisah ini adalah milik paus dan burung.

Paus dan burung bersahabat sejak kecil. Mereka banyak menghabiskan waktu Bersama. Burung akan mengikuti paus berenang, dan paus seringkali berenang mengikuti burung yang terbang.

Dua makhluk itu saling mencintai sebagaimana sahabat. Paus dan burung sering bertukar cerita mengenai keseharian mereka.

“Tadi pagi aku melihat gurita yang menari dengan rumput laut, dan para kuda laut terlihat menonton dari kejauhan,” ujar paus menceritakan kesehariannya.

“Aku juga melihat kejadian lucu, seekor monyet menggigit kelapa hingga giginya patah,” ungkap sang burung.

Dua makhluk berbeda alam itu menatap pada kejauhan, membayangkan kehidupan yang sangat menyenangkan jika mereka bisa terus Bersama seperti saat ini.

Mereka bisa asik bergurau, melontarkan lelucon, bercerita, bahkan melihat pemandangan Bersama seperti yang mereka lakukan saat ini.

“Aku sangat menyayangimu, paus. Kuharap kita bisa terus Bersama selamanya,” ucap burung tulus.

Paus tersenyum senang, “Aku juga memikirkan hal yang sama, mari kita hidup Bersama setelah ini. Ikutlah bersamaku ke lautan, aku akan menunjukkan banyak hal menakjubkan lainnya.”

Burung menatap paus dengan mata berbinar, dia sangat bersemangat dan senang Ketika mendengar perkataan paus.

“Baiklah, aku akan ikut berenang bersamamu,” ujarnya.

Burung mengepakkan sayapnya dan mulai menenggelamkan diri ke lautan. Paus berenang di hadapannya, dan burung mengikuti dari arah belakang.

Namun, paus terlihat dapat berenang dengan lincah. Setiap saat jarak mereka semakin jauh, sedangkan burung merasakan kehilangan udara di paru-parunya.

Segera saja burung Kembali ke permukaan dan menghirup oksigen sebanyak mungkin.

“Ada apa, wahai kawanku?” tanya paus keheranan.

“Aku kehabisan napas di dalam air,” jawab burung.

“Aku rasa, aku perlu menghirup udara lebih bayak.”

Burung menghirup udara sebanyak yang dia bisa, berharap stok udara yang dia hirup akan cukup untuk bertahan sampai dasar laut.

Burung Kembali menyelam, mencoba menggerakkan sayapnya seperti terbang. Namun, sayapnya terasa amat berat, dan napasnya Kembali menipis.

Burung Kembali ke permukaan dengan napas yang tersengal. Kepalanya tertunduk lesu.

“Ada apa, wahai kawanku?” tanya paus lagi.

“Aku rasa, aku tidak akan bisa hidup di tempatmu. Aku kesulitan berenang dan sulit bernapas di dalam air.” Ujarnya.

Paus tampak bersedih. Namun, burung Kembali bersuara dan mengatakan idenya.

“Ayo, ikut ke daratan bersamaku. Kita akan tinggal di atas pohon yang rindang, kita bisa menikmati senja sepuasnya, dan pada malam hari kitab isa melihat bintang,” ujar burung antusias.

Paus menampilkan senyum lebarnya, ide burung sangat bagus, pikirnya.

“Baiklah, aku akan ikut ke alammu,” ujar paus.

Paus mulai Bersiap mengepakkan sirip besarnya sambil menutup mata. Dengan senyum yang merekah paus itu bertanya, “Apa tempatmu masih jauh, kawan?”

Tak ada jawaban.

Akhirnya paus membuka mata, dan melihat dirinya tak bergerak sedikitpun. Burung sudah terbang semakin jauh di udara, “Burung, kawanku!” panggil paus.

Burung menoleh Ketika mendengar pangggilan burung, dan kaget Ketika melihatnya masih berada di tempat.

“Kenapa kau tidak terbang, kawan?” tanya burung.

“Aku rasa, kau perlu mengajariku cara terbang terlebih dulu,” jawabnya.

Burung mengangguk paham.

“kepakkan sayapmu seperti ini.” Burung menggerakan sayapnya naik turun, berusaha mengajari paus cara terbang.

Paus memperhatikan dengan fokus, dia mulai menggerakkan siripnya naik turun hingga air laut terciprat cukup tinggi.

Namun, paus tidak juga dapat terbang.

Paus tertunduk, dia sadar tidak memiliki sayap. Dirinya tidak mungkin dapat terbang.

“Kawanku, sepertinya kita tidak akan bisa tinggal Bersama,” ucap paus dengan lesu.

“Kenapa?” tanya burung.

“Kau tidak memiliki ekor sepertiku, dan kau juga tidak dapat bernapas di dalam air. Dan aku, aku tidak dapat terbang karena aku tidak memiliki sayap sepertimu,” jawab paus.

Burung menatap paus dengan sedih.

Impian mereka berdua untuk hidup Bersama harus sirna, mereka memiliki habitat yang berbeda, dan tidak mungkin hidup Bersama.

“Biarlah kita tinggal di tempat kita masing-masing, tapi kau tetaplah sahabat yang paling kusayang, wahai paus.”

Paus tersenyum mendengar perkataan burung dan mengangguk setuju. Meski mereka berbeda, mereka tetap saling menyayangi dan dapat saling berbagi kisah.

_______________

Diberdayakan oleh Blogger.
close