Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

[Cerpen] Membias Samar - Daypen

Sumber gambar : https://pixabay.com/illustrations/crescent-moon-balloon-night-star-4875339/

Pintu kedai kopi itu tertutup dari luar. Hari itu merupakan hujan ketujuh kali yang turun selama bulan November berlangsung. Angin membawa aroma hujan yang lembab menyusup ke dalam ruangan dan menyeling aroma lain dari seduhan kopi panas yang dituang ke dalam gelas. Kedai itu punya reputasi yang cukup bagus meskipun tidak ada yang menonjol dari setiap menu kopinya namun ruangannya cukup nyaman: tidak terlalu luas dengan beberapa lampu-lampu berukuran sedang tergantung di langit-langit, belasan meja dengan kursi-kursi kayu minimalis bewarna coklat muram yang tampak begitu serasi dengan warna krem pada dindingnya dan juga terdapat satu pendingin udara tua di pojok kiri dekat dinding yang masih mengeluarkan udara dingin, barangkali akan terasa cukup membantu bagi para pengunjung yang datang setiap kali musim panas tiba.


Wanita itu duduk di tempat yang sama setiap kali datang berkunjung. Tempat yang tidak terlalu mencolok di sudut ruangan itu. Pada hari-hari biasanya ia hanya akan duduk sendirian di sana, membaca majalah yang dibawa dari rumah dan memesan beberapa gelas Espresso pada pelayan lantas kemudian membiarkannya dingin begitu saja. Ia lebih menyukai Espresso dingin, baginya itu bisa membantunya mendapatkan rasa yang lebih murni, kepekatan asli yang tidak dipengaruhi oleh suhu air dalam gelas atau semacamnya. 


Wanita itu tak pernah datang pada siang hari. Ia hanya akan ke sana menjelang pukul delapan malam tiba kemudian masuk dan berjalan dengan tenang menuju meja yang berada paling pojok dekat jendela. Di tempat yang sama itulah selama bertahun-tahun lamanya ia memesan kopi dan akhirnya menjadi pelanggan tetap di kedai kopi itu. Tempat yang didudukinya itu entah bagaimana tak pernah menarik perhatian pengunjung lain, hanya beberapa saja yang pernah duduk di sana dan akan kosong dengan sendirinya menjelang jam delapan malam tiba. Dari tempat itu ia bisa melihat langsung langit yang kadang penuh dengan bintang namun terkadang pula untuk beberapa saat tampak begitu kosong—ia berpikir barangkali ribuan bintang-bintang itu telah pergi ke suatu tempat yang berbeda—entah dimana, ia tak pernah tahu.


Hari itu, hari dimana ulang tahunnya yang ketiga-puluh. Ia mengundang seseorang untuk menemaninya minum di kedai kopi tersebut. Seorang pria yang tampak beberapa tahun lebih muda, dengan wajah menakjubkan dan senyum yang indah. Pria itu mengenakan setelan kemeja ‘Grandfather collar shirt’ polos, celana panjang Chino bewarna abu-abu disertai sepatu dari jenis Monk straps coklat tua. Sementara wanita itu tidak suka terlihat terlalu mencolok, bahkan jika bisa ia berharap seseorang tak harus melihatnya ada di sana. Setelan yang dikenakannya setiap kali datang berkunjung pun hampir selalu sama, dalaman putih dengan blazer biru disertai celana bahan bewarna gelap yang tampak serasi dengan gaya rambutnya yang dipotong pendek. 

"Apa kamu pernah kesulitan membuang sesuatu?”, Sang wanita meletakkan tangannya pada permukaan meja dan menekurkan kepala di sana lantas memandangi cangkir-cangkir kecil berisi pesanan Espresso dan segelas Affogatto dengan es krim yang tampak setengah mencair.


 “Barangkali mungkin, pada saat tertentu. Misalnya jika sesuatu itu hadiah dari seseorang”, Pria itu menyeruput kopinya perlahan dan membiarkan rasa pahit kopi berdampingan dengan manisnya es krim melewati kerongkongannya yang terasa sedikit mengering.


“Saya mengalaminya lagi, ya lagi…dan itu berarti sesuatu yang terus saja berulang dan akan berlangsung terus-menerus, kamu pahamkan?”.


“Hmmm…, Apa perasaan seperti itu benar-benar ada?”, kata laki-laki itu sambil tersenyum, “Aku belum pernah merasakannya jadi tidak bisa terlalu yakin”.

Baca Juga : (Cerpen) Jangan Keluar Waktu Maghrib - Pena Malam


Untuk sesaat wanita tersebut diam, memperhatikan wajah laki-laki itu lantas memandanginya dengan curiga. Suara dari radio di kedai itu terdengar mengudara memainkan lagu Through the fire tetapi terdengar begitu samar karena sedang turun hujan di luar disertai suara berisik dari obrolan beberapa pengunjung di meja lain. 


Tepat di seberang meja wanita itu, dua orang pria terdengar tengah membicarakan seorang teman mereka yang mengalami kecelakaan sepeda motor. Teman kedua pria itu adalah seseorang yang sangat berhati-hati dan selalu waspada terhadap sesuatu namun karena hujan turun jalanan jadi basah dan terlalu licin untuk bisa dilewati bahkan oleh seseorang yang selalu melakukan sesuatu dengan sangat hati-hati seperti dirinya sekalipun. 


Entah bagaimana dengan cepat wanita itu kemudian ingat, dahulu ia juga selalu berusaha untuk terus berhati-hati melakukan apa saja. Ia belajar dengan sangat keras setiap kali ujian akan tiba, memangkas rambutnya tiga bulan sekali dengan gaya potongan rambut yang selalu sama, memilih bahan makanan dengan teliti, hanya makanan dengan kualitas terbaiklah yang jadi pilihnya setiap kali prosesi menyantap makanan terjadi. Ia juga mengatur letak perabotan secara detail dan dengan telaten menyirami tanaman dalam pot-pot kecil di teras rumah setiap pagi dan sore hari. Mandi dan tidur dengan waktu yang telah ia tetapkan secara tepat dan ia tak pernah barang sekalipun juga dengan alasan apapun terlambat untuk datang ke tempat kerja serta mengisi absen dengan teratur pada jam dan menit yang sama setiap hari dihari kerja. Ia hidup dengan sangat hati-hati bahkan tanpa celah sedikitpun, setidaknya seperti itulah yang selalu ia yakini.


Namun sesuatu di luar kendalinya kadang-kadang masih saja tetap terjadi, terlepas seberapa teliti dan berhati-hati ia menjalankan hidup. Sesuatu itu bagaikan mimpi buruk yang mengambil alih pikirannya sendiri secara tiba-tiba kemudian merampas kendalinya untuk bisa melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang ia inginkan selama ini. Sesuatu itu pula yang telah mendamparkan dirinya pada suatu tempat asing yang penuh penderitaan dan di sana dia benar-benar tak berdaya untuk bisa melakukan apapun atau mengatur apapun. Wanita tersebut terus-terusan merasa cemas tiap kali harus memikirkan jika hal-hal semacam itu terjadi. 


“Apa punya waktu di akhir pekan?”, kata wanita itu tiba-tiba.


“Ku rasa akhir pekan tidak akan terlalu sibuk, kalau kau ingin pergi ke suatu tempat, bisa saja”,  dengan tetap tersenyum laki-laki itu menatap sang wanita dengan lembut dan membiarkan mata mereka saling bertemu, entah mengapa dapat ia rasakan ada suatu jarak di sana, di antara mereka.


“Aku ingin mengatakan sesuatu. Selamat bertemu di akhir pekan”, wanita itu mengajak laki-laki tersebut pulang, membayar tagihan minuman lantas melangkah keluar dari kedai kopi menuju mobil mereka masing-masing secepat yang mereka bisa. Aku lupa membawa payung, gumamnya dalam hati saat dirasainya ujung celananya basah.

Baca Juga : Cincin Yang Berbicara - Lalitya Nandini


***

Wanita itu punya bola mata yang begitu indah dengan lekuk hidung yang terpahat sempurna. Ia baru saja genap berusia tigapuluh-tahun ini dan bekerja sebagai seorang karyawan di sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang pemyewaan alat-alat berat. Pekerjaannya adalah memeriksa pengeluaran dan pemasukan perusahaan, mengatur pembayaran gaji karyawan lain tepat saat akhir bulan tiba, sambil sekali-sekali disuatu waktu mendengar seorang atasan yang marah-marah sebab seorang klien terlambat membayar jasa peminjaman atau diharuskan untuk ikut lembur ketika perusahaan sedang mendapat banyak pesanan pelayanan jasa bahkan hingga larut malam. Namun ia tidak pernah sekalipun mendapat masalah yang berarti jika menyangkut dengan pekerjaannya itu, sesuatu yang pantas untuk ia syukuri---setidaknya.


Tetapi jika harus dihadapkan pada masalah percintaan maka wanita itu akan selalu jadi pihak yang dirugikan. Beberapa kali wanita itu menjalin hubungan asmara dengan beberapa orang pria lantas kadang-kadang pergi berkencan, namun entah mengapa hubungan mereka tak pernah berlangsung terlalu lama. Seorang pria akan merasa canggung setiap kali harus mengencani wanita itu, ia punya kekuatan untuk mengintimidasi lawan jenis sekalipun pria tersebut punya banyak uang atau bahkan memiliki wajah yang menarik. Namun mereka bukanlah jenis pria yang bisa diajak berbicara dan berbagi pandangan tentang banyak hal, pria-pria seperti itu bagi sang wanita selalu berusaha untuk terlihat memiliki pengetahuan luas dan mencoba mengesani dunia dengan pengetahuannya namun sebenarnya berpengetahuan sangat dangkal dan begitu membosankan. 


Namun Taki tidak seperti itu, ia dari jenis yang berbeda, barangkali berasal dari tempat yang begitu jauh dan sang wanita tak akan pernah sanggup untuk menggapainya di sana— di suatu ruang yang tak pernah diketahui oleh siapapun, di sanalah sebagian Taki yang lain hidup dan memisahkan diri dari Taki yang nyata bagi wanita itu: Ia tak pernah akan tahu.


Ia dan Taki dipertemukan secara kebetulan saat sama-sama menghadiri pemakaman seorang teman. Wanita itu belum pernah merasa sedih dan bahagia disaat yang bersamaan sebelumnya. Tapi hari itu untuk pertama kalinya ia diharuskan merasa sedih atas kematian temannya itu namun pada saat yang bersamaan di tempat yang sama pula, ia bertemu dengan Taki dan kemudian merasa begitu bahagia. Pernah ia berpikir, apa keanehan semacam itu memang seharusnya terjadi dalam hidup manusia?.


Taki datang dan menginap setiap dua kali dalam seminggu di rumah wanita itu, mencicipi menu makan malam sederhana sambil mengobrol apa saja. Kadang-kadang mereka pergi ke luar dan menghabiskan waktu bersama: pergi ke bioskop, memesan beberapa gelas Espresso di sebuah kedai kopi dekat rumah sang wanita dan beruntungnya mereka sama-sama menyukai Espresso dingin, hal itu barangkali suatu kebetulan yang menarik dan pada saat akhir pekan tiba mereka akan pergi melihat ratusan burung merpati yang terbang rendah di dekat sebuah danau pada waktu sore hari.

Baca Juga : (Cerpen) Steva oh Steva - Fathul Mubin


Pada kesempatan yang lain Taki dengan suka rela menemani wanita itu menonton acara televisi hingga larut malam, kemudian ia dan wanita itu naik ke atas ranjang. Di sana Taki akan membacakan cerita-cerita yang menarik untuk didengar oleh siapa saja bahkan bagi seekor cicak yang diam-diam tampak sedang menguping segala macam pembicaraan di kamar itu, menangkap segala macam perasaan yang dengan sengaja disembunyikan oleh pemiliknya dengan begitu hati-hati sementara sang wanita hanya akan mendengarkan dengan seksama setiap kali Taki bercerita. Ia merasa seperti sedang menghadapi khutbah mingguan yang disampaikan oleh seorang pastor dan lantas kemudian tertidur dengan manis setelah ceritanya berakhir. 


Taki begitu pandai bercerita, ia selalu punya banyak ide yang aneh dan menarik perhatian tapi entah mengapa wanita itu justru menyukai cerita-cerita aneh semacam itu. “Kenapa tidak kirim cerita ke penerbit saja”, pernah wanita itu bertanya.


Taki tampak dengan hati-hati membetulkan letak kepala sang wanita yang melekat erat di dadanya sambil mengusapnya perlahan. “Tidak mau jadi pengarang atau semacamnya”, jawabnya singkat.


“Apa itu alasan yang dapat dipercayai? ”, tak tahan wanita itu secara tiba-tiba membalikkan tubuhnya lantas kemudian menatap mata Taki lekat-lekat, begitu dekatnya sampai-sampai Taki bisa merasakan hangat napas dari wanita itu menyentuh kulit pipinya yang tampak kemerah-merahan seperti penampakan kulit tomat yang telah masak sempurna. 


“Saya tidak mau berbagi dengan siapapun, selain kamu”, kata-kata nampak membeku di ujung kalimatnya, bibirnya yang bentuknya selalu disukai oleh wanita itu terasa kaku dan kemudian setelahnya bisa ia rasakan perasaaan yang mengerikan merasuki dirinya sendiri: Rasa takut jika suatu saat tak bisa lagi datang ke sana dan sang wanita akan kebingungan mencari seseorang yang bisa bercerita sebaik yang ia lakukan, ia cemas kalau-kalau suatu saat nanti keadaan tiba-tiba saja berubah dan wanita itu pada akhirnya tahu siapa dirinya yang sebenarnya, dirinya yang tak pernah ia tunjukan pada siapapun --- dirinya yang ia biarkan tersesat sendirian dan tak pernah ditemukan kemudian nanti entah kapan dan di mana tahu-tahu seseorang yang tak dikenalnya, menarik lengannya perlahan, menuntun dirinya keluar tanpa harus bersembunyi lagi, selamanya--Taki mulai berdoa. 


“Mungkin kamu takut tidak bisa diterima oleh orang selain saya”, wanita itu tersenyum, memeluk erat tubuh Taki lantas dengan sengaja membiarkan rasa hangat menjalari keduanya, hangat yang tahu-tahu mencairkan semua kebekuan yang Taki miliki. Hangat yang mengantarkan keduanya untuk dapat mengenali tiap inci dari lekuk tubuh masing-masing. Hangat yang membuat keduanya meringkuk dan tersenyum kemudian dengan cepat mengharuskan wanita itu menghadapi suatu lautan yang luas tanpa tepian---suatu tempat tak bernama di mana setengah Taki yang lain bersembunyi, ia ingin menjemputnya dengan segala kesempatan yang ia punya, dengan segala bentuk perahu yang ada, sekali saja andai Taki tahu itu.

Baca Juga : (Cerpen) Cahaya untuk Mentari (Part 1) - Pena Malam

****


Beberapa tahun telah berlalu, namun tak ada lagi Taki di dalam hidup wanita itu. Ia beberapa kali mengirim pesan hingga yang terakhir kali berbunyi: 


“Saya akan menikah, ia pria yang tepat untuk saya nikahi”, wanita itu lantas diam menatap langit-langit rumahnya, kemudian secepat mungkin ia dapat memvisualisasikan sebuah perahu kecil yang terombang-ambing di lautan lepas---di suatu kawasan terpencil—mengapung tanpa tujuan. Satu-satunya media yang ia miliki untuk bisa membawa Taki pulang dengan segala kesempatan yang pernah ia tawarkan, pada akhirnya menghantam karang kesia-siaan dan tenggelamlah ia bersamanya ke dalam lautan penyesalan. Aku ditipu, layar ponsel itu ditutupnya perlahan.


Wanita itu datang ke kedai kopi langganan hampir setiap malam, memesan meja dan minuman yang sama bertahun-tahun lamanya hingga suatu malam tak tahan ia menelpon: ‘Saya berulang tahun hari ini, kamu bisa datang?’, dan dari balik telpon itu di suatu tempat lain seseorang yang tak dikenal dengan hanya mengatakan kata setuju lantas memutus sambungan telpon dan kemudian membiarkan pembicaraan itu berakhir begitu saja, ia akan datang. 


Laki-laki itu tiba di sana persis sebelum hujan turun. Ia melihat wanita itu duduk sendirian lantas kemudian datang menghampirinya. Mereka bercerita mengenai kehidupan mereka masing-masing dan kemudian untuk sesaat laki-laki itu mendengar sang wanita mengeluh dan mengajukan pertanyaan yang sedikit sulit untuknya “Apa kamu pernah kesulitan membuang sesuatu”, kata-kata wanita itu hampir tak dimengerti olehnya karena ia belum pernah merasakan kesulitan semacam itu. 


Laki-laki itu punya kehidupan yang mudah: jatuh cinta dengan seseorang, merasa begitu cocok satu sama lain dan kemudian mereka menikah, bukankah itu jenis kehidupan yang diinginkan oleh semua orang? Dan seseorang harus jungkir balik berdoa agar punya kehidupan yang baik, barangkali wanita itu juga mengharapkan keberuntungan yang sama. 


Percakapan di antara keduanya berlangsung cukup lama, kadang-kadang wanita itu memerlukan untuk menekan-nekan area dadanya sendiri dengan cukup keras. Ia tahu itulah resiko terburuk yang harus ia terima setiap kali memilih untuk berbicara dengan laki-laki itu. Dadanya seperti dihimpit dengan satu pemberat yang begitu besar, kemudian tahu-tahu rasa sakit yang dibiarkan bertahun-tahun lamanya menumpuk hingga memenuhi hatinya. Satu ruang tak lagi tersisa di sana.

Baca Juga : (Cerpen) Suatu Pertanda - Fukuda Maruyam


Terengah-engah ia lantas berkata “Apa punya waktu di akhir pekan?”, laki-laki itu kemudian tersenyum lantas menyetujui permintaan wanita tersebut, setidaknya untuk terakhir kali-begitu pikirnya.


Akhir pekan tiba dengan sangat cepat, wanita itu tahu betapa pentingnya hari itu namun entah bagaimana ia terserang demam tiba-tiba. Beberapa saat kemudian ponselnya berdering, laki-laki itu menelpon, ia angkat dengan lemah: 


“Saya sakit, maaf ”.


“Apa tidak apa-apa jika saya berkunjung?”, laki-laki itu bertanya.


“Iya, tentu saja, tidak apa-apa”, ucapnya lirih. 


Angin menggelontorkan daun-daun pepohonan di luar pekarangan rumahnya, malam itu hujan turun lagi, entah untuk yang keberapa kali selama November berlangsung. Dengan lunglai wanita itu pergi ke dapur. Hawa demam telah memaksanya mencolok kontak pemanas air kemudian membiarkan pancuran kecil air panas mengucur keluar memenuhi setengah ruang dari air dingin di dalam gelas. Ia lantas meminumnya perlahan-lahan dan kemudian bisa dirasakannya selapis keringat kecil membasahi piyama yang ia kenakan, namun tiba-tiba setelahnya satu suara muncul dari dalam hatinya sendiri dan meminta jawaban: “Apakah ini hal yang selalu ia harapkan? Suatu keinginan yang benar-benar ia rawat untuk kemudian diperlihatkannya pada dunia, harapan untuk bisa bersama Taki sekali lagi? Bahkan tanpa harus susah payah lagi, tanpa harus tiba-tiba merasakan sesak tiap kali perasaan tidak berdaya itu muncul. Satu kejujuran ingin ia jemput meski harus melalui jalan semacam apapun juga dan sang laki-laki selalu tahu itu”, barangkali lebih baik jika ia pergi berbaring saja, pikir wanita tersebut. Di dalam ruang kamar angin memainkan ujung kain gorden pada jendela yang dibiarkan terbuka. Wanita itu terbaring di ranjangannya dengan hanya mengenakan piyama dan seekor cicak menyelinap masuk melalui lubang udara mencari cahaya lampu yang hangat.


Terang sekali di ruangan itu ketika laki-laki tersebut melangkah masuk tapi jika ada suatu kegelapan lain yang menyertainya maka bisa dipastikan itu berasal dari tempat yang berbeda. Kemudian setelahnya dapat ia rasakan suatu perasaan yang berpendar tiba-tiba. Laki-laki itu tahu segala macam hal di dalam kamar itu: letak jam dindingnya yang selalu sama, dua kursi kecil tempat mereka berbagi cerita dan mengobrol hingga larut malam tersusun rapi dekat jendela, serta sebuah ranjang indah yang berukuran tak terlalu besar dan…, tak tahan ia untuk membayangkan apa yang telah wanita itu lalui bersama dia di sana---dia yang laki-laki itu hafal betul bau tubuhnya---dia yang menjadi alasan kenapa ia ingin datang menemui wanita itu lagi meski untuk yang terakhir kali.

Baca Juga : (Cerpen) Jalan Memaafkan - Agus Mustain


Terhuyung-huyung ia lantas mendekati wanita itu kemudian duduk di sampingnya.


“Kamu tidak apa-apa?”, tanya wanita itu.


“Tidak apa-apa”, lengannya yang begitu putih terlihat sangat kontras saat kaos oblong bewarna hitam kebesaran yang ia kenakan terlihat melonggar.


“Omong-omong selamat akhir pekan”, katanya lagi.


Wanita itu lantas tersenyum kecil dan ia benar-benar tampak cantik meski berada dalam balutan hawa demam. Tahu-tahu setelahnya ia menggapai tangan laki-laki itu, menggenggamnya lembut dan hangat, lama sekali, dengan lirih kemudian ia berkata:


“Saya tak pernah punya kesempatan seperti kamu”, genggamannya mengendur minta dikasihani. Ia telah siapkan ini begitu lamanya.


“Kamu punya itu dan dia selalu tahu, tapi saya tak bisa…”, Laki-laki itu berhenti bicara lantas dengan hati-hati menarik tangannya sendiri. Ia lelah untuk segala tuduhan yang ada, ia jengah menjadi pihak yang selalu dianggap bersalah.

Baca Juga : (Cerpen) Tragedi Cinta Di Bumi Prambanan - Yohana Restu Wilistya


Hujan turun semakin deras di luar jendela dan di antara hujan yang turun: satu aliran memecah, satu perahu kecil terus-terusan terombang-ambing di antara kenyataan dan juga janji.


Wanita itu dengan cepat merasakan sesak mengaliri rongga dadanya, tak tahan ia berseru: “Dia seseorang yang ideal untuk saya. Saya tahu dia sedang tersesat di suatu tempat dan saya…,saya akan menjemputnya dengan semua kesempatan yang saya punya”.


Dengan segala keyakinan yang masih ia punyai wanita itu berusaha untuk meyakinkan dunia bahkan dirinya sendiri sekali lagi, bahwa ia mengenal Taki lebih dari siapapun juga. Bahwa di suatu tempat entah dimana, Taki sedang menunggu dirinya datang dan menuntunnya menuju jalan pulang, setidaknya hal itulah yang masih ingin ia percayai. Satu keberuntungan ingin ia raih. Satu kesempatan ingin ia tempuh untuk dapat meyakinkan dirinya sendiri bahwa perahunya akan menemukan mercusuar, penunjuk arah untuk berlabuh bagi dirinya dan juga Taki untuk dapat bersama sekali lagi, sekali saja andai ia mampu.


Tahu-tahu kemudian laki-laki itu memotong dingin: “Kamu tak pernah mengenal siapa dia sebenarnya…tidak juga saya”, kata-katanya terhenti, satu kejujuran ingin ia nyatakan, “Tapi bukankah kesadaran yang membuat seseorang akhirnya memutuskan?”.


Dan dengan napas terengah-engah lantas ia berkata lagi, “Saya tidak bermaksud begitu, tapi jika pada akhirnya ia memilih bersama saya, kamu harus menyadari barangkali ia tak pernah ada untuk kamu”, ia lantas menatap wanita itu dengan nanar. Ia bosan atas segala macam tuduhan dan kemudian serangannya untuk yang terakhir kali, “Kamu tidak sepantasnya jadi pihak yang dirugikan dan lantas merasa tersiksa terus-terusan”.


Wanita itu menggeleng perlahan, menatap laki-laki itu dengan pasrah lantas dengan suara gemetar berkata: “Saya mengenalnya”. Susah payah ia berusaha untuk tetap percaya. Satu rasa percaya yang dibangun bertahun-tahun setelahnya, hanya untuk menantikan Taki datang, menggengam tangannya erat dan kemudian mengeluarkan ia dari segala macam bentuk keputusasan itu sekali lagi. Jemarinya mencoba menggapai-gapai namun setelahnya kehampaan yang lebih besar menjerambabkan ia lebih dalam dan seperti merasakan sesak yang tak tertahankan wanita itu lantas tersengal-sengal dan kemudian menangis. 


Sederas hujan yang tampak turun dari luar jendela yang sengaja dibiarkan terbuka, sederas itu pula aliran air dari dalam diri wanita itu mengalir membanjiri ruang-ruang di hatinya dan tahu-tahu setelahnya satu kesadaran muncul perlahan ke atas permukaan. Kesadaran yang akhirnya membuat wanita itu memutuskan untuk bercermin dan melihat dengan jelas pantulan dirinya sendiri di sana. Satu pemberat yang menghimpit dadanya selama ini ternyata tak lebih dari keinginan-keinginannya sendiri, harapan akan Taki yang ia bangun dengan kesia-siaan belaka, kehampaan yang tahu-tahu menghantarkan dirinya pada rasa penyesalan yang jauh lebih mengerikan: Taki tak pernah pergi kemana-mana, ia ada di suatu tempat yang dipilih olehnya sendiri dan perahu kecil wanita itu tak pernah dibiarkan untuk sekalipun berlabuh ke tempat itu. Kenyataan pada akhirnya membawa kapal itu tenggelam lebih dalam dan tak mungkin ditemukan lagi, selamanya. Satu bentuk kejujuran telah ia raih.

Baca Juga : (Cerpen) Cinta Ayra - Yantea

***


Malam merangkak naik dan hujan bertambah deras lagi, dua ekor cicak bersenggama di bawah sinar lampu yang hangat. Laki-laki itu pamit untuk pulang dan lantas meninggalkan wanita tersebut duduk sendirian dekat jendela, kemudian dari balik jendela itu dapat dilihat olehnya: Satu aliran yang besar membawa kenangan-kenangannya sendiri mengalir sangat jauh, membawa apa-apa yang pernah ia miliki, menanggalkan segala bentuk ketakutan akan membuang sesuatu dalam dirinya selama ini. 


Malam itu sang wanita menarik ujung pemberat yang menyumbat hatinya terlalu lama, membiarkan aliran itu memecah selamanya dan kemudian memutuskan untuk menyeberang meski tanpa perahu.


Rekomendasi Buku Kumpulan Cerpen Terbitan Penadiksi : 

Buku selepas kau pergi
Penadiksi adalah situs yang berisi banyak cerpen dari penulis - penulis di Komunitas Menulis Penadiksi. Cerpen tersebut bisa dibaca dan diakses gratis. Namun, jika terjadi plagiat/copy karya kalian yang dilakukan anggota komunitas kami. Mohon segera melaporkan kepada kami!
Alamat gmail : penadiksishop@gmail.com atau WA : 085718987483 (Diksi).

Diberdayakan oleh Blogger.
close