Selamat Datang di penadiksi.com

[Cerpen] Cahaya Untuk Mentari PART I - Pena Malam

Sumber Foto : Freepik.com

 

 

 

   Birunya langit dan hijaunya hamparan rumput berhiaskan bunga warna-warni menggambarkan betapa indahnya dunia ini. Angin sejuk yang berhembus menyapu wajah seorang gadis yang kini tengah terduduk disebuah bangku taman itu. kelopak mata sewarna susu itu memejam, menikmati harumnya bunga yang tertata rapi disana.

   Aku berlari menghampiri gadis itu. gadis yang tak pernah kehilangan senyumnya selama yang aku tau. “Mentari!” panggilku pada sang gadis, gadis itu tampak membuka matanya dan menoleh kesumber suara. “maaf aku terlambat, apa kamu sudah lama menunggu?” gadis itu hanya tersenyum, senyum yang selalu membuatku merasa semua akan baik-baik saja.

   “Tidak aku baru saja datang” jawabnya. Aku tersenyum tulus, tapi sayangnya gadis di depanku tak pernah melihatnya. Dia gadis lugu yang selalu terlihat bahagia, meski ku tau hidupnya tak bisa dibilang baik, namun dia lebih beruntung dariku. Aku hanya gadis nakal yang kurang beruntung dengan semua kelebihan materi yang ku punya. Pertengkaran orang tua membuatku membenci semua orang yang bahagia, aku membenci kehidupanku, dan aku membenci dunia ini. Hingga aku bertemu dengannya, dia yang selalu ku jadikan pelampiasan kekesalanku, ternyata adalah orang yang paling mengerti diriku. Dia yang selalu mendengarkan semua ocehanku, dia juga yang memberiku saran dan motivasi, hingga aku kembali percaya akan adanya kebahagiaan didunia ini.

   “Hei, lihatlah kupu-kupu itu sangat indah” pekikku sambil menunjuk seekor kupu-kupu berwarna kuning, aku yang semula tersenyum mengendurkan senyumku dan melirik sahabatku. “maaf” gumamku,”Kupu-kupu itu pasti sangat indah, aku pernah melihatnya beberapa kali saat masih kecil” ujarnya bersemangat tanpa ada rasa sedih sedikitpun. Aku sungguh salut dengannya, dia tak bisa melihat, tapi dia selalu dapat merasakan semua keindahan disekitarnya. Matanya selalu memancarkan ketenangan, dan itu membuatku merasa iri dengannya, dia terlalu  beruntung.

   Lama kami berdiam diri menikmati suasana tenang di taman,sambil sesekali berbincang. Hingga tak terasa hari sudah menjelang sore. “sepertinya ini sudah terlalu petang,aku harus segera kembali ke panti” aku menoleh pada sahabatku yang tengah meraba tongkat yang biasa dia gunakan untuk menunjuk jalan,aku membantunya dan memberikannya pada Mentari. “iya,sebaiknya aku mengantarmu pulang” kataku sambil membantunya berdiri. Kami berjalan beriringan menyusuri pinggiran kota menuju panti tempat tinggal Mentari. Yaa.. dia adalah gadis yatim piatu,tapi aku tak pernah menangkap itu darinya, karena aku selalu melihatnya tampak bahagia meski dia memiliki banyak kekurangan. Berbeda denganku yang selalu mengeluh dengan semua yang kupunya.

.

   “Apa kamu yakin tidak mau mampir?” tanya Mentari yang kutanggapi dengan gelengan, meski dia tak tau, tapi dia dapat merasakannya, karena dia sahabatku. “baiklah, terima kasih Cahaya” ucapnya tulus, aku hanya dapat tersenyum dan memeluknya sebelum berpamitan pulang.

   Aku Cahaya Mauralinsya, gadis yang hidup serba berkecukupan yang terlahir dalam keluarga cukup terpandang. Ayahku salah satu pejabat negara dan ibuku adalah seorang disainer terkenal, mereka benar-benar sukses. Mereka selalu memberikan apapun yang aku inginkan, mainan, pakaian, liburan dan semua yang orang lain inginkan. Namun sejujurnya hanya satu yang ku inginkan dari mereka, yaitu waktu.

   Karena kesibukan mereka, aku merasa sendiri, pagi hari aku sarapan sendiri dan malam hari aku tidur sendiri. Aku tau umurku sudah beranjak remaja, tapi aku ingin mereka yang dulu. Mereka sebelum mejadi sesukses sekarang, mereka yang selalu memperhatikanku, dan mereka yang selalu bersama denganku.

   Sudah beberapa bulan ini aku merasa seakan dunia membenciku. Kedua orang tuaku selalu bertengkar, dan itu sungguh membuatku frustasi. Aku mencari pelampiasan untuk kekesalanku, aku membully teman-temanku termasuk Mentari yang sekarang menjadi sahabatku. Ahh.. Akau sangat menyesal jika harus mengingat kebodohanku dulu. Bukan karena kejailanku yang menumpahkan minuman dikepalanya, atau menumpahkan saus di bajunya, bukan juga aku yang mendorongnya hingga jatuh diatas genangan air. Yaa..aku akui itu jahat. Tapi yang paling kusesali adalah saat peristiwa itu. sebuah kejadian yang membuat Mentari tak lagi dapat melihat indahnya dunia berhiasakan birunya langit dan hamparan rumput yang hijau.

   Dia yang selalu ku tindas, berani berkorban demi keselamatanku. Dia mendorongkku ke ujung jalan hingga aku tersungkur dan malah dia yang menjadi korban, benturan yang sangat keras dikepalanya membuat dia harus kehilangan penglihatan dan sebagian kenangan indah masa kecilnya. Aku benar-benar menyesali perbuatanku, saat kulihat darah yang mengalir dan menutupi sebagian wajahnya, perasaanku kalut. Dan aku sungguh tak dapat memaafkan diriku sendiri saat mendengar pernyataan dokter yang mengatakan Mentari  mengalami kebutaan dan amnesia ringan. Sampai saat ini aku masih tak bisa memaafkan diriku sendiri, aku selalu merasakan sakit saat melihat senyuman itu. seharusnya aku bahagia, tapi untuk apa jika dia sendiri tak dapat melihat senyum mengejekku yang kini sudah menjadi senyum tulus layaknya seorang sahabat.

   Jika saja aku bisa memainkan waktu, aku ingin memperbaiki semuanya. Tentang Mentari dan semua kebersamaanku dengan kedua orang tuaku.

 

   Pagi yang sangat cerah dan kurasa sangat cocok untuk pergi. Menghilangkan semua pikiran negatif dan meluppakan semua kejadian yang menjadi rutinitas harian setelah beberapa bulan ini. Masih sangat jelas terdengar ketelingaku suara benda pecah dan sumpah serapah dari kedua orang tuaku, aku hanya dapat menutup telingaku dengan bantal dan berusaha tertidur meski terasa sulit.

Aku harus berkonsultasi dengan motivatorku, Mentari. Hanya dia yang dapat membuaku percaya bahwa semua akan kembali seperti semula.

Test..

   Ahh.. kenapa dia harus menetes disaat yang tidak tepat? Aku segera meraih sapu tangan untuk menyeka darah yang keluar dari hidungku. Aku hanya dapat memejamkan mata kala sengatan dikepalaku semakin terasa, kepalaku bagai dipukul bogem dan membuatku oleng. Hampir saja aku terjatuh jika tak ada tangan yang kini merangkulku,”Ya ampun Cahaya, Ada apa denganmu?” tanya kakakku panik, aku hanya dapat menggeleng dan menjawab sekenanya “Aku pasti hanya kelelahan kak” Kak Surya nampak belum percaya. Dia menatapku intens seolah memperingatiku agar jangan coba-coba berbohong.

   Sejujurnya aku tak tau ada apa dengan tubuhku. Aku tau pasti ada yang salah, tapi aku terlalu takut untuk mengetahuinya. aku tak peduli dengan tubuhku, untuk apa aku peduli jika semuanya tak akan berubah. Ayah dan ibuku tak akan kembali seperti semula, begitupun dengan Mentari.

   “Cahaya, kakak tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kamu, sebaiknya kita periksakan kesehetanmu” sarannya, aku hanya dapat menggeleng lemah untuk menolaknya. Sepertinya rencanaku untuk bertemu dengan Mentari harus diundur, aku benar-benar tak dapat merasakan tangan dan kakiku sekarang. “Aku hanya perlu istirahat kak” lirihku. Terdengar helaan nafas panjang kak Surya,namun pada akhirnya dia menurut dan membantuku berbaring dikasur. 

   “Istirahatlah, jangan pikirkan apapun” bisiknya sebelum pergi dan setelahnya aku benar-benar terlelap.

.

   Sudah satu minggu sejak kejadian itu, dan selama itu, disetiap harinya aku selalu merasakan sakitku yang bertambah. Kepalaku selalu pusing dan tak jarang aku sampai pingsan, makanan yang ku makan tak pernah habis dan malah ku keluarkan lagi. Aku sungguh tak tau apa yang salah dengan tubuhku, apa aku memiliki penyakit?atau semacamnya? Tapi aku sungguh tak ingin tau dengan semua itu, aku tak ingin peduli sebelum orang tuaku peduli, aku hanya ingin mereka saat ini.

   Hari ini, setelah menunggu selama satu minggu, akhirnya kau bisa menemui sahabatku. Aku berlari menemuinya ditempat biasa kami bertemu, sebuah taman yang sangat indah dan penuh kenanganku bersamanya.

   “Apa semuanya baik-baik saja Cahaya?” tanya Mentari dengan tatapan hangtnya. “Semuanya berjalan seperti biasanya, tak ada yang berubah sejak lama” jawabku setelah mendudukan diriku disampingnya. “Percayalah, semuanya akan kembali seperti semula, aku yakin.. yang harus kamu lakukan hanya tetap percaya dan bertahan, ini hanya bentuk kasih sayang sang pencipta untukmu. Aku akan selalu ada disampingmu, kamu tak perlu khawatir jika merasa sendiri” aku menatapnya sendu. Kenapa dengan kata-katanya aku seakan mendapat kekuatan baru? Kenapa dia selalu berkata penuh keyakinan, padahal setiap hari keyakinan akan utuhnya kembali keluargaku terkikis perlahan. Kadang aku merasa Mentari adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjadi penyemangat hidupku, dia yang selalu ceria dan pantang menyerah membuatku mulai percaya akan adanya hikmah dibalik semua ini.

“Aww..sshh!” pekikku saat merasakan kepalaku yang berdenyut keras, mataku terepejam erat meratapi sakit yang kini menjalar keseluruh tubuhku. “Cahaya?Ada apa?” samar-samar kudengar pertanyaan Mentari, namun entah kenapa kepalaku bagai dipukul beton yang siap memecahkanku. “Cahaya!?” kini suara itu terdengar mulai panik dan khawatir, lama-kelamaan pandanganku mulai buran dan seketika semuanya menggelap.

 .

   Aku diam seribu bahasa setelah menerima informasi dari dokter didepanku. “Lalu dok, apa yang bisa kita lakukan?” tanya Kak Surya setengah memekik, dia sama kagetnya denganku. “seperti yang saya bilang tadi, kanker otak yang diderita Cahaya sudah memasuki stadium 3 dan kemungkinan untuk sembuh kecil meski ada beberapa prosedur yang bisa kita lakukan,.. salah satunya dengan kemo terapi” jelasnya. “tapi ini akan memakan waktu yang sangat lama, mengingat kondisi adik anda yang semakin hari semakin memburuk” lanjutnya, aku sungguh tak dapat mengatakan apapun. Tatapanku kosong, apa ini nyata?Aku didiagnosa menderita kanker otak stadium 3 dan keadaanku semakin memburuk, apa ini juga bentuk kasih sayang Tuhan untukku?Atau malah dia membenciku?


Next : Cahaya Untuk Mentari PART II

Diberdayakan oleh Blogger.