Selamat Datang di penadiksi.com

[Cerpen] Cahaya Untuk Mentari PART II - Pena Malam

       

 Sumber Foto : Freepik.com

 

 

 

Sebelumnya : Cahaya Untuk Mentari PART I


   Aku tau kak Surya sangat terkejut, aku dapat melihat itu dimatanya. Perasaan khawatir dan takut itu begitu jelas terlihat olehku. Aku bersyukur setidaknya masih ada anggota keluargaku yang peduli padaku, meski sejujurnya aku mengharapkan tatapan itu ada dimata kedua orang tuaku. “Cahaya,..” gumam kakakku lirih, aku meliriknya aku tau apa yang ingin dia katakan. Dia ingin mendengar keputusanku, dan aku tak tau harus melakukan apa. “Sebaiknya kita pulang kak” jawabku mengalihkan pembicaraan. Kak Surya tampak mengerti dan memapahku untuk berjalan bersamannya.

   Aku memantapkan hatiku untuk menemui kedua orang tuaku, setelah berfikir panjang dan inilah keputusanku. Kudengar teriakan marah kak Surya, ahh..dia terlalu menyayangiku hingga harus menentang kepergian orang tuaku hari ini. “Apa kalian tak menyayangi kami lagi? Baiklah jika kalian tak menyayangiku, tapi setidaknya kalian sayangi Cahaya,.. dia sedang menderita sekarang” berangnya, ayahku tampak menautkan alisnya heran. “apa maksudmu Surya?” Kak Surya terkekeh “inilah akibatnya jika kalian terlalu sibuk dengan urusan kalian sendiri” ucapnya sinis “Cahaya adikku mengidap penyakit kanker otak stadium akhir dan dia harus melewati semuanya sendiri sekarang” lanjutnya.

   Ayah dan ibuku tampak sangat terkejut, matanya menatap Kak Surya dengan tatapan seolah berkata “jangan bercanda karena ini sungguh lelucon yang tak lucu”. “Lihat?kalian terkejutkan? sekarang apa yang akan kalian lakukan? akan tetap membiarkan anak kalian merasa sendiri seperti biasanya?” tanya Kak Surya datar. Mereka bergeming tak mengatakan sepatah katapun.

   Aku berjalan perlahan menghampiri mereka yang langsung mengalihkan pandanganya dari lantai. “Cahaya” gumam ibuku lirih seraya menghamur kepelukanku. Aku memejamkan mataku dalam-dalam. Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa merasakan pelukan ini lagi. “maafkan ibu nak” isaknya, aku tersenyum senang dan membalas pelukannya. “sayang, kamu harus segera ditangani, ayah tak ingin sesuatu yang buruk menimpamu” ujarnya. Aku melapas pelukan ibuku dan menggeleng, membuat tiga orang didepanku keheranan. “keputusanku sudah bulat,..aku tau hidupku tak lama lagi, aku sadar semua tak akan berjalan baik, dan aku ingin semuanya berjalan seperti yang seharusnya.. aku tak akan menjalani kemo, aku akan menyerahkan semuanya pada Tuhan” isakan ibuku bertambah keras dan kini ayah dan kakakku juga tak dapat menahan air matanya.

   Ah senang rasanya bisa kembali kesini, tempat penuh kenangan bersama sahabat terhebat. Aku hanya dapat menadangnya, gadis berambut pirang yang begitu cantik. "Cahaya?" merasa terpanggil akupun bergumam menjawab. "bukakah suasana disini menangkan? Begitu tenang dan... Nyaman bagaimana cuacanya apa secerah yang kubayangkan?"

   "Ya begitulah, sanga tenang dan nyaman, langit biru berhiasa awan itu begitu menakjubkan, ditambah hamparan rumput hijau dengan bidadari cantik dan baik hati berada disampingku sempurna sekali jawabku. Terdengar tawa renyah kami, yaa.. dia menganggap aku bercanda tapi nyatanya tak sepenuhnya begitu.

   "Jadi bagaimana keluargamu? Aku yakin kak Surya adalah kakak terbaik di dunia jika kau katakan dia membuatkanmu cup cake lagi" ujarnya dengan sisa tawa, aku mengangguk dan mulai bercerita keseharianku setelah beberapa hari tak menemuinya. Mulai dari membaiknya hubungan keluargaku dan betapa manisnya kakak lelakiku.

   Aku terus berceloteh hingga tak terasa matahari mulai turun dari singgasananya, rupanya cukup sampai disini dulu kenangan yang harus kuingati.

   Tuhan jika ini waktunya, ambilah aku segera. Sungguh aku sudah tak dapat menahan nyeri dirnepalaku, aku tak lagi ingin bercermin, entah kemana rambut indahku hingga aku terlihat begitu menyeramkan. Tubuhku bagai tulang berbalut kulit, bukannya ingin dikasihani, aku hanya perlu mengingatkan diriku sendiri waktuku tak lama lagi. ssshh" ringisku saat merasakan denyutan dikepalaku.

   Tok tok tok

   Aku melirik pintu mahoni disampingku.

   "Siapa?"

   Diam sesaat sebelum terdengar suara bas penuh.

   kepasrahan dari kak Surya

   "Boleh kakak masuk?" aku tak menjawab, hanya mengangguk meski kakakku tak dapat melihat.

   Pintupun terbuka, menampilkan tubuh tegap kak Surya dan tubuh mungil seorang gadis yang begitu ku kenal, Mentari. "Kakak akan tinggalkan kalian berdua" ucapnya sebelum berlalu.

   "Cahaya?!"

   "Kemarilah Mentari" panggilku seceria mungkin. "Bagaimana keadaanmu? Beberapa hari ini. 

"kita jarang bertemu aku takut terjadi sesuatu padamu"

 Aku terdiam, sungguh malaikat tak bersayap. Sebenamya aku sedang kurang sehat, tapi sekarang sudah membaik Mentari tampak menghela nafas, aku tersenyum tipis dan mulai berceloteh. Aku tak ingin dia lebih khawatir lagi, aku terus bercerita hingga nyeri itu kembali datang dan membuatku meringis.

   Tatapan khawatir itu sungguh menyiksaku, kurasakan tangannya yang menggenggam tanganku mendingin. Sebegitu khawatirkah dia? Sungguh Mentari hentikan ini, kau akan membuatku semakin berat tuk pergi. "Apa masih terasa pusing?" entah sudah berapa kali pertanyaan itu terlontar darinya. "Tidak, aku hanya butuh istirahat" jawabku pelan.

    Entah aku harus bersyukur atau tidak karena dia tak bisa melihat keadaanku sekarang.

   "Apa kamu yakin akan baik-baik saja?" aku menghela nafas lelah dan langsung memeluknya erat "Lebih dari baik, kamu bisa tinggal jika mau" ujarku. "Maaf, bukannya aku tak mau, tapi akan ada acara dipanti" terdengar nada penyesalan disana, aku hanya terdiam dan mempererat pelukanku. Sejujurnya aku berharap dia bisa tinggal, aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengannya. Tak apa, aku pasti merindukanmu Mentari, aku menyayangimu" kataku yang dibalas pelukan hangatnya.

   Hati Mentari menghangat kala mendengar perkataan ibu panti, Ada donor mata untuknya. Setelah sekian lama bersabar akhirnya gadis itu akan menerima imbalannya. "Lalu kapan aku bisa menerima mata baruku bu?" tanya Mentari antusias. "segera, orang itu sungguh baik sayang, dia bersedia menanggung setengah biaya operasinya, benar-benar menakjubkan Mentari bahagia bukan main, dia ingin terbang saja rasanya.

   Dan sekarang disinilah ia, memejamkan mata menikmati hembusan angin. Saat matanya terbuka bukan lagi kegelapan yang terlihat melainkan indahnya taman yang terhampar dihadapannya. Lebih dari yang selalu dia bayangkan, semuanya terlihat sangat menakjubkan dan sempurna. Hanya satu yang kurang, sahabatnya.

   Sudah hampir dua minggu Mentari tak pernah menemuinya sejak terakhir bertemu. Ada yang mengatakan kalau dia sedang berlibur dan Mentari sangat senang, itu berarti dia sudah baik-baik saja, terlebih dengan keluarganya.


Next : PART III

Diberdayakan oleh Blogger.