![]() |
| Puisi. |
Membasuh Debu di Ambang Pintu-Mu
Di ufuk sana, hilal mulai membujur malu,
Membawa kabar tentang tamu yang agung dan biru.
Namun, kulihat ke dalam dada, ada jelaga yang membatu,
Sisa-sisa khilaf yang menumpuk seiring waktu.
Aku adalah hamba yang tertatih di gang-gang dosa,
Membawa ransel penuh noda, beratnya menyesakkan dada.
Lidah yang acapkali tajam melukai sesama,
Serta hati yang sering lalai, buta akan cahaya-Nya.
Kucoba menyapu ruang batin yang kusam,
Dari dengki yang mengakar dan amarah yang menghitam.
Kutepis riya yang diam-diam menyelinap tajam,
Agar ikhlas bisa tumbuh sebelum malam semakin kelam.
Tuhan, izinkan aku membasuh diri yang hina ini,
Dengan air mata taubat yang luruh dengan murni.
Ramadan sudah di depan mata, hampir menghampiri,
Tak layak kiranya aku bertamu dengan jiwa yang kotor begini.
Biarlah puasa nanti bukan sekadar menahan dahaga,
Tapi juga memuaskan dahaga jiwa akan ampunan-Mu yang tak berhingga.
Bersihkan aku dari sisa-sisa dunia yang fana,
Kembalikan aku pada fitrah, pada suci yang paling nyata.
_"Ya Allah, sampaikanlah kami pada Ramadan dalam keadaan hati yang lapang dan diri yang telah Kau ampuni."_
Purwokerto, 15 Februari 2026
Yeni Purwanti Wardiningsih
Baca Juga Puisi Lain Di Penadiksi :




.png)