Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

[Cerpen] Saksi Sekejap - Egi David Perdana

Sumber gambar : https://pixabay.com/illustrations/cat-moon-window-stars-silhouette-8474233/

Saksi Sekejap 

Genre: Misteri - Thriller Suspense. 


Hari itu, senin, 20 tahun yang lalu, aku pergi bersama beberapa rekanku sesama aktifis lingkungan hidup, kami berangkat menuju sebuah pulau yang jaraknya kira-kira 4 kilometer dari bibir pantai kota seribu.

Waktu itu aku begitu saking semangatnya, aku ingat rekanku yang bernama Wahyono menyemangati kami dan berkata kita tidak boleh menyerah dengan cukong-cukong yang berniat memprovokasi warga untuk menyerahkan daerah mereka yang hijau kepada investor, aku ingat betul kata-katanya itu dan kini setelah sudah memasuki tahun ke dua puluh setelah kejadian aku tak pernah melihat lagi batang hidung Mas Wahyono sampai sekarang ini.

Ada yang pernah melihat mayat Mas Wahyono di buang di sebuah kali besar di sekitar Muara Angke, tetapi orang yang menyebarkan berita tersebut keesokan harinya tidak mau buka mulut kembali, besar kemungkinan orang itu dipaksa tutup mulut. Sebelumnya orang yang menyebarkan berita itu berkata bahwa tubuh Mas Wahyono dibanduli sehingga mudah tenggelam ke dasar dan sulit untuk ditemukan, tapi bisa saja itu adalah tubuh Mas Waludin yang wajahnya mirip dengan Mas Wahyono sebab mereka kakak beradik. Ya kedua kakak beradik tersebut hilang dalam selisih waktu hanya beberapa hari saja.

Baca Juga : [Cerpen] Mengenalmu Adalah Takdir - Intan

***

Aku menatap catatan kecil Mas Wahyono, Ya begitulah aku memanggilnya dengan embel-embel “Mas” karena ia lebih tua 10 tahun dariku, Mas Wahyono memang bukan penyair, bukan pula sastrawan tapi kata-katanya selalu membangkitkan semangat kami para aktifis, biasanya Mas Wahyono menuliskan dulu orasinya kepada kami di secarik kertas dan kemudian membacakannya di depan kami. Ya, ia bukan tipe orator yang mendapatkan ide di kepala secara tiba-tiba tetapi harus memikirkannya terlebih dahulu, kalau dia sedang tidak ada kata-kata untuk diorasikan dia memilih diam dan menyerahkan orasi pada yang lain, toh banyak juga aktifis yang sama baiknya bahkan lebih baik cara berorasinya ketimbang Mas Wahyono, itulah yang selalu ia katakan kepada kami jika ia menolak untuk berorasi.

***

Dan pagi ini, hari senin, tepat sudah dua puluh tahun setelah kejadian hilangnya Mas Wahyono, Facebookku diadd oleh orang yang sangat mirip dengan Mas Wahyono.

Dalam profilnya tubuh orang yang mirip pria yang ku kagumi tersebut namun terlihat lebih gemuk dan tatapan matanya terlihat kosong, rambutnya awut-awutan dan ia menunjukan senyum yang dipaksakan, kelihatannya orang tersebut mengalami gangguan jiwa.

Latar dari foto orang yang mirip dengan Mas Wahyono hanyalah sebuah tembok putih dan foto tersebut diambil dengan sebuah handphone jadul, hal itu terlihat dari tidak jelasnya foto orang tersebut di facebook.

Dan dilihat dari temannya di facebook dia baru mempunyai 1 teman yaitu aku, aku pun semakin penasaran.

Baca Juga : [Cerpen] Tegalsari - Sega Dwi Ayu Pradista

***

Kemudian aku mengirimkan pesan pada orang yang menggunakan akun nama “Petir Menggelegar” tersebut, aku bertanya padanya tentang tempat dimana dia tinggal dan siapa namanya, tapi dia hanya menjawab dengan sebuah jawaban yang membingungkan.

“Nanti aja, mas. Banyak orang disini” 

Aku bingung maksud dari kata-kata orang tersebut, banyak orang? Maksudnya banyak keluarganya atau teman-temannya? Lagipula aku hanya menanyakan nama dan alamat, tidak mungkin keluarga atau teman-teman orang tersebut mempermasalahkannya.

"Loh kenapa, mas? Saya kan hanya nama masnya?” tanyaku.

Tetapi ia malah menjawab,

“Bukankah kenyataan adalah apa yang bagi diri kita sendiri telah lihat dan kita anggap itu benar? Bagaimana kalau orang-orang di sekitarmu bagian dari ketidaknyataan itu?”

Aku pun bingung, aku bertanya apa maksudnya dia mengatakan hal tersebut tetapi kali ini orang itu tidak menjawab dan setelah aku cek orang tersebut telah menghapus pertemanannya denganku.

Aku pun langsung berinisiatif melacak ip-nya karena kebetulan aku tahu tekniknya karena pernah belajar teknik jaringan di Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto. Setelah beberapa jam akhirnya aku mendapatkan alamat ip-nya sekaligus menemukan isp-nya dan ternyata sama dengan isp berlangganan internetku.

Baca Juga : [Cerpen] Hashweh Omar - Uli Nasifa

Aku diam mengamati alamat ip-nya kemudian beralih ke isp-nya, kalau isp-nya sama berarti orang tersebut ada di dalam wilayah dalam jangkauan layanan provider internet yang sama denganku, aku pun langsung bertanya pada provider internet berlangganku via telepon, namun pihak provider tidak mau memberitahu nama dari pemilik ip tersebut dengan alasan privasi dan setelah aku ungkapkan alasanku menanyakan siapa pemilik ip tersebut dan ada sangkut pautnya dengan Mas Wahyono, si operator langsung memutus telepon tiba-tiba.

Sebelum ia memutuskan telepon terdengar suara orang yang aku kenal sedang membentak operator tersebut. Ya, suara itu adalah suara Sutono salah satu kawanku dan Mas Wahyono, ia juga seorang aktivis.

***

Aku segera berdiri dan berniat pergi ke rumah Sutono, aku mulai curiga jangan-jangan dialah salah satu dalang dibalik hilangnya Mas Wahyono dan Mas Waludin. Sutono yang setelah berhenti menjadi aktivis sempat bekerja sebagai karyawan di salah satu media cetak paling dihormati di Jakarta yaitu Jakarta Post dan setahun kemudian masuk dinas pariwisata lalu kini berpolitik tersebut memang patut dicurigai, karena sejak dulu rasanya dia sentimen terhadap Mas Wahyono dan Mas Waludin.

***

Seorang satpam yang dulu juga adalah rekanku yaitu Bejo menghampiriku dengan senyum lebar dan menyapaku.

“Kemana aja, Fan. Kok baru mampir?” Tanyanya.

“Aku sibuk dengan pekerjaan kebunku” jawabku memberi alasan.

Dan segera saja tanpa basa-basi kutanyai dimana Sutono berada, wajah Bejo sedikit bingung. Ya tentu saja, karena selama ini aku akrab dengan Bejo bukan dengan Sutono, rekan yang kini menjadi bosnya.

Baca Juga : [CERPEN] Gadis Rambut Pirang - Fathul Mubin

“Beliau sedang pergi rapat.” jawabnya.

“Dengan salah satu perusahaan telekomunikasi?” tanyaku keceplosan.

Raut wajah Bejo tidak berubah dan aku tidak sadar bahwa sikap cueknya itu akan menjebakku dan menjadi penentu takdirku, aku pun berpamitan pada Bejo, aku mengucapkan salam sebagaimana seorang muslim mengucapkan salam ke sesama muslim lainnya kemudian pergi berlalu.

***

Sesampainya di rumah aku langsung mencoba membuka akun facebook orang yang mirip dengan Mas Wahyudin dan betapa terkejutnya aku setelah mendapati orang itu telah memblokirku, aku mencoba membuka akunnya dengan melogout terlebih dahulu akunku sehingga aku bisa melihat akunnya melalui non-akun, namun sepertinya akun orang tersebut diprivate dari orang-orang yang belum berteman dengannya, akibatnya aku pun tidak bisa menambahkannya sebagai teman.

Di dalam info tentang orang tersebut hanya ada data bahwa orang tersebut kelahiran Solo, itu tempat kelahiran Mas Wahyono, aku semakin yakin bahwa orang misterius tersebut adalah Mas Wahyono, meski aku benar-benar belum yakin sepenuhnya.

“Ah sudahlah lebih baik aku langsung tanyakan pada Sutono” pikirku dalam hati.

Aku segera berpakaian dan tidak lupa pula sebuah pistol aku masukan ke dalam balik bajuku untuk berjaga-jaga.

Saat akan berangkat kulihat istriku yang sedang menyusui putri bungsu kami, Alisa, yang masih berusia 4 bulan, ia terlihat menyusui dengan penuh rasa keibuan, aku rasa dialah istri sekaligus ibu terbaik di dunia dan beruntung aku bisa meminangnya, kulihat senyumnya yang tulus ketika menatap Alisa kecil yang sedang menyusu kepadanya, aku tidak tahu apakah ini adalah terakhir kalinya aku melihat wajah istriku.

Baca Juga : [Cerpen] Perjalananku Bersama Hijabku - Lusi Rahmawati

Aku berangkat setelah berpamitan dengan ibuku sambil menangis dan memeluknya, tentu saja beliau merasa heran dan menanyakan apa yang sebenarnys terjadi, tetapi aku bungkam dan aku pun pergi meninggalkan rumah. Meninggalkan ibu, istri dan anakku. Ya, aku hanya berpamitan pada ibuku karena tidak kuat mental untuk berpamitan dengan istri dan putri kecilku.

***

Aku melihat Bejo masih berjaga dan belum diganti, betul juga sekitar satu jam lagi dia baru diganti, pikirku. Aku pun langsung menghampirinya, aku menghampirinya bukan tanpa rencana, aku sudah merencanakan sebuah rencana yang bagiku sudah matang.

Aku pun berjalan dengan santai dan dari kejauhan kusapa Bejo.

“Woy, Jo! boleh nggak nih gabung sama kamu nonton tivi?” Sapaku.

Bejo melihat ke arahku dan menyapa balik, acara yang dia tonton di sebuah televisi berukuran kecil di dalam ruangan kecil tempatnya bertugas dia abaikan, dia pun menghampiri dan memelukku.

“Eh mau mencari Pak Sutono, ya?” Tanyanya.

Aku sama sekali tidak merasa curiga dengan pertanyaan Bejo yang sebenarnya adalah blunder dan bisa menyelamatkan takdirku, kujawab saja dengan santai pertanyaan mantan rekan aktifisku tersebut.

Baca Juga : [Cerpen] Kado Spesial Untuk Kak Aldi - Siti Khusnul Shoffiyah

“Aku cuma ingin main saja, nonton bareng sama kamu, bahas yang seger-seger” jawabku menyembunyikan tujuan.

Sebenarnya aku mual ketika setiap kali Bejo memanggil Sutono dengan tambahan “Pak.” di depan nama Sutono, padahal dulu Sutono dan Bejo adalah teman sesama aktifis dan Bejo malah lebih tua 4 tahun darinya.

***

Aku pun ngobrol ngalur ngidul dengan Bejo, aku terus berbasa-basi namun basa-basiku itu memang aku rencanakan dan arahkan demi bisa memuluskan rencanaku, kami mengobrol dengan akrab sambil menghisap rokok kemudian aku memanfaatkan kesalahan kecil yang selalu Bejo lakukan terhadap kawan-kawan yang mengunjunginya, yaitu lupa menyuguhkan minuman.

“Eh kok aku gak dibuatkan minum, Jo?” sambil pura-pura bercanda, menepuk-nepuk pundak Bejo.

“Oh, maaf. Mesti loh aku kelupaan.” Bejo berlari masuk ke dalam rumah.

“Teh atau kopi, Fan?” tanya Bejo dari kejauhan.

“Teh aja.” jawabku.

Dan di saat Bejo masuk untuk meminta Bi Arum untuk membuatkan secangkir teh, secepat kilat aku langsung memasukan obat tidur dosis tinggi ke dalam kopi miliknya.

Bejo kembali dengan membawakan teh hangat kemudian kembali mengajakku ngobrol, nampaknya tidak ada sama sekali kecurigaan di hatinya, kami pun ngobrol ngalur ngidul dan aku pun mencemooh Sutono dalam hati.

“Rumah luas kenapa satpamnya Cuma dua, giliran lagi. Tolol!”

Dan saat yang aku tunggu pun tiba, Bejo menyeruput kopinya yang tinggal setengah itu, beberapa menit kami sempat mengobrol dan Bejo rubuh, aku melihat Bejo tertidur dengan posisi tertelungkup, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan, langsung saja aku masuk ke dalam pekarangan rumah Sutono, aku percaya Mas Wahyono disembunyikan di salah satu pekarangan si brengsek Sutono yang luas.

Baca Juga : [Cerpen] Mimpiku Bersama Sahabat - Siti Khusnul Shoffiyah

***

Aku terus mencari, aku mencari dengan seksama bahkan setiap rerumputan aku sibak, siapa tahu ada ruangan bawah tanah, aku pun terus memanggil nama Mas Wahyono karena aku tahu hanya ada Bi Arum di dalam rumah dan dia penyandang tuna rungu serta tuna wicara.

Aku memanggil-manggil Mas Wahyono dan tiba-tiba saja “Door..Door...Door...Door...Door.” aku ditembak lima kali tepat di bagian punggungku dan aku tahu malaikat maut pun siap menjemput.

Di tengah-tengah kesadaranku yang mulai hilang, di tengah sakaratul mautku, aku mendengar suara Mas Wahyono yang menangis dan meminta maaf padaku.

Dari kejauhan kulihat beberapa jenderal dan mantan jenderal yang di televisi terlihat saling bermusuhan, beberapa politikus dan mantan politikus, rekan-rekanku sesama aktifis termasuk Sutono, pemilik utama Jakarta Post, beberapa orang dari provider internet berlanggananku, Bi Arum, dan istri serta ibuku tertawa terbahak-bahak dari balik jendela melihatku perlahan-lahan meregang nyawa.

Kulihat juga disana Mas Waludin sedang menatapku sedih, sebuah senjata laras panjang ditodongkan oleh beberapa orang dengan tampang sangar ke kepalanya dan aku bisa melihat gerak bibirnya yang mengucapkan maaf.

Baca Juga : [Cerpen] Buka Puasa Bersama - Uli Nasifa

Aku kini sadar bahwa semua yang aku alami hari ini sudah mereka rencanakan, bahkan istri serta ibuku yang sangat aku cintai pun terlibat, aku pun kembali teringat jawaban membingungkan dari Mas Wahyono di Facebook, apalagi kini kulihat istriku itu sedang berciuman dengan Sutono dan ia tak rikuh meraba-raba kemaluan Sutono yang mulai tegang.

Ya, ternyata semua sudah direncanakan, mereka merencanakan rancangan yang sangat jahat kepadaku. Tiba-tiba dari kantong bajuku jatuh sebuah tanda pengenal dan disitu tertera nama Tofan Abdurahman, bakal calon presiden Republik Indonesia, bakal calon independen.

Aku baru ingat, aku yang ternyata penderita lupa ingatan jangka pendek ini tengah merencanakan mencalonkan diri sebagai presiden demi memuluskan salah satu ambisiku menemukan rekan aktifisku yang hilang, dan aku sangat vocal dengan masalah hilangnya Mas Wahyono dan juga Mas Waludin.

Aku menjadi saksi sekejap misteri negeriku yang tertutup selama 20 tahun dan aku mati tertelungkup di kebun milik Sutono. Ya, aku sama sekali tak menyangka. Hidup ini memang penuh kejutan.

Diberdayakan oleh Blogger.
close