Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

Budaya Peci Miring - Karim Amirudin

Sumber gambar : https://pixabay.com/vectors/pen-washes-tail-bird-zoo-nature-1674883/

Dalam tatanan culture santri, kita akan menemukan banyak perilaku dan kebiasaan yang berbeda dengan kebanyakan orang. Mulai dari cara ber-outfit yang menggambarkan sebuah kesederhanaan dan cara bersosial emansipasi dan simpati yang sangat tinggi. Dengan adanya sikap kesederhanaan yang bersemayam dalam jiwa mereka, maka akan terbentuk sebuah kesetaraan personal sehingga dapat menafikan marjinalisasi antar orang-orang  tingkat atas terhadap orang-orang tingkat bawah. Dengan eksistensi kesederhanaan ini, juga akan timbul hubungan harmonis, membentuk tali persaudaraan  yang sangat erat. karena tujuan mereka sama, yakni Sama-sama ingin bisa, menguasai dan mempraktikan syariat yang telah didapat sebagai alat untuk berdakwah kepada masyarakat ‘awam, intinya untuk syi’ar islam kepada mereka. Lepas dari itu, walaupun dengan tujuan yang sama, nalar logika santri itu juga berbeda-beda. Hal ini bisa di telisik melalui kebiasaan santri yakni mengaji dan mengkaji beberapa karya ‘ulama’ salaf maupun bentuk karya dari para aktivis islam yang menarasikan karya – karya mereka (kontemporer).

Baca Juga : Pesantren dan Akulturasi Jawa - Moch. Karim Amirudin


Pembahasan kali ini akan terfokus pada figur outfit santri yang nantinya akan mempengaruhi tingkah kesadaran terhadap penalaran disiplin ilmu pesantren. Kok bisa? Kronologi yang mashyur berada di pesantren salaf maupun semi salaf pada baru – baru ini atau sudah lama ada namun belum terdeteksi keberadaannya adalah “budaya peci miring”. Budaya peci miring adalah kebiasaan yang sering di praktikkan olah para santri kritikus kitab sebagai wujud pengakuan terhadap perbedaan antara santri “ngalim” dengan santri biasa Kita yang notabenya merupakan para kaum sarungan, sering berkerumun dengan mereka pasti pernah melihat hal itu. Dan pastinya kaum peci miring akan selalu berkeliaran di sekitar kita. Anggapan dari kebanyakan santri kamistlina akan menginterprestasikan bahwa mereka pasti orang-orang kritis dalam penalaran kitab kuning. Dan secara reflek fikiran kita akan berprasangka mereka merupakan orang – orang yang memiliki kecakapan ilmu agama yang tinggi apalagi ilmu fiqih yang sering sekali di buat bahan untuk diskusi, mereka juga pastinya memiliki banyak ‘ibarot yang natinya akan di buat untuk i’tirod pada pembahasan kurang di kenan oleh mereka. Akhirnya,  santri – santri akan merasa insecure dengan mereka, kaum peci miring hanya dengan perawakan mereka.

Baca Juga : Literasi Baca Tulis - Uli Nasifa


Anggapan yang selama ini kita klaim terhadap kaum peci miring, tentang ke-aliman mereka, tentang wawasan serta banyaknya tela’ah kritis kitab salaf maupun kontemporer itu tidak tentu bisa di benarkan. Menimbang maraknya sekarang peci miring hanya dibuat untuk formalitas semata “bene kethok lek kerep sinau” begitu istilah jawanya.masalah kualitas dan kuntitas ternyata hanya nol. Namun bukan berarti untuk menjadi seseorang yang mampu memahami banyaknya kitab dengan berbagai macam fan ilmu kita tidak harus meniru tingkah laku peci miring. Malahan tuntutan sekarang di era yang penuh dengan ambisi kompetitif ini kita sebagai santri harus berakumulasi dengan banyaknya orang yang ada di luar sana. Bercampur aduk dengan orang-orang luar tidak harus menampakkan jati diri santri secara totalitas tapi yang lebih di perioritaskan penampilan yang serasi  dengan mereka asal sopan dan sedikit demi sedikit , gesah demi gesah, ngopi demi ngopi kita perkenalkan syari’at islam tanpa memberatkan secara berlebihan . penampilan yang di kehendaki adalah kerapian agar tidak membuat ilfeel.

Baca Juga : Bahasa, Ejaan, Huruf dan Kata Baku [Materi 2 Kelas Menulis Penadiksi]


Hal tersebut sangatlah berbanding terbalik dengan kaum peci miring. Tidak ada nilai kerapian sama sekali di dalamnya. Dan mungkin selama masih berada di kawasan santri, kaum peci miring akan di anggap biasa saja namun setelah berkerumun dengan masyarakat apakah itu bukan merupakan suatu hal yang ambigu?. Tapi di sini tidak menyalahkan yang namanya peci miring karena itu sudah menjadi hukmul ‘adat seperti tokoh kyai NU blambangan KH. ABDUL LATHIF SUDJAK era pemberontakan PKI tahun 60-an (dalam dokumentasi buku yang berjudul manunggaling NU banyuwangi) dalam foto formal yang di ambil saat itu beliau mengenakan kopiah hitam miring . tapi bukti secara konkrtet bahwa beliau memang seorang kritikus islam apalagi dalam hal syari’at islam memang keciamikannya perlu di akui. Dan kita, Ketika menilai orang -orang yang ihktilaf dengan dengan cara outfit yang berlaku pada umunya kita tidak bisa menilai secara luar akantetapi kita harus menilai dari dalam melalui pengaruh yang sudah di ciptakan oleh beliau dalam menegakkan kebenaran istilahnya “wong ngalim iku lebaran."

Baca Juga : Nggumbregi, budaya yang sudah menjadi tradisi tahunan


Pada kesimpulannya kita sebagai santri harus menampilkan sosok yang rapi dan praktis Ketika berada di masyarakat. Jangan sampai apa yang telah kita dapat dari Lembaga pesantren khususnya ilmu-ilmu agama yang wajib di syi’arkan bagi yang mempelajarinya tidak dapat berakumulasi dengan masyarakat hanya karena penampilan yang menampilkan sosok yang kumuh. Dalam kasus peci miring jika memang keterusan menjadi sebuah cultur, Ketika hidup di masyarakat yang kebetulan memiliki sifat overthinking yang luar biasa dalam masalah penampilan maka bersiaplah rasan-rasan akan siap menjadi makanan keseharian karena kita yang menjadi objek penilaian bukan orang yang menilai.

Diberdayakan oleh Blogger.
close