Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

Garis Merah : Buku Gurunya Manusia Karya Munif Chatib - Bagian 1

sumber gambar : https://pixabay.com/id/vectors/guru-pertemuan-buku-membaca-23820/
Garis merah adalah segmen artikel yang penulis buat dengan konsep membagikan catatan-catatan penting mengenai pembahasan sebuah buku yang penulis baca. Segmen ini dibuka dengan bacaan pertama yaitu buku tema Pendidikan karya Alm. Bapak Munif Chatib yang berjudul Gurunya manusia. Pembaca bisa nantikan segmen garis merah selanjutnya dengan pembahasan yang berbeda.

Baca Juga: Agar Hidup Lebih Produktif (Pentingnya Manajemen dan Filsafat Manajemen)

Menjadi Gurunya Manusia

Pendidikan merupakan jembatan bagi setiap insan untuk mendapatkan haknya dan memenuhi kewajibannya, semua berkaitan dengan ilmu. Guru memiliki peran penting untuk keberlangsungan Pendidikan. Dalam prosesnya guru terjun secara langsung dan formal dalam membagikan ilmu di tempat yang kita sebut dengan sekolah. Sekolah atau kelas merupakan wahana untuk memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya melalui proses belajar.

Belajar bukan hanya di lakukan oleh siswa atau murid, melainkan juga oleh guru yang merupakan pendidik di kelas. Dalam buku gurunya manusia ini munif chatib menyampaikan bahwa seorang guru tidak boleh berhenti belajar. Hal ini karena proses belajar merupakan kunci penting untuk 3 hal penting yang harus dikuasai guru, yaitu paradigma, cara, dan komitmen.

Paradigma berkaitan dengan pengetahuan atau cara berpikir guru mengenai konsep ‘belajar’. Paradigma akan membentuk "cara" yaitu apa saja yang digunakan atau dilakukan guru dalam proses belajar, "cara" ini berkaitan dengan katerampilan guru tentang bagaimana dia mengajar. Selanjutnya, adalah komitmen, seorang guru yang berkomitmen akan mengikat aspek paradigma dan cara dengan baik dan konsisten, komitmen ini akan tercermin dari sikap atau prilaku guru. pada akhirnya 3 aspek ini perlu diselaraskan. Terdapat beberapa hal yang perlu ditanamkan dari seorang gurunya manusia,

Menanamkan pemikiran bahwa setiap anak adalah juara

Guru mengajar dengan hati

Siswa adalah manusia, makhluk yang memiliki keunikan, kelebihan, dan kekurangan masing-masing. Guru akan membentuk anak manusia yang setiap hari berkembang, maka butuh penyesuaian dan proses yang tidak sebentar dalam belajar mengajar. Guru harus dapat melihat siswa dari sudut pandang terbaiknya, setiap proses belajar tidak dapat dipaksakan.

Guru perlu memahami kemampuan dalam arti luas.

Kemampuan menurut Benjamin S. Bloom terbagi atas 3, yaitu

a.      Kemampuan kognitif yang menghasilkan keterampilan berpikir.

b.      Kemampuan psikomotor yang menghasilkan kemampuan berkarya.

c.       Kemampuan afektif yang menghasilkan kemampuan bersikap.

Baca Juga: Pendidikan Anak Berbakat, Sudahkan Sesuai yang Diharapkan? Mari Renungkan

Terus menjelajah kemampuan siswa

Gurunya manusia harus menjadi katalisator, yaitu pemantik kemampuan siswa. Guru harus terus berusaha menggali potensi siswa. Kegiatan ini dikenal dengan istilah discovery ability yaitu Upaya yang dilakukan untuk menelusuri kemampuan siswa. Tempatkan pondasi atau pemikiran siswa pada kelebihan positif yang dia miliki sehingga siswa percaya pada bahwa dia bisa dan mampu melakukan sesuatu.

Mengajar dengan cara yang mengenangkan

Mas Hernowo membaginakn konsep belajar CTL (Contextual Teaching and Learning) yaitu seuah system belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa seornag pembelajar akan mampu menyerap materi jika mereka dapat menangkap makna pelajaran tersebut. Biasanya makna pelajaran akan didapatkan ketika melibatkan gerak anggota tubuh (kecerdasan psikomotor). Banyak cara mengajar menyenangkan yang melibatkan psikomotor siswa, dan secara teoritis cara belajar seperti ini tergolong efektif.

Gurunya manusia adalah fasilitator

Guru sebagai fasilitator bagaikan teko yang penuh dengan air, yang menyirami tanaman bukan menyiram cangkir. Tanaman adalah benda hidup yang diibaratkab sebagai siswa, sehingga jika diberi air akan tumbuh dan berkembang. Sedangkan cangkir adalah benda bmati, yang apabila disiram air cangkir akan terlalu penuh dan berakhir tumpah. Siswa bukanlah cangkir, karena siswa adalah makhluk hidup dan berkehidupan layaknya tumbuhan yang akan tumbuh dan berkembang.

Proses belajar bukan interaksi satu pihak, melainkan interaksi dengan banyak pihak yang berkaitan dengan proses belajar. Ada guru, siswa, dan lingkungan sekitar. Seringkali guru hanya menggunakan metode ceramah dalam belajar, dan melupan berbagai aspek pendukung penting lainnya terutama siswa. Bab ini diakhiri dengan statmen dari bapak Munif Chatib, yaitu jika guru hanya mengajar degan metode ceramah. Siswa hanya mendapat satu sisi uang logam, yaitu ‘tahu apa’. Namun, jika siswa yang belajar dan ikut aktif dalam pembelajaran, akan mendapat dua sisi uang logam yaitu, ‘tahu apa’ dan ‘bisa apa’.

Baca Juga: Hakikat Manusia-Rizka Awaliah

_____________________

Rizka Awaliah
Mahasiswi Insitut Ummul Quro Al-Islami Bogor
awaliahrizka105@gmai.com


Diberdayakan oleh Blogger.
close