Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

[Cerpen] Terhanyut dalam Pengajian - Aden Lailatul Qodri

sumber foto : https://pixabay.com/id/photos/laut-ombak-sunrise-senja-1867285/
Angin sejuk bertiup dari belakangku, aku rasakan seakan ada kesejukan menjalar ke sekujur
tubuhku, semua anggota badanku berasa dingin karena angin ini. Lamunanku mulai berkembang
bersama sapuan hembusan angin ini.

“rim, kapan kau akan pulang?” kata zulaykha dari bawah mengingatkanku.

“sebentar, aku bahkan tidak berfikir pulang, untuk apa aku pulang?”

“setidaknya kabari dulu ibumu agar tidak cemas menunggumu”

“kurasa tak perlu berkabar, dan tak akan ada yang cemas.”

“yasudahlah terserah kau saja.”

Zulaykha pun berlalu tanpa bertanya apapun padaku. Seharian aku hanya bertengger di atas
rumah pohon ini, hanya membayangkan segala kenangan masa lalu yang indah dan impian masa
depan yang cerah, waktupun terus berjalan dan aku terbangun, ternyata tanpa kusadari waktu
telah hampir sore, disitu udara sudah berasa sangat dingin, Akupun pulang. Setibanya aku di
rumah.

“darimana kamu rima, sejak pagi pergi baru pulang sore ini?” suara ibu dari halaman belakang
menyapaku, dengan tatapan sinis aku katakan padanya.

“dari mana-mana, jangan banyak bertanya ibu tidak tau apa-apa”

Ku lihat ibu mengelus dadanya dan memalingkan wajahnya, entah tawa atau luka yang ingin
disembunyikan dariku, namun aku tetap pergi berlalu tanpa sedikitpun kata aku sampaikan.

Aku pergi ke kamarku aku rebahkan sekujur tubuhku yang serasa mulai lemah, bunyi perutku
bersahut-sahutan dengan bunyi ayam dihalaman rumahku, aku keluar untuk mencari makanan,
namun tak kudapati apapun. Aku heran dimana ibu menyimpan makanannya. 

“thok,thok,thok” tiba-tiba terdengar suara pintu terketuk dari luar. 

Akupun pergi ke depan melihat siapa yang datang. Ku lihat ayah datang sambil menenteng tas hitamnya itu. “ngeek” suara pintu aku buka.

“masuklah ayah sudah terbuka pintumya, apakah tidak ada makanan di rumah?”

“ayah baru saja pulang bukankah kamu bisa mencari di dapur atau tempat lain!”

“tidak”

Ayah mendekatiku namun aku menjauh darinya dengan pergi ke kamar dan mengunci pintu
kamarku. Serasa aku ingin lempar gagang pintu itu dari pintu nya. Setelah beberapa menit aku
mendengar suara ibu bersama ayah. Medengar suara itu aku keluar dari kamar, setelah itu aku
lihat ibu sedang bersama ayah bercerita di halaman belakang. Aku sedikit mendekat mendengar
apa yang ayah katakan pada ibu.

“bu, sabarlah saat menghadapi rima, dia belum tau mana yang benar dan salah, aku juga tau bagaimana perasaanya saat ini menghadapi situasi yang tidak mudah baginya.”

“aku tau memang begitu sulit untuknya, dan aku juga terus berusaha mendekatinya namun, aku
tidak tau apakah dia menerimaku dan akan baik-baik saja.” Jawab ibu

Aku terkaget dengan ucapan ibu, aku pergi tanpa mendengar hal apa yang masih dibicarakan
ayah dan ibu mengenai diriku, di dalam kamar aku terus merenung, aku berfikir mengapa mereka
membicarakanku, dan apa yang terjadi setelah aku menerima ibu.

“thok,,,,thok,,,,thok” kudengar suara ketukan pintu kamarku mengagetkanku, diiringi dengan
suara ibu.

“rim, segera bersiap mandi dan bersiap mengaji.”

“ya”

Akupun bergegas bersiap, di ruang tamu ternyata zulaykha dan didin sudah menungguku. Aku
dibuat malu dan kesal karena ibu tidak memberi tahuku.

“baru mandi rim?” tanya didin dan zulaykha bersahutan.

“iya, tunggu sebentar ya” jawabku sambil tersipu malu

“baiklah.”

Selesai mandi aku berpamitan pergi mengaji. Aku, zuleykha, dan didin pun pergi mengaji, dalam
pengajian, bapak zainal membahas pentingnya berbakti pada orang tua, bapak zainal
menerangkan balasan yang diperoleh orang yang berbakti pada orang tua, dan adzab yang
diterima apabila berani dan durhaka pada orang tua, pengajian tersebut berlangsung selama
kurang lebih 30 menit, dalam pengajian itu aku mampu hanyut dalam tausiyah bapak zainal.

Selesai pengajian aku, didin dan zulaykha pulang, sebelumnya aku dan teman—teman
berpamitan dengan ustad zainal, dalam perjalanan pulang didin menyinggung pengajian ustad
zainal tadi, kemudian zulaykha menimpalinya dan aku mulai bimbang dengan apa yang mereka
bicarakan.

“zul, apa benar ya siksa dikubur yang dijelaskan ustad zainal tadi?”

“iya din, bukannya kamu juga mendengarnya tadi, sudahlah fokus ke jalan saja”

“rim, kamu kenapa diam saja, tidak seperti biasanya” tanya zulaykha dan didin

“tidak papa, aku hanya ingin cepat pulang”

“baiklah” timpal didin

Dalam perjalanan pulang sebuah mobil melaju sangat kencang, tiba-tiba saja terdengar suara
brush…. Seketika suara itu membuatku takut, akupun menoleh ke belakang, seorang wanita
mirip sekali dengan ibuku kulihat tertabrak mobil itu, aku segera berlari dengan rasa cemas,
hatiku seakan terhantam batuan besar dan kepalaku rasanya pusing tak karuan.

Baca Juga : [Cerpen] Pulang - Laily Qadarsih

“ibu…..buu,,, apakah ini ibu?” dalam keramaian aku desak orang-orang yang ada di situ, aku
harap bukan ibuku yang tergeletak di atas sebuah aspal hitam.

Ibu itupun diluruskan para warga, aku lihat wajah ibu itu, ternyata wanita itu memang bukan
ibuku, dalam keramaian sontak aku ucap alhamdulillah, para wargapun melihatku dengan
tatapan bingung, aku katakan maaf pak, bu. Saya kira tadi ibu saya, salah satu warga menjawab
tidak apa-apa nak, akupun menjawab terimakasih dan kembali bersama didin dan zulaykha.

Akupun berpamitan dengan didin dan zulaykha ingin segera pulang, merekapun mengiyakan
permintaanku, sesampainya aku dirumah aku cari ibu, namun tak juga aku dapati ibu dimanapun,
dengan hati yang gelisah tiba-tiba sebuah tangan menempel di pundakku, aku sontak menoleh
kebelakang, ternyata ibu berada dibelakangku, segera aku memeluk ibu dan mengatakan sejuta
maafku untuknya. Ibupun menangis dan bertanya padaku.

“apa yang membuatmu tiba-tiba seperti ini rim?, sungguh ibu bersyukur sekian tahun ibu
menunggu hal ini terjadi” sambil mengusap beberapa derai airmata yang masih menetes.

“ustad zainal memberikanku arah mana yang harus aku pilih ibu”

“alhamdulillah” kata ibu dan ayah bersama, kamipun berpelukan layaknya keluarga yang tak
pernah bertemu.

“ibu akan mengadakan tasyakuran kecil, undanglah teman-temanmu dan khususnya ustad
zainal.”

“baik bu” sungguh hatiku serasa gembira, walaupun ibu bukan seutuhnya ibuku namun aku tau
bagaimana kasih sayangnya kini.

Acara tasyakuran pun berlangsung ramai, di acara ini ibu dan ayah berterimakasih pada ustad
zainal, akupun mengerti indahnya bersama dan saling memadu rasa.

Penulis : Aden Lailatul Qodri (Pelajar)
Alamat : Pleret, Bantul, Yogyakarta.

Diberdayakan oleh Blogger.
close