Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

[Cerpen] Pulang - Laily Qadarsih

cerpen pulang - laily qadarsih

Gemercik suara gerimis masih terdengar di pagi yang teduh ini. Suara jangkrik saling bersahutan memecah kesunyian. Sudah pukul 03.00 pagi. Saatnya menyiapkan sahur. Aku pun segera beranjak dari tempat tidur. Pelan-pelan turun dari ranjang yang sudah tak sekokoh dulu.

Kulihat suamiku masih pulas. Sesekali dengkurannya terdengar. Tak tega kubangunkan lelaki yang telah membersamaiku puluhan tahun itu. Nanti saja, saat hidangan sudah siap.

Aku merebus sayur labu siam dan kacang panjang. Menu sahur kami sederhana: rebusan sayur, lalapan mentimun, sambal, dan telur dadar. Di usia yang tak lagi muda ini, kami harus menjaga pola makan. Apalagi aku dan suamiku punya penyakit tekanan darah tinggi.

"Pak, bangun. Sahur dulu. Ibu udah masak." Aku mengguncang bahu suamiku perlahan. Syukurlah, dia langsung membuka mata.

"Iya, Bu. Bapak mau salat witir dulu. Semalam abis tarawih, Bapak ngantuk banget. Belum sholat witir. Ibu makan duluan aja. Takut keburu imsak," kata suamiku.

"Iya, Pak. Hati-hati ke kamar mandinya."

Kami makan sahur bersama sambil menonton tayangan ramadhan di televisi. Suamiku suka sekali menonton drama "Preman Pensiun". Kalau tidak ada suara televisi, rasanya sepi sekali. Apalagi kami cuma sahur berdua.

Kadang aku merindukan suasana ramadhan saat anak-anakku masih kecil. Rumah tak pernah sepi karena dua anakku Rendra dan Nindy.

Anak-anakku semuanya sudah  berkeluarga dan tinggal di luar kota. Pulang setahun sekali saat lebaran. Itu pun kadang tidak setiap lebaran bisa pulang. Aku paham dan tidak memaksakan mereka. Karena nyatanya ekonomi sekarang kian sulit.

Bisa bertahan di perantauan pun sudah bersyukur. Apalagi kebutuhan hidup yang besar di kota kadang tak sebanding dengan penghasilan.

"Bu, udah telepon anak-anak belum? Apa mereka bisa mudik tahun ini?"

"Belum, Pak. Masih seminggu lagi lebaran nya. Mungkin mereka belum ambil keputusan mau mudik atau gak."

"Mudah-mudahan bisa, ya, Bu. Bapak udah kangen banget. Terakhir mudik tahun kemarin aja, Bapak sampai pangling. Desta udah tinggi banget. Apalagi Seira, udah kayak anak perawan aja. " Suamiku terkekeh. Desta dan Seira adalah putra dari Rendra, anak sulungku.

"Iya, Pak, aamiin. Mudah-mudahan Allah mudahkan rezeki kita semua. "

"Aamiin. Ya udah, Bu, Bapak mau ke mushola dulu." Suamiku beranjak demi mendengar adzan subuh berkumandang.

Aku bersyukur suamiku telah jauh berubah lebih baik. Dua puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Kadang, aku bahkan sampai tidak percaya bisa sampai di titik ini.

Dulu, di tahun-tahun awal pernikahan kami, tiada hari tanpa perdebatan. Bahkan, aku sudah berpikir untuk menyerah. Dari mulai saling bertoleransi dengan kebiasaan masing-masing, hingga roda  kehidupan yang kami pikir tak kunjung berubah.

Suamiku hanya seorang pedagang dengan hasil yang cukup untuk makan, tapi sangat sulit untuk menyimpan tabungan. Sementara aku, hanya seorang ibu rumah tangga yang tak punya keahlian. Karena itulah kami sepakat hanya mempunyai dua anak, lelaki dan perempuan. Alhamdulillah, Allah benar-benar kabulkan. Aku sangat bersyukur mempunyai Rendra dan Nindy dalam hidupku.

Dulu, suamiku, jangankan untuk salat berjamaah di masjid, salat di rumah pun harus aku paksa. Itu pun dilakukan dengan terpaksa, karena tak tahan dengan omelanku mungkin.

Aku tak henti berdoa pada Allah untuk membolak-balikkan hati suami agar sadar. Bertahun-tahun kemudian, harapan itu baru terwujud. Setelah bergaul dengan teman yang sering mengajaknya ke pengajian, suamiku pelan-pelan berubah.

***

  "Hallo, Assalamualaikum, Bu. Ini Nindy."

"Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah, Nak … baru aja Ibu pengen telepon kamu. Gimana, kamu sama Evan sehat?"

"Alhamdulillah, Bu. Kami sehat semua. Tapi maaf banget, ya, Bu. Kayaknya kami gak bisa mudik lebaran ini." Suara anakku terdengar menahan Isak. Jujur, aku pun juga kecewa. Kasian suamiku, dia pasti juga akan sangat sedih.

"Bang Evan gak dapet izin cuti dari pabrik, Bu. Karena, kan, tahun lalu kami  sudah dapat jatah cuti mudik lebaran. Tiap tahun harus bergantian dengan karyawan lain karena pabrik tidak boleh stop produksi. Jadi, kemungkinan kami baru bisa mudik bulan depan. Sebulan setelah lebaran."

"Baiklah, gak apa-apa, Nak. Yang penting kalian tetap bisa pulang. Bapak juga udah kangen banget katanya. Gak papa gak kumpul pas lebaran, yang penting bukan depan kita bisa kumpul. Aamiin," ujarku menghiburnya.

"Tapi, kan, jadi gak bisa kumpul sama Mas Rendra dan anak-anak Bu. Aku kangen pengen main sama Seira dan Desta. Apalagi aku, kan, belum dikasih anak, Bu. Sepi banget di sini. Kadang aku pengen tinggal sama Bapak Ibu aja di kampung. Biarin Bang Evan di sini kerja."

"Hust, gak boleh bilang gitu, Nduk. Seorang istri itu harus manut kemana pun suaminya pergi. Sigaraning nyowo. Bapak sama Ibu juga dari dulu,susah seneng sama-sama. Ibu doain, mudah-mudahan kamu segera dikasi keturunan. Aamiin Sabar …  kamu, kan , baru 3 tahun  menikah."

"Aamiin ya Allah. Makasih, Bu. Oh, iya, Bapak mana?"

"Masih dagang di pasar, Nin. Tar Ibu aja yang bilang kalo kamu gak bisa mudik. "

"Makasih, Bu. Udah dulu, ya, Bu. Besok Nindy telepon lagi. Assalamualaikum!"

Kututup telepon sambil menghela nafas. Meski kecewa, setidaknya masih ada harapan kalau Rendra bisa pulang. Rumah ini tak akan sepi jika cucu-cucu ku sudah hadir. Ah … baru membayangkannya saja aku sudah bahagia.

Setiap melihat mereka, aku seperti melihat wujud anak-anakku di masa kecil. Tak pernah berhenti bertengkar kalau sudah bertemu, tapi akan saling merindukan jika sudah berjauhan.

Baca Juga :

***

Kadang, tak semua yang kita panjatkan bisa dengan mudah Allah kabulkan.  Harapanku dan suami agar Rendra bisa pulang pun terpatahkan saat ia mengabari tak bisa pulang. Mataku sampai berkaca-kaca ketika dia berkata tak mampu membeli tiket mudik yang harganya naik 4x lipat saat lebaran.

Dulu, saat Rendra masih bekerja di pabrik, THR yang diberikan akan lebih dari cukup digunakan untuk mudik dan berbagi dengan keluarga. Namun, sejak terkena PHK efek dari pandemi, Rendra merintis usaha gorengan di perantauan

"Gak apa-apa, Nak. Yang penting kalian semua disana sehat. Mudah-mudahan dilancarkan rizkinya. Bapak lebarannya berarti berdua aja sama Ibu. Biar kaya pengantin baru lagi, he-he …."

Suamiku berusaha ceria menjawab telepon Rendra, tapi aku tahu hatinya juga sama patahnya denganku. Setelah mengobrol dengan menantu dan  cucu-cucuku, telepon pun ditutup.

Kutepuk bahunya pelan-pelan untuk menguatkannya. Kami pun tersenyum sambil sama-sama berkaca-kaca.

"Bu, Bapak sebenarnya takut kalau lebaran tahun ini adalah  lebaran terakhir Bapak. Kita kan sudah semakin menua, siapa yang jamin kalau lebaran tahun depan kita masih dikasih umur sama Allah, Bu?"

" Aduh … Bapak jangan ngomong gitu. Bapak itu masih kuat, sehat. Buktinya masih bisa kerja buat Ibu. Insya Allah, kelak umur kita panjang sampai punya cicit yang banyak he he. Aamiin."

"Aamiin. Tapi Bapak juga sedih kenapa kita gak bisa kirim uang ke anak kita buat ongkos mudik, ya, Bu. Coba kalau Bapak punya uang banyak …."

"Sabar, Pak, sabar … Insya Allah rezeki kita akan dicukupkan. Kita hanya harus terus berdoa sambil berikhtiar. " 

Kami merapal doa agar Allah senantiasa menjaga kami dan tidak mengkufuri nikmat-Nya.

***

Adzan takbir masih sayup-sayup berkumandang. Bau harum opor ayam di dapur juga sudah tercium. Alhamdulillah, tangan rentaku ini masih sanggup untuk memasaknya. Ketupat di meja makan juga sudah terhidang.

"Wah, masak banyak, Bu. Tar Bapak abisin semua, loh, ini." Suamiku masih bisa mengajak bercanda. Mungkin, dia juga ingin menghiburku yang sedari tadi memasak sambil mengusap air mata.

Ah … tak terpungkiri aku sangat merindukan anak-anakku. Ini lebaran pertama tanpa kehadiran mereka berdua. Biasanya, minimal ada salah satu yang pulang.

Aku tahu tak layak jika aku tidak mensyukuri nikmat Allah. Tapi melihat tetangga lain yang bahagia anak-anaknya berkumpul membuatku tak bisa berhenti meneteskan air mata.

" Assalamualaikum, Mbah … Bukain pintu, Mbah! " Tiba-tiba terdengar ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Aku terkejut. Ah … pasti aku hanya berhalusinasi mendengar suara cucu-cucuku.

"Allahu Akbar. Alhamdulillah, kalian bisa pulang?"

Aku tak bisa berkata-kata demi melihat siapa yang datang. Desta dan Seira sudah berdiri di depan pintu dan berhambur memelukku.

Di belakang mereka, berdiri Rendra dan Sari, menantuku, yang langsung mencium tanganku.

"Alhamdulillah, kami kemarin dapat rezeki dapat tiket mudik gratis yang diadakan Dishub, Bu. Jadi ada teman yang mendadak batal mudik karena istrinya ternyata melahirkan lebih cepat dari perkiraan. Masya Allah, kami seneng banget dapat tiket cuma-cuma. Sengaja gak kasih tahu Ibu biar jadi kejutan."

"Ya Allah, Alhamdulillaah …. "

Beberapa menit kemudian, panggilan video call berdering dari ponsel Rendra. Nindy ternyata juga sudah tahu jika Rendra akhirnya bisa pulang.

Kami saling melepas rindu sampai akhirnya layar ponsel memperlihatkan sebuah benda yang diarahkan ke kamera. Dua garis biru yang membuat kami semua tergugu.

Karawang, 23 Februari 2023.

Diberdayakan oleh Blogger.
close