![]() |
| Esai Reflektif. |
MENJAGA JARAK AGAR TETAP WARAS
Ada satu keterampilan yang jarang diajarkan di sekolah, tetapi sangat menentukan kualitas hidup seseorang: kemampuan menjaga jarak.
Kita diajarkan untuk setia, untuk bertahan, untuk memaafkan, untuk mengerti. Semua itu baik. Namun, jarang sekali kita diajarkan bahwa bertahan tidak selalu berarti sehat. Bahwa memaafkan tidak selalu berarti harus tetap dekat. Bahwa mengerti tidak selalu berarti harus terus mengorbankan diri.
Ada hubungan yang membuat kita tumbuh.
Ada juga hubungan yang membuat kita terus mengecil.
Tidak semua orang yang hadir dalam hidup kita ditakdirkan untuk tinggal selamanya. Beberapa hanya singgah untuk mengajarkan batas. Beberapa datang untuk menunjukkan bahwa tidak semua kedekatan membawa ketenangan. Dan beberapa lagi hadir untuk menguji seberapa kuat kita mempertahankan harga diri.
Kita sering terjebak dalam anggapan bahwa mempertahankan semua hubungan adalah tanda kedewasaan. Padahal, kedewasaan juga berarti tahu kapan harus berhenti.
Ada pertemanan yang hanya hidup saat kita berguna.
Ada percakapan yang selalu berakhir dengan kita merasa kurang.
Ada candaan yang dibungkus tawa, tetapi diam-diam meruntuhkan rasa percaya diri.
Dan yang paling melelahkan: ada orang-orang yang tidak pernah benar-benar mendukung, tetapi selalu ada untuk mengkritik.
Dalam situasi seperti itu, banyak dari kita memilih bertahan. Bukan karena bahagia, tetapi karena takut dianggap berubah. Takut dicap sombong. Takut disebut tidak tahu diri. Kita terus menjelaskan, terus menyesuaikan, terus mengalah, sampai akhirnya lupa bagaimana rasanya menjadi diri sendiri tanpa beban.
Padahal menjaga jarak bukan tindakan permusuhan.
Ia adalah bentuk perlindungan.
Menjauh bukan berarti membenci.
Mengurangi interaksi bukan berarti memutus silaturahmi.
Membatasi akses bukan berarti tidak punya hati.
Ia hanya berarti kita sadar bahwa energi kita terbatas.
Kesehatan jiwa bekerja seperti tubuh. Jika terus dipaksa berada dalam tekanan, ia akan lelah. Jika terus-menerus disakiti, ia akan menutup diri. Jika terus berada dalam lingkungan yang meremehkan, ia perlahan percaya bahwa ia memang tidak cukup baik.
Dan yang paling berbahaya, kita mulai menganggap lelah itu wajar.
Lalu muncul pertanyaan yang lebih sulit: bagaimana jika yang melelahkan itu keluarga sendiri?
Memang, tidak semua bisa ditinggalkan. Kita tidak bisa begitu saja memutus hubungan darah. Tetapi kedekatan emosional tetap bisa diatur. Intensitas interaksi tetap bisa dikendalikan. Topik pembicaraan tetap bisa dibatasi.
Tidak semua harus dilawan.
Tidak semua harus dijelaskan.
Tidak semua harus diluruskan.
Kadang menjaga jarak adalah satu-satunya cara untuk tetap menghormati tanpa kehilangan diri sendiri.
Kita bisa tetap peduli tanpa harus selalu hadir.
Kita bisa tetap menghargai tanpa harus selalu menyetujui.
Kita bisa tetap menjadi anak, saudara, atau kerabat—tanpa harus menjadi tempat pelampiasan.
Menjaga jarak adalah tentang menempatkan diri secara proporsional. Tentang memahami bahwa hubungan yang sehat tidak membuat kita terus-menerus merasa bersalah hanya karena ingin hidup lebih tenang.
Hidup ini sudah cukup berat dengan tuntutan masa depan, tanggung jawab pribadi, dan perjuangan memahami diri sendiri. Tidak perlu ditambah dengan hubungan yang secara konsisten menguras energi dan merusak harga diri.
Ada kalanya keberanian terbesar bukan bertahan, melainkan melepaskan.
Bukan melawan, melainkan mundur dengan tenang.
Bukan menjelaskan panjang lebar, melainkan memilih diam dan membenahi jarak.
Karena pada akhirnya, kedewasaan bukan diukur dari seberapa banyak orang yang berhasil kita pertahankan dalam hidup. Kedewasaan diukur dari seberapa jujur kita menjaga kewarasan sendiri.
Tidak semua orang harus tinggal.
Tidak semua pintu harus selalu terbuka.
Dan tidak semua jarak adalah bentuk perpisahan.
Sebagian jarak adalah bentuk cinta—
cinta pada diri sendiri agar tetap utuh.



.png)