![]() |
| Esai Reflektif. |
Kecerdasan dan Kerendahan Hati dalam Menilai Orang Lain
Di tengah kehidupan sosial yang semakin terbuka, setiap orang memiliki ruang untuk menyampaikan pendapatnya. Namun, kemudahan ini juga melahirkan kecenderungan baru: merasa diri paling benar dan paling cerdas dibandingkan orang lain. Tidak sedikit yang dengan mudah menganggap orang di sekitarnya kurang berpikir, dangkal, atau bahkan bodoh. Padahal, kecerdasan sejati justru tercermin dari kemampuan untuk meragukan diri sendiri, bukan dari keyakinan bahwa diri selalu benar.
Orang yang benar-benar cerdas biasanya berhati-hati dalam menilai. Ia memahami bahwa setiap individu dibentuk oleh latar belakang, pengalaman, dan informasi yang berbeda. Apa yang tampak keliru dari satu sudut pandang, bisa jadi masuk akal dari sudut pandang lain. Kesadaran ini membuatnya tidak tergesa-gesa dalam menghakimi.
Sebaliknya, kecenderungan untuk melihat kebodohan di mana-mana sering kali berasal dari perspektif yang sempit. Ketika seseorang merasa dirinya paling rasional, ia mungkin berhenti membuka diri terhadap kemungkinan lain. Ia tidak lagi tertarik untuk memahami konteks, melainkan hanya ingin pendapatnya diterima. Dalam kondisi seperti ini, dialog berubah menjadi ajang pembuktian, bukan proses saling belajar.
Merasa lebih pintar dari orang lain juga dapat menimbulkan ruang gema, situasi di mana seseorang hanya berinteraksi dengan gagasan yang sejalan dengan pikirannya sendiri. Tanpa disadari, ia menguatkan keyakinannya sendiri tanpa pernah benar-benar mengujinya. Padahal, kecerdasan berkembang melalui perbedaan, pertanyaan, dan kritik.
Lebih jauh lagi, cara kita memandang kesalahan orang lain mencerminkan kedewasaan berpikir kita. Apakah kita menanggapi kekeliruan dengan empati dan keinginan untuk membantu, atau dengan sikap merendahkan? Kecerdasan tanpa empati mudah berubah menjadi arogansi. Sementara itu, kecerdasan yang disertai kerendahan hati akan melahirkan sikap terbuka dan keinginan untuk terus belajar.
Pada akhirnya, ukuran kecerdasan tidak terletak pada seberapa sering kita merasa lebih tahu, melainkan pada seberapa sering kita bersedia mengoreksi diri. Dunia tidak sesederhana benar dan salah menurut versi kita. Ada banyak sudut pandang yang layak dipertimbangkan. Oleh karena itu, sebelum mengganti lingkungan atau menyalahkan orang lain, mungkin yang perlu diperbaiki adalah cara kita melihat. Sebab kecerdasan yang paling jujur adalah kecerdasan yang tetap memberi ruang bagi kemungkinan salah.



.png)