Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

[CERBUNG] Berharga

Sumber gambar: https://pixabay.com/id/photos/bunga-poppy-lapangan-174276/

BERHARGA

Bab 1, Sejauh Apa?


Angel menatap tajam pada orang yang ada di hadapannya, tangan kiri dari gadis dengan rambut sebahu tersebut bergetar kencang namun getarannya halus, ia mengamati Pak Putut, dosen yang memiliki gelar S3 psikologi, dosen tersebut sedang melihat data diri dan jawaban tes tertulis Angel, dan saat gadis bernama lengkap Angelina Dhea Syahfira tersebut kontak mata dengan Pak Putut, pupil gadis berusia 17 tahun tersebut membesar, tangan kirinya makin bergetar namun getarannya masih halus.

Lalu Pak Putut bertanya, tanya yang akan membawa kita pada kisah tentang sebuah minat kadang terbentuk dari apa yang dirasakan dan dialami di masa lalu, termasuk jarak.

"Apa alasan dan tujuan kamu memilih jurusan psikologi di kampus ini?"

Pupil Angel semakin membesar selama beberapa detik, ia terdiam, dan ketika Angel hendak menjawab, Angel teringat masa lalu hidupnya, yang jika hidup diibaratkan dengan cokelat, adalah rasa yang paling pahit dan pekat.

***

Beberapa tahun yang lalu...

Hujan deras di luar, Angel menatap ke luar jendela, kalender menunjukkan tanggal 3 Maret 2017, Angel yang kala itu tepat berusia 11 tahun memandangi kawan-kawan seusianya yang sedang hujan-hujanan, Angel tidak diizinkan hujan-hujanan, terutama oleh sang ibu, Sukmawati, Sukmawati adalah ibu yang super protektif, ia begitu karena melindungi Angel dan dua kakaknya dari Yanto, sang ayah yang memiliki nama lengkap Supriyanto memang temperamental, ia juga memiliki skizofrenia paranoid, pengobatan sudah berjalan bertahun-tahun, tetapi dengan usia yang sudah menginjak kepala 5, pria yang menikah di usia 33 tahun tersebut belum menunjukkan perubahan ke arah yang positif.

Padahal hari itu adalah ulang tahun Angel, sambil memandang kawan-kawannya yang sedang bermain hujan, Angel berandai-andai ulang tahunnya dirayakan oleh teman-teman mainnya tersebut, tapi baik Sukmawati maupun Yanto melarang, keduanya memiliki alasan yang berbeda.

Sukmawati merasa itu perlu agar Yanto tidak mendengar halusinasi suara yang mungkin bisa terjadi pada Yanto, Sukmawati sangat paham, suara yang tidak jelas saat ia berinteraksi dengan dua putra dan satu putrinya pun bisa membuat Yanto salah paham dan marah-marah, apalagi jika banyak anak-anak dengan beragam karakter di rumah sederhana mereka, bisa-bisa Yanto salah paham akibat halusinasi pendengarannya tersebut, memaki atau paling parah menganiaya seorang atau beberapa anak yang dianggapnya menyinggung, akibatnya bisa beragam, tetapi yang paling dikhawatirkan Sukmawati adalah bisa-bisa Angel dijauhi kawan-kawannya dan tidak punya teman lagi. Sedangkan alasan Yanto ialah ia adalah pengidap kecemasan sosial akut dan ada rasa takut bertemu orang, sejak pindah ke rumah yang sekarang ia dan keluarga kecilnya tempati, Yanto hampir tidak pernah keluar rumah, hanya saat Jumatan, itupun ia baru shalat di syaf paling belakang sesaat setelah Iqamah selesai, pun pulang juga paling awal.

Angel sangat membenci kedua orang tuanya tersebut, sejak kecil bersama dua saudaranya ia tidak pernah mendapat apa yang diinginkan, sebagai anak berusia 11 tahun ia tentunya belum paham akan kondisi ekonomi sebuah keluarga, selama ini pun biaya sekolah selalu tantenya yang membayar. Tutik, seorang saudagar kain sari yang diimpor langsung dari Mumbai sudah jenuh membantu untuk uang modal adik kandungnya, Yanto, setiap modal yang diberikan selalu habis untuk hal lain yang tidak perlu dan penting, parahnya setiap disinggung kesalahannya Yanto mengamuk, amukannya berdampak baik fisik maupun mental pada Sukmawati, Angel, dan kedua saudaranya. Selama ini uang modal selalu Yanto habiskan untuk tanam modal pada investasi bodong penghasil milyaran rupiah dengan kedok agama yang ia dapat dari YouTube, keluarga sudah menasehati, tapi ujung-ujungnya selalu sama, Yanto mengamuk dan menganiaya dirinya sendiri, sehingga keluarga besar Yanto dan Sukmawati merasa segan karena Yanto selalu saja memukuli kepalanya sendiri jika sedang ribut, bahkan pernah dengan batu keramik lantai.

Mulanya Angel tidak memahami apa sebetulnya itu Skizofrenia Paranoid, dan perlahan-lahan pada akhirnya ia dan kedua saudaranya mulai paham akan kondisi ayahnya, tapi tetap saja mereka membenci tingkah ayahnya, pun ibunya yang over protektif, namanya anak berusia belasan, tentu rasa memikirkan diri sendiri diatas segalanya masih sangat mendominasi. Bara, sang kakak tertua yang saat ini memasuki SMA kelas 2 dan sering beradu fisik dengan Yanto saat berbagai keributan terjadi bahkan sudah mantap akan memasuki kuliah jurusan psikologi sejak lulus SMP, Syafril, yang usianya hanya terpaut 15 bulan lebih tua dengan Angel pun lebih sering membaca hal-hal berbau psikologis di media sosial ketimbang apa yang dicari oleh anak-anak seusianya. Di Instagram, Twitter maupun Facebook nya berbagai hal yang berhubungan dengan kesehatan jiwa selalu ia follow.

Yanto menyeruput kopi sambil berjalan, ia duduk di kursi kemudian meletakkan kopi di meja, dengan suara bentakan yang keras ia menegur Angel agar tidak terlalu dekat dengan jendela, sebab Yanto percaya jika seseorang terlalu dekat dengan jendela saat hujan maka petir bisa menyambar.

"Njel! Jangan dekat jendela, budhe bapak waktu balita hampir disambar gledek gara-gara terlalu dekat sama jendela!" Pekik Yanto tajam dengan mata melotot.

Angel pun bergegas menjauhi jendela, ia berlari kecil ke kamarnya kemudian menutup pintu, Sukmawati yang sedang berdzikir di kamarnya setelah shalat Ashar mendengar hal tersebut, tetapi ia diam saja, ia sangat paham apa yang akan terjadi jika dirinya secara terbuka menyatakan marah dan sakit hati putri yang dilahirkannya tersebut dibentak dengan nada sangat tinggi karena urusan klenik yang belum bisa dibuktikan kebenarannya.

***

Angel tertidur sambil memeluk guling, terdengar pintu masuk rumah dibuka, beberapa detik kemudian terdengar suara Syafril mengucap salam, tidak ada yang menjawab, sebab selain Angel sedang tidur, Sukmawati pun ketiduran karena lelah mengucap dzikir sampai ratusan ribu kali. Sebenarnya Yanto mendengar, tetapi ia tidak mau menjawab sebab ia percaya dengan wahamnya, bahwa jika ada orang yang memberi salam namun orangnya tidak kelihatan, kemungkinan besar yang mengucap salam adalah setan. Entah darimana Yanto mendapatkan waham tersebut, tapi Yanto biasa memakai media sosial untuk mencari hal berbau agama yang bukan bersumber pada Al Quran atau Hadist yang shahih.

Syafril mengetuk pintu kamar ayah dan ibunya, tidak ada balasan sebab Sukmawati sedang tertidur pulas, tertidur diatas sajadahnya dan masih mengenakan mukena, sedangkan Yanto enggan membuka pintu, lagi-lagi berdasarkan hal klenik berkedok agama yang ia dapat dari internet.

Syafril pun berlalu pergi ke kamarnya untuk menaruh tas, beberapa detik kemudian ia keluar sambil membawa dua bungkus chiki murah. Yanto keluar dari kamar, memperhatikan, Syafril sudah paham, ia pun memberikan satu dari dua chiki nya.

Syafril mengambil nasi di rice cooker, nasi masih banyak karena dalam keluarga hanya ia dan sang kakak, Bara, yang punya selera makan besar. Bara sendiri belum pulang sampai jam 5 sore karena mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, sedangkan Yanto, dimana biasanya pengidap kejiwaan memiliki porsi makan yang besar karena efek samping obat sedang berpuasa, lagi-lagi sumbernya bukan dari Al Quran atau Hadist shahih, namun lebih kepada hal-hal yang sumbernya tidak jelas yang ia dapat dari media sosial.

Syafril meletakkan piring di meja, membuka chiki kemudian menumpahkannya ke atas nasi, belum semua chiki habis tertumpah, Yanto berada di belakang Syafril dan memperhatikan.

"Bapak mau lagi?" Tanya Syafril sambil menyodorkan chiki yang dipegangnya ke ayahnya.

"Makasih." Jawab Yanto sambil mengambil chiki dari Syafril dengan senyum mengembang.

"Bentar." Lanjut Yanto sambil merogoh kantongnya. Wajahnya masih berseri-seri.

Yanto memberikan uang 50 ribu rupiah pada Syafril, Syafril menerimanya, memasukkan uang ke dalam saku, kemudian duduk dan menyantap nasi dengan lauk chiki.

Sore harinya sekitar pukul setengah lima setelah Sukmawati bangun dari tidur, Syafril menyerahkan uang dari Yanto pada Sukmawati, Sukmawati sudah paham bahwa uang itu dari Yanto, sebab pagi harinya sebelum Angel dan Syafril berangkat sekolah terjadi keributan antara Yanto dan Sukmawati, penyebabnya gas habis dan Sukmawati meminta uang pada Yanto untuk membeli gas, tetapi Yanto mengaku tidak punya uang, untungnya Bara sudah berangkat ke sekolah sehingga tidak ada adu fisik antara Bara dan Yanto yang bisa memperburuk keadaan. Memang pengidap kejiwaan terkadang lupa dengan apa yang dimiliki atau dipegang sebagai bagian dari gejala, apalagi Yanto sering memukuli kepalanya sendiri dengan amat keras sehingga memperburuk kebiasaan lupanya.

***

Angel terbangun dari tidurnya, waktu menunjukkan pukul 17.39. Ia pun bergegas berwudhu karena sekitar 15 menit lagi waktu untuk Shalat Maghrib, Angel heran kenapa ia tidak dibangunkan, padahal biasanya seisi rumah kecuali Yanto akan shalat berjamaah di Masjid yang lokasinya termasuk dekat, tapi ia tidak mendapati tanda-tanda ada orang di dalam rumah. Angel tahu Bara belum pulang, terlihat dari tidak adanya sepeda Bara yang biasanya ditaruh di dapur.

Angel pun memutuskan berwudhu dan shalat sendirian di rumah, Yanto yang selalu menakuti yang pada dasarnya bukan berniat menakuti akibat wahamnya sering mengatakan pada Angel, Bara serta Syafril bahwa ada kalong wewe bernama Mbok Jirah yang akan menculik anak perawan atau perjaka yang keluar rumah sendiri, Bara tidak percaya tetapi Angel dan Syafril yang masih sangat belia percaya dan tidak pernah sekalipun keluar malam sendiri, bahkan Syafril pernah pingsan hanya karena ditepuk pundaknya oleh teman main sebayanya sebab pulang sendirian saat maghrib setelah mengerjakan tugas sekolah di warnet.

***

Angel yang sedang berdzikir dikejutkan oleh suara salam dari Bara, Angel menjawab salam Bara, namun terdengar Bara mengucap salam dengan suara bergetar, pun Angel merasa heran karena di luar suasana amat ribut. Saat keluar kamar Angel terkejut dengan beberapa orang polisi serta kerumunan tetangga, para tetangga berkerumun, tak sedikit yang memotret dengan handphone.

"Njel, Syafril koma, kepalanya dipukul bapak sama tabung gas." Isak Bara terbata-bata.

"Hah?" Hanya itulah kata yang keluar dari tenggorokan Angel.

"Maaf. Saya Richard sebagai kepala Kapolsek daerah sini ingin bertanya beberapa hal pada saudari Angel, sebab ibu saudari tidak bisa ditanyai sebab dalam keadaan trauma." Seorang Kapolsek bernama Richard bertanya pada Angel dan tidak mendapati respon dari Angel yang masih sangat terkejut. Angel melongo dan terdiam.

"Angel! Angel!" Ucap Bara sambil menepuk pundak Angel untuk menyadarkan adiknya tersebut.

"Hah? Iya?" Angel menjawab dengan wajah bingung.

"Dik Angel merasa terpukul sepertinya, lebih baik tidak kami tanyai dulu, kami akan berusaha cari saksi yang lain karena Bara yang juga anggota keluarga tidak bisa menjadi saksi sebab berada di lokasi yang jauh saat kejadian berlangsung." Richard menjelaskan.

"Besok saya sudah siap kok, pak. Besok rasa saya ini juga hilang." Angel berkata tiba-tiba, menjawab kata-kata Richard dengan terbata-bata.

"Hilang? Maksudnya?" Tanya Richard.

"Saya punya kejang. Kata Bang Syafril dari yang ia dapat di beberapa situs dan grup Facebook kesehatan jiwa itu kecemasan." Jawab Angel.

“Sudah diobati?” Richard bertanya.

"Belum." Jawab Angel.

"Kenapa belum?" Richard kembali bertanya.

"Karena kartu KIS cuma bisa untuk berobat sakit bapak." Jawab Angel.

"Saya ingin bertanya, ini sangat penting jadi harus ditanyakan sekarang. Seberapa dekat jarak saudari Angel dengan keluarga terutama ayah dan ibu? Angel pernah curhat rasa yang dirasakan oleh dik Angel pada ayah dan ibu Angel?" Pertanyaan Richard mengejutkan Angel dan membuat jantungnya berdegup kencang.

Selama ini Angel dan dua saudaranya memang tidak akrab dengan kedua orang tuanya, meski satu rumah, mereka seolah memiliki jarak yang jauh. Bara sering berjuang sendiri untuk biaya-biaya ekstrakurikuler selain bantuan dari Tutik untuk kebutuhan pokok sekolah, Syafril tidak pernah didengarkan meski ia punya segudang pengetahuan tentang kesehatan jiwa yang sebetulnya sangat bisa membantu keadaan Yanto jika Sukmawati dan Yanto mau mendengarkannya, sedangkan sebagai yang paling muda, Angel masih dianggap anak kecil yang mereka yakini manja, padahal sifat manja Angel sudah hilang sejak ia berusia 9 tahun, ia sudah memiliki sifat dan pemikiran yang dewasa meski tentu pola berpikir, ideologi serta nalarnya masih seperti anak-anak seumurannya.

Angel kejang, semua yang ada di tempat terkejut dan berusaha menolong Angel, ia didudukkan di kursi kemudian diberi segelas air hangat atas saran dari Bara.

Angel masih merasa tidak karuan, ia memikirkan keselamatan kakaknya, Syafril, serta kemungkinan ayahnya akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa dalam waktu yang lama karena dianggap sebagai pengidap gangguan jiwa yang berpotensi membahayakan orang lain.

Sejak saat itu juga di dalam hati Angel bertekad untuk memperdalam psikologi dan lebih dekat dengan ayah, ibu serta dua saudaranya. Kini ia paham kenapa Syafril lebih memilih mencari hal bertema psikologi di internet dan Bara memutuskan untuk masuk kuliah jurusan psikologi.

Ia ingin memangkas jarak antara ia, ayah serta ibunya dengan mempelajari psikologi, ia tahu Syafril yang sering memberi saran berbau psikologi tidak didengar oleh Yanto maupun Sukmawati, Angel bertekad tidak akan seperti Syafril yang langsung tunduk ketika kata-katanya diabaikan, Angel berjanji pada dirinya sendiri bahwa dirinya akan keras dan tegas pada ayah dan ibunya untuk hal berbau psikologi. Hal tersebut Angel lakukan supaya jarak di keluarganya yang baru ia dan Bara sadari renggang menjadi tidak lagi renggang, bahkan menjadi rekat.

Angel merasa sangat lelah dan amat mengantuk kemudian ia pun tertidur beberapa menit setelah diberi air hangat. Seorang polisi menggotong Angel ke kamarnya dan meletakkan Angel di ranjangnya, seorang polisi lain membentak seorang pemuda tanggung yang berusaha memotret Angel yang sedang terlelap.

"Heh! Bisa kena pasal kamu!"

"Maaf, pak. Bukan bermaksud." Jawab pemuda tanggung tersebut.

Pintu ditutup, Angel beristirahat di kamarnya, hanya Bara yang menemani, Bara cemas dengan keadaan keluarganya, termasuk ekonomi, apalagi biaya kuliah tidaklah murah, termasuk jurusan psikologi. Terlintas dalam pikiran Bara untuk menyerah pada tujuannya berkuliah pada jurusan psikologi, ia merasa lebih baik membantu Tutik untuk berdagang menjadi pekerja di toko kain grosir tantenya tersebut. Ia tahu itu akan membuatnya membuang kesempatan untuk lebih mengetahui keadaan jiwa ayahnya, tapi Bara merasa jalan makin terjal dan jarak dari cara untuk memahami keluarganya lewat jalur berkuliah di jurusan psikologi makin jauh.

Bara menghela nafas dan tertunduk, bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Memang Tutik sudah mengatakan akan membantu membiayai kuliah psikologi Bara, tapi ada rasa sungkan yang besar di dalam hati Bara, dan ia pun tidak ingin menjadi beban meski Tutik tidak menganggapnya sebagai sebuah beban. Bara juga memikirkan biaya sekolah yang ditanggung oleh Tutik sehingga Bara bertambah segan. Bara mengambil nafas panjang, ia masih menunduk.

Bersambung...

Penasaran sama lanjutannya? Berharga terdiri dari 43 bab (42 bab reguler plus 1 bab epilog)

Kalau kamu penasaran, yuk, baca kisah Angel yang mencari hal Berharga dalam hidup yaitu keluarga yang diberkahi. 

Bab-bab Berharga selanjutnya bisa dibaca disini 👇👇👇

https://www.kwikku.com/novel/read/berharga-20230907191119

Makasih, semua. Mohon dukungannya. 🙏
Diberdayakan oleh Blogger.
close
Afiliasi