Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

[Senandika] Sketsa Bisikan Hati - Senandung Rindu

Sumber gambar : https://pixabay.com/illustrations/coin-heart-circle-green-love-pink-7395372/

Sketsa Bisikan Hati

Karya : Senandung Rindu 


Syawalku kini ada kehidupan baru yang sedang dimulai pada fana.

Ada sebersit bisik yang membujuk diri untuk menjadikan sebuah kebalikan dari semua harap yang tercurah.

Dengan sebuah rayuan bahwa tugas ini telah tertunaikan.

Maka adalah hak diri untuk mengakhiri segala luka yang ada.


Tapi, dia yang terkasih merajuk dan membujuk.

Bahwa agar ada perpanjangan harap dan tugas yang lagi dan lagi harus aku tunaikan.

Agar tak melulu merayu  Sang pemilik jiwa agar disegerakan untuk kembali pulang pada Nya.

Apa lagi tanpa penjemputannya sesuai yang tertoreh dalam keridhaannya.

Karena masih ada jiwa yang mengharapkan detak yang tersembunyi dalam diri tuk terus bekerja.


Katanya, aku masih menjadi sosok yang mereka inginkan kehadirannya.


Lalu...

Aku harus bagaimana?

Perih ini terus mengolokku yang melulu merapuh.


Ah,, tidak ...

Mungkin juga akan ada jiwa yang katanya memerlukan hadirku akan menjadi tertular nestapa jika aku benar-benar pergi.


Dan ada sebuah tamparan dari siratan yang tersurat dari apa yang pernah ku goreskan beberapa waktu silam?

Bahwa, kenapa harus aku yang menyerah kalah pada luka dan perih?

Karena apakah luka itu hanya milikku sendiri?

Dan kenapa lagi dan lagi harus aku yang terkorbankan.


Lagi pula, masih terekam jelas dalam benakku.

Tentang kesempatan kesekian yang lagi dan lagi tercurahkan.

Saat kemungkinan untuk bisa pulang terbuka dengan selebar-lebarnya.


Masihkah diri terjebak pada kekufuran yang nyata.

Diantara gaungan yang senantiasa teralun.

Tentang segala nikmat yang tak mungkin pernah bisa aku dustakan..


Tuhan...

Tolong beri tahu aku.

Sampai kapan aku harus memperpanjang nafas ini?


Sungguh.

Jika kehidupan adalah yang lebih baik bagiku maka hidupkanlah aku.

Namun jika kematian adalah lebih baik bagi ku, bagi orang di sekitarku dan bagi duniaku.

Maka janganlah engkau menundanya.

Sungguh aku pasrah.

Dan tidak ingin menyerah.

Terlebih atas upaya diriku sendiri.


Sudut Sunyi, Mei 2024.

Baca Juga Tulisan Lain Di Penadiksi :
Diberdayakan oleh Blogger.
close