Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

[Cerpen] Ibuku Menyelamatkan Duniaku Meski Dirinya Tak Selamat–Elsa Y. Lely

Sumber gambar : https://pixabay.com/illustrations/mother-son-silhouette-mom-woman-8727806/

Ibuku Menyelamatkan Duniaku Meski Dirinya Tak Selamat

Oleh: Elsa Y. Lely

Bingung dan bimbang seolah menghantui pikiranku, untuk terus belajar menerima kenyataan. Air mata terus mengalir seperti derasnya air hujan. Bumiku seolah berhenti berputar, entah kenapa?

Aku tak mengerti persoalan hidup. Mampukah aku merangkai duniaku sendiri?

Banyak cobaan seolah menjadi penghalangku untuk bahagia.

Tak terasa waktu membawa aku untuk belajar dewasa dan mengetahui siapa aku sebenarnya.

Pelangi seolah memberitahuku bahwa akan ada kebahagiaan di balik semua ini. Jika aku percaya bahwa pelangi muncul sehabis hujan, maka aku juga harus percaya bahwa akan ada kebahagiaan di balik penderitaanku.

Senja pun sama seperti pelangi, mengajarkanku bahwa yang indah juga hanya sementara. Bahkan di saat aku ingin berhenti, aku selalu ingat perkataan seseorang yang membuat aku kuat untuk bertahan.

Aku hanya ingin membutuhkan bahu, untuk bersandar keluhkan semua beban yang tak mampu aku pendam sendiri.

Hati seolah menahan, aku tak tahu harus bagaimana, haruskah dunia tau ceritaku?

Berapa lama aku harus menunggu sampai waktu menceritakan kisahku? sepertinya ini bukan momen yang tepat agar dunia tahu bahwa aku tidak baik-baik saja.

Mentari pagi pun tahu betapa aku rindu bertemu dengan seorang perempuan yang tak pernah kupandang wajahnya. Saat kehadiranku di dunia, aku seperti bayi kecil yang mandiri dengan sendirinya tanpa ibu.

Pernah kulihat foto lukisan cantik ibuku, wajahnya terlihat bahagia dan cantik ketika tersenyum. Ibuku sangat berbeda dari ibu yang lain, ibuku terlihat tersenyum ketika difoto pada hal ibuku sedang menahan sakit yang dideritanya.

Ibu memang hebat, ibu adalah malaikat tak bersayap yang dititipkan Tuhan. Meskipun penyakit yang diderita ibu sangat mematikan, tapi ibu melindungi dan menjagaku selama 9 bulan, hingga aku selamat tapi tidak dengan ibuku.

Ibuku menyelamatkan duniaku, namun dirinya tak sempat diselamatkan. Ibu menemaniku di dalam kandungannya, tapi tak menemaniku di dunia yang penuh kebebasan.

Di dalam diam aku pun merindukan ayah. Ayah sudah meninggalkanku 12 tahun yang lalu, waktu itu umurku 4 tahun.

Usiaku masih terbilang terlalu sulit menerima kenyataan.

Pesan terakhir ayah yang masih aku dan kakakku Inri ingat adalah, "tetap bersama-sama karena yang ayah miliki sekarang hanya Inri dan Elsa."

Ayah juga bilang ayah masih ada saat ini karena, Inri dan Elsa adalah alasan ayah bahagia.

Selesai berbicara seperti itu, ayah pergi untuk selamanya tanpa pamit, hanya meninggalkan pesan terakhir.

Mungkin ayahku tidak berarti bagi orang lain, tapi bagiku dan kakak ayah adalah segala-galanya.

Cinta ayah dan ibu memang tak terlihat, tapi selalu ada di hati. Sampai jumpa di akhirat.

Ayah ibu, tenang-tenang di sana, Inri dan Elsa akan bahagia.

Bahagia Melihat Lukisan Ayah Tersenyum

Dunia melihat kebahagiaanku, tapi kebahagiaan dunia tak aku lihat. Seorang ayah akan terlihat bahagia ketika melihat anak gadisnya tersenyum, tapi berbeda denganku. Aku terlihat bahagia saat melihat lukisan ayahku tersenyum.

Ayah memang hebat menyesali kesedihannya lewat senyuman. Ayah tak pernah menangisi ibu di depan aku dan kakakku Inri.

Mungkin disaat ayah sendiri, ayah meluapkan semua kesedihannya lewat air mata.

Kata lelah tak pernah keluar dari mulut ayah.

Kepergian ayah 12 tahun yang lalu sangat mengharukan di kondisi tertentu, meskipun saya belum mengerti.

Wajah ayah hanya bisa dipandang lewat bayangan potretnya, senyuman ayah hanya bisa mengingat dalam ingatan meski tak seindah kenyataanya.

Hidupku tak menjadi keinginanku.

Aku merindukan ayahku kembali. Awalnya aku bisa tanpa ayah, tapi ayah dewasa tanpa itu tak muda bagi seorang anak perempuan.

Jika hidup adalah sebuah buku, maka bertemu dengan ayah adalah halaman terindah.

Waktu usiaku 3 tahun, jarak tak menjadi halangan untuk bertemu dengan ayah, namun saat aku memasuki usia yang ke 4 tahun dunia aku dan ayah berbeda.

Aku berpisah jauh sekali dengan ayah, surat pun tak bisa dikirimkan ke dunia yang ayah huni sekarang. Hanya doa yang dunia ayah huni bersahabat.

Ayah aku ingin kau tau betapa perihnya hidupku tanpamu hari ini dan hari esok.

Ayah bukan seorang pahlawan yang gugur demi merdekanya satu bangsa, tapi ayah adalah pahlawan di hatiku yang gugur karena kecelakaan.

Kecelakaan itu terjadi begitu cepat, sampai ayah tak sempat berpamitan denganku.

Rasanya aku ingin mengulangi kisah 12 tahun yang lalu.

Pertemuan aku dan ayah seperti tak direncanakan, begitu singkat seperti uap.

Aku bertemu dengan ayah 11 Desember 2007, dan berpisah dengan ayah 07 September 2011.

Di mana ada pertemuan di situ ada perpisahan,di mana ada rasa nyaman di situ ada air mata

Sampai jumpa di lain waktu, ayah. Aku mampu menjadi gadis kuat tanpa ayah. Senang mengenal ayah, meskipun waktunya singkat.

Bahagia Melihat Lukisan Ayah Tersenyum

Dunia melihat kebahagiaanku, tapi kebahagiaan dunia tak aku lihat. Seorang ayah akan terlihat bahagia ketika melihat anak gadisnya tersenyum, tapi berbeda denganku. Aku terlihat bahagia saat melihat lukisan ayahku tersenyum.

Ayah memang hebat menyesali kesedihannya lewat senyuman. Ayah tak pernah menangisi ibu di depan aku dan kakakku Inri.

Mungkin disaat ayah sendiri, ayah meluapkan semua kesedihannya lewat air mata.

Kata lelah tak pernah keluar dari mulut ayah.

Kepergian ayah 12 tahun yang lalu sangat mengharukan di kondisi tertentu, meskipun saya belum mengerti.

Wajah ayah hanya bisa dipandang lewat bayangan potretnya, senyuman ayah hanya bisa mengingat dalam ingatan meski tak seindah kenyataanya.

Hidupku tak menjadi keinginanku.

Aku merindukan ayahku kembali. Awalnya aku bisa tanpa ayah, tapi ayah dewasa tanpa itu tak muda bagi seorang anak perempuan.

Jika hidup adalah sebuah buku, maka bertemu dengan ayah adalah halaman terindah.

Waktu usiaku 3 tahun, jarak tak menjadi halangan untuk bertemu dengan ayah, namun saat aku memasuki usia yang ke 4 tahun dunia aku dan ayah berbeda.

Aku berpisah jauh sekali dengan ayah, surat pun tak bisa dikirimkan kedunia yang ayah huni sekarang. Hanya doa yang dunia ayah huni bersahabat.

Ayah aku ingin kau tau betapa perihnya hidupku tanpamu hari ini dan hari esok.

Ayah bukan seorang pahlawan yang gugur demi merdekanya satu bangsa, tapi ayah adalah pahlawan di hatiku yang gugur karena kecelakaan.

Kecelakaan itu terjadi begitu cepat, sampai ayah tak sempat berpamitan denganku.

Rasanya aku ingin mengulangi kisah 12 tahun yang lalu.

Pertemuan aku dan ayah seperti tak direncanakan, begitu singkat seperti uap.

Aku bertemu dengan ayah 11 Desember 2007, dan berpisah dengan ayah 07 September 2011.

Di mana ada pertemuan di situ ada perpisahan,di mana ada rasa nyaman di situ ada air mata

Sampai jumpa di lain waktu, ayah. Aku mampu menjadi gadis kuat tanpa ayah. Senang mengenal ayah, meskipun waktunya singkat.


__________________

Baca juga karya penadiksi lainnya:

- [Cerpen] Saksi Sekejap - Egi David Perdana

- [Cerpen] Firasat Ibu - Hanifah Afnan 

- [Puisi] Pada Hari-Hari yang Melukai - Theo Kiik 

- [Puisi] Perpisahan Guru dengan Murid - Raja Sulaiman 

- [Puisi] Buaya Darat - Permata Najma 


Diberdayakan oleh Blogger.
close