Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

[Puisi] Sonata Bagian Ke 9 : Bagiku Semakin Sulit - Egi David Perdana

Sumber gambar : https://pixabay.com/illustrations/caricature-imagination-hand-drawing-4804618/

Description :

Kumpulan puisi yang saya sendiri sebut Sonata. Puisi ini memiliki beberapa larik, dimana dihampir tiap akhir larik selalu berkaitan dengan judul. Puisi ini memiliki berbagai variasi genre, tidak hanya genre tertentu saja. Sengaja saya acak urutannya supaya lebih membuat penasaran. Saat ini Bagiku Semakin Sulit adalah bagian ke 9 dari Sonata. 

(*) 

Aku membuang hatiku ke tempat pembuangan sampah,

Tetapi setiap calon rusuk menyahut memperebutkan,

Lalu aku celupkan perasaan ke tempat tak bening dan berbau,

Tetapi lagi-lagi beberapa rangkaian rasa menguntit diam-diam,

Aku hanya ingin kamu! kamu! kamu! Bukan mereka, 

Dan itu bagiku semakin sulit.


(**) 

Aku akan membuatmu lebur,

Membuatmu tersayat, 

Aku ingin menghidupkan dalam jiwamu apa yang aku rasakan,

Aku tak main-main, 

Satu dunia akan aku sewa tuk melemas pembuluhmu,

Kan ku hancurkan setiap bingkai demi bingkai yang memperelokmu,

Dan aku ingin mendengar dari setiap derai tangismu 

"Bagiku semakin sulit" 


(***) 

Bukannya pandanganmu padaku bagai orang yang melacurkan kebenaran?

Layaknya potassium sianida yang membekap jantung dan ulu hati? 

Dan satu ledakan atom senyawa menambah keyakinanku tentang itu.

Maaf segala alasanmu tak dapat menyembuhkan,

Sebab alasanmu itu kuanggap kebisuan,

Dan karena hal tersebutlah, 

Bagiku semakin sulit. 


(****) 

Mereka tidak bicara tentang sesuap nasi untuk kita,

Mereka tidak pernah peduli apakah kita menenggak lelah yang berakhir menjadi racun,

Mereka selalu berpikir kita adalah ilalang yang siap dibakar dengan nyala api,

Mereka seumpama pedang yang dipersiapkan untuk memotong leher kita,

Dan segala-galanya tentang mereka, 

Aku tak peduli,

Karena apapun perjuangan hasilnya sama saja,

Sebab lagi-lagi...

Bagiku semakin sulit. 


(*****) 

Aku ingin menggulingkan kenaifanmu, 

Menggodok sampai mendidih kepesimisanmu,

Karena kamu bagai bola-bola lampu yang berkedip-kedip lemah kemudian pecah.

Apa yang terjadi? 

Keputusasaan memenuhi seluruh sendimu, 

Engkau tidak seperti yang dulu, 

Aku tahu engkau tidak seperti yang dulu,

Sebab engkau adalah aku, 

Karena semakin lama, 

Bagi kita...

Bagiku...

Itu...

Bagiku...

Bagiku...

Bagiku semakin sulit.

Rekomendasi Buku Kumpulan Puisi Terbitan Penadiksi : 

Rekomendasi Puisi Lainnya di Penadiksi :
Diberdayakan oleh Blogger.
close