Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

[Cerpen] Tujuh Hari Tentang Ibu - Devita Andriyani

Sumber gambar : https://pixabay.com/vectors/mother-daughter-umbrella-rain-mom-5709418/

Tujuh Hari Tentang Ibu

Oleh : Devita Andriyani


Sore itu, dibersihkannya bunga-bunga dan daun-daun yang tercecer di depan rumahnya.  Lalu memandang ke langit sore itu begitu lama. Melihat dengan bahagia langit di atas dengan segala keindahannya.  Ada rasa bahagia yang tak bisa diukur dengan uang saat dirinya begitu lama melihat langit sore. Tiba-tiba tanpa disadarinya ia menemukan secarik kertas dengan gambar ibu yang menggendong anaknya. Saat itu ketika  menemukan secarik kertas itu ia mulai mengingat kembali sosok ibunya. Rentetan masa lalu bersama ibunya mulai kembali muncul.

Dua detik berikutnya ia mulai meneteskan air mata ketika teringat sosok Ibu. Lalu pada detik ke empat ia masuk ke rumah mencari beberapa lembar kertas dan menggambar wajah ibunya. Ia menggambar wajah ibunya dengan pensil. Tiap kali goresan-goresan itu dibuat di beberapa lembar kertas ia selalu tersenyum. Dengan hati-hati ia menggambar sosok ibunya. Saat itu aa merasakan bahwa sosok ibunya masih ada.

Hari itu ia merasa bisa merasakan rindunya akan kehadiran Ibu. Rasa rindu yang selalu menghampirinya. Rasa rindu yang membuat ia tak bisa tidur malam. Ya rasa rindu membuatnya ingin bertemu sosok Ibu. Sosok Ibu yang baginya begitu berarti bagi dirinya saat hidup. Sosok Ibu yang meski cacat fisik namun gigih berjuang. Sosok Ibu yang sabar saat ia melakukan kesalahan. Sosok ibu yang selalu tiap pagi mengajak ia untuk berdoa. Dan sosok Ibu yang mengajarinya tentang hidup yang harus selalu bermakna.

Hari itu ia tenggelam dalam pikirannya. Selalu memikirkan Ibu. Ibu yang telah pergi meninggalkan dunia. Ibu yang telah memberikan jejak-jejak terakhirnya saat di dunia. Dan Ibu yang selalu memberikan yang terbaik  baginya sebagai seorang anak satu-satunya.

Sudah empat jam ia menggambar Ibunya. Ia menggambar Ibunya dengan berbagai aktivitas. Mulai menggambar Ibunya saat membaca novel-novel karya Helvy Tiana Rosa. Menggambar Ibunya saat memasak masakan favoritnya yaitu sup jagung. Menggambar Ibunya saat menulis cerita pendek. Menggambar Ibunya saat menyapu tiap sudut ruangan di rumah. Menggambar Ibunya saat berjualan gendar pecel di pasar.Dan yang terakhir menggambar Ibunya saat diceraikan Bapak.

Baca Juga : [Cerpen] Kuterima Takdirmu dengan Ikhlas - Lusi Rahmawati

Ia merasa waktu empat jam itu adalah kesempatan untuk bisa kembali mengulang jejak-jejak terakhir saat masih bersama Ibunya. Kesempatan saat ia masih merasakan perjuangan tiada henti seorang ibu. Kesempatan saat ia masih merasakan kasih sayang ibu. Dan kesempatan saat ia masih melihat pertolongan Tuhan meski ada ketidaksempurnaan dalam fisik Ibunya. Ia selalu teringat akan saat-saat terbaik ketika Ibunya masih ada.

“Nak, jadilah anak yang baik. Belajarlah dengan baik. Ibu selalu berharap kau yang terbaik. Sudah lama ibu berjualan gendar pecel ini Ibu lakukan buat kau. Kau anakku satu-satunya. Kau anak kebangganku. Kau adalah lilin kecil di setiap musim kehidupan Ibu. Jangan kau melihat hidup orang lain yang lebih enak. Kau harus berjuang dengan hidupmu.” Nasehat Ibunya selalu teringat hingga kini.

“Ya Ibu aku akan jadi anak kebangganmu. Sebagai anak aku ingin membahagiakanmu. Meski Ibu memiliki kekurangan fisik aku selalu bersyukur dengan apa yang kumiliki.”

“Selalu berdoa, berharap dan bersyukur Nak. Hidup ini hanya sekali. Jangan kau lakukan yang sia-sia. Semua yang kau miliki itu adalah pemberian Tuhan.”

“Ya Ibu…aku mau belajar berdoa, berharap dan bersyukur apapun keadaaannya. Sebab Tuhan itu selalu baik. Hari ini esok dan selamanya.”

Kini ia sendiri di rumah sejak ibunya pergi. Ia merasa tak ada lagi orang yang menemani. Ia ditinggal Ibunya saat usianya 15 tahun. Usia yang baginya masih tergolong sangat muda. Namun di usianya yang masih muda itu ia harus menerima kenyataan hidup ditinggal orang yang sangat dikasihinya.

Dalam kesendiriannya ia kerap melamun. Dalam kesendiriannya ia kerap tanpa sadar memanggil ibunya yang sudah tiada. Dalam kesendiriannya ia merasa tak ada satupun orang mengerti akan hidupnya. Dan dalam kesendiriannya ia kerap merasa kesepian. Ia tak tau bagaimana caranya mengusir kesepian ini. Rasa kesepian ini kerap menghampirinya. 

Namun kesepian yang dirasakannya itu tak berlangsung lama. Karena ia memiliki kesibukan berjualan kue pancong di pasar. Sudah sejak usia 12 tahun ia berjualan kue pancong di pasar. Dari uang saku yang diberikan oleh Ibunya ia menyisihkan modal untuk usaha. Kesibukannya berjualan kue pancong itu membuatnya bisa sedikit melupakan tentang Ibunya. Sejak Ibunya meninggal ia menjual kue pancong sekitar jam tujuh pagi hingga sebelas siang.

Sudah dua hari ini ia melakukan aktivitas menggambar  Ibunya. Dalam dua hari ini aktivitas yang digambar tentang ibunya sama. Ia merasa seperti beban pikirannya berkurang jika menggambar  Ibunya. Ia merasa ada rasa lega di hatinya setelah menggambar ibunya.

Baca Juga : [Cerbung] Setumpuk Rasa - Yuliana Fajriyah

Di hari berikutnya ia mulai aktivitas  baru yaitu menulis kisah – kisah Ibunya saat ia masih duduk di bangku kelas 4 SD hingga kelas 6 SD. Ia menuliskan kisah – kisah Ibunya saat menolong tetangganya saat sakit. Ia menuliskan kisah-kisah saat Ibunya menolong orang kecelakaan di jalan. Dan ia menuliskan kisah saat ibunya menjadi seorang relawan berbagi nasi di komunitas LENSA (Lentera Kasih Untuk Sesama )

Entah kenapa sejak Ibunya telah meninggal dunia aktivitasnya mulai bertambah. Ia merasa dengan aktivitas-aktivitas yang baru ini ada perasaan senang di hatinya. Hatinya yang sedih mulai terobati dengan aktivitas baru yang ia kerjakan. Ia rindu suatu saat nanti bisa mencontoh Ibunya. Ibu yang telah digambar dan ditulisnya. Ia rindu saat menjadi Ibu ia bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Di hari yang ke empat  ia menulis kisah Ibunya yang terakhir.  Dan hari itu adalah hari terakhir menulis kisah Ibunya. Ia menuliskan kisah Ibunya saat pernah mendoakan teman kerjanya di pasar yang mengalami sakit stroke. Ibu mendoakan temannya itu dengan iman dan percaya pada Tuhan. Dengan doa secara Kristen Ibu mendoakan teman kerjanya ini dengan tulus. Di hari ke lima ia menyanyikan lagu tentang Ibu yang berjudul Doa Untuk Ibu yang dinyanyikan oleh Pasha Ungu. Lalu di hari ke enam ia menyanyikan lagu Pesona Potretmu yang dinyanyikan oleh Ada Band.

Di hari ke tujuh ia membuat lima belas kue pancong untuk dibagikan ke tiga Ibu yang berjualan di pasar Blauran Salatiga. Masing -masing Ibu diberi lima buah kue pancong. Ia ingin membagikan di pasar itu karena dekat tempatnya berjualan. Ia  senang di hari  ke tujuh itu ia membagikan lima belas kue pancong ke tiga Ibu yang ada di pasar Blauran itu.

Sudah tujuh hari ini ia mengenang masa lalunya bersama sosok Ibu dengan menggambar, menulis, menyanyi, dan membagikan kue pancong ke tiga ibu. Hari-harinya terasa ringan. Beban pikirannya mulai lepas. Ia melakukan itu semua karena Ibu adalah sosok yang sangat berarti dalam hidupnya. Ibu adalah sosok yang bisa menjadi kepala keluarga dan Ibu rumah tangga. Dan Ibu adalah sosok yang menjadi teladan dalam hidupnya. Ya hanya Ibu yang ada selalu di hatinya.

Baca Juga : [Cerpen] Dari Aku Untuk Kamu - Amitha Hidayanti

Dan di hari yang ke tujuh juga saat sore mulai tiba tanpa disadarinya ia bertemu dengan seorang Ibu berjualan pisang dan pepaya yang jatuh pingsan di depan rumahnya, Ia kaget saat itu melihatnya. Ada rasa iba di hatinya. Lalu ia membawa Ibu itu ke rumahnya. Dan tidak lama ibu pingsan ia mengajaknya berbicara.

“Ibu, sudah baikan ?”

“Iya, nak.”

“Kenapa ibu tiba-tiba jatuh ?”

“Saya memikirkan anak saya. Anak saya sudah enam bulan ini pergi dari rumah. Ia tak mau sekolah. Ia pergi meninggalkan rumah dan cari kerja. Katanya ingin jadi orang kaya.”

“Oh… ya Bu, kalau begitu ibu tinggal di rumah saya. Dan Ibu akan saya anggap sebagai Ibu saya sendiri.

“Oh… ya nak, tapi bagaimana dengan rumah saya di desa. Saya memang tinggal di desa.

“Ibu boleh tinggal beberapa hari di rumah saya. Tapi kalau Ibu mau pulang ke desa silahkan kembali. Dan kalau Ibu mau tinggal di rumah saya pintu ini selalu terbuka untuk Ibu.

“Ok, trimakasih nak. Ibu bersyukur bisa bertemu dengan anak baik sepertimu.”

Diberdayakan oleh Blogger.
close