Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

[Cerpen] Salman - Rahmi Wahyuni

Sumber gambar : https://pixabay.com/illustrations/moon-star-boy-fishing-dream-4450739/

SALMAN


"Bugh!" Kepalaku terasa sakit. Muka Fendi yg tadi jernih, tidak kelihatan lagi. Ku buka mata dan ku lihat Fendi berdiri melabrak seseorang di sampingku.

"Kamu kenapa! Kalo dia bales, gimana?! Atau klo guru ngeliat"

"Nggak bakal berani bales dia. Guru-guru juga pada rapat noh. Gua udah lama nggak suka sama Farisi ini"

Denyut sakit dikepalaku masih terasa. Kupakaa bergerak ke samping kanan. Pelan. Kena bogem mentah dikepala ternyata membuat badanku ikut lemas.

"Napa, Man.... Salah apa gua ama lu..."

"Lu sering telat masuk kelas, kadang nggak ikut upacara bendera. Bikin benci, tau!"

"Gua kadang nggak enak badan, Man. Sakit. Kadang nggak pingin masuk sekolah sekalian, makanya telat. Nyeger-nyegerin badan dulu".

"Kadang...kadang...Muka lo kaya pedang!", sembur Salman sebelum ia beranjak pergi.

Fendi dan aku saling pandang. Bingung. Si Salman itu, dari awal aku masuk sekolah ini, sudah berapa kali membuat kesal. Tonjok, toyor, labrak. Dan hari ini, kepalaku pula kena hantam tinjunya. Nasib.

"Sakit?" Fendi melirik prihatin kepalaku.

Aku nyengir, "Lumayan"

"Gue waktu kelas 4 sering juga diberondong dia. Pernah kulawan saking marahnya. Gumul kami. Benjol gua"

Lemas tertawa aku mendengarnya. Oo..memang begitu ternyata si Salman itu.

"Main petak umpet didekat kantor guru aja yuk. Hawatir dibenjolin dia lagi kita, klo tetep disini" Fendi.

"Disini aja ya, sudah hampir bel masuk kelas juga. Giliran lo nih yang lempar dadu" Kusorong dadu putih kecil kehadapannya, kemudian kami melanjutkan main ular tangga yang tadi tertunda.

Baca Juga : [Cerpen] Teringat Duka Silam - Putri Simba

***

"Salman hari ini nggak masuk sekolah?", aku bertanya ke teman-teman.

"Nggak", Salsa yang menjawab diantara 3 murid perempuan diseberangku.

"Kenapa nyari Salman, Fendi ada, tuh Madan juga ada klo pingin temen cowok", suara Ifah.

Aku cuma senyum.

"Pingin ngebales jotos kali. Kemarin dia ditonjok Salman dikepala, hahahaha...", Fendi tergelak senang.

Senyumku makin lebar.

"Beneran, Si? Sakit nggak? Sebelah mana yang ditonjok?", suara Wawa.

"Disini nih".

"Sakit?"

"Kemarin sakit, hari ini mulai nggak".

"Ih, Salman emang kek gitu, banyak ditemen dibully dia. Guru aja diajaknya berantem".

"Bener. Kadang kelas 5 kumpul-kumpul, duduk-duduk depan kelas, kena sepak dia".

"Aku pernah ditonjoknya dikepala juga".

"Ama aku jotos-jotosan. Ingat nggak pas kita kelas 4, yang kami bergumul didepan papan tulis?".

"Iya...iya.... Kalo nggak Ibu Sri nyabarin, nggak bakal berenti jotos-jotosan, hahaha...kedodolan banget, hahaha..."

Fendi mengangguk-angguk senang mendengar Madan masih ingat kejadian ia berantem.

"Duit Ibu Nida pernah diambil dia katanya".

What?! Waaahh...

"Beneran?", aku bertamya karena masih belum sepenuhnya percaya.

"Bener. Tanya aja penghuni kelas 2, Ibu Nidanya sendiri yang cerita".

"Abis itu gimana?".

"Nggak tau. Katanya dikasih tau Ibu Nida ke Kepala Sekolah sih. Atau dikasihin Ibu aka kali. Nggak tau juga".

"Salman emang nakal dari kelas 1", suara perempuan. Entah siapa yang berucap dari beberapa temen cewek disekelilingku. Aku belum fokus. Mataku sudah tertuju pada mainan ular tangga saja, yang dari tadi aku bawa dari rumah.

"Main ular tangga yok?"

"Nggak seru". Fendi.

"Monopoli aja. Dari kemarin main ular tangga terus". 

"Ayo...ayo...", Wawa dan Ifah yang menyahut.

"Mainnya gimana?", Salsa.

"Eh? Kamu belum bisa? Payah! Kamu kan udah kelas 5. Aku yang kelas 2 aja udah bisa. Gini nih. Lempar dadu, jalan, kalo sampai Malaysia misalnya, beli. Nanti kalo ada temen yang sampe Malaysia, bayar ke kamu. Banyak duit jadinya kamu, hahaha... Banyak duit mainan aja sih, tapi", Wawa.

Dan langsung saja kami sibuk merubung kertas karton permainan monopoli, di jam istirahat pertama sekolah.

Baca Juga : [Cerpen] Secerca Harapan Dibatas Kesabaran - Starmutic_IR

***

"Jika hasilnya puluhan, misalnya 25, maka yang ditulis 5 saja. 2 nya disimpan. Ditambahkan ke hasil berikutnya. Begini... Faham?", suara Ibu Rini baru saja terdengar telingaku ketika teriakan diluar kelas menyambungnya.

"Buuu...ibuuu...! Bapaaaaakkk...! Salman berantem sama Alfaaaa..."

Salman lagi?

Bu Rini beranjak keluar kelas. Aku dan teman sekelas menguntitnya dibelakang.

Di lapangan depan kelas, Salman dan Alfa sedang asyik berbagi tinju. Baju seragam Salman sudah melambai-lambai terbuka sementara tinjunya terus melayang ke wajah Alfa. Dan Alfa, sambil menangkis dan menghindari tinju Salman, juga terus melayangkan kakinya menyepak betis Salman.

"Eiiii, jangan beranteeeemmm...", Ibu Dewi yang baru keluar dari kelas 1 langsung menjerit mendekat. Tapi ia belum berani mendekat untuk melerai perkelahian tangguh itu.

"Pak Arul! Panggilin Pak Arul", Bu Rini mendatangi Bu Masramah yang baru keluar dari kelas 4. Bu Masramah yang tadi hampir menuju Alfa-Salman, berbalik bergegas menuju kelas 6, saat Pak Arul menjengukkan kepala dari ruang jelas paling ujung itu. Bu Masramah melambai-lambaikan tangan sambil berbicara entah apa, aku belum bisa mendengar suaranya dari depan kelas 3 ini. Yang jelas, kulihat Bu Masramah menunjuk-nunjuk Alfa dan Salman yang masih adu jotos ditengah lapangan. Kemudian terlihat Pak Arul berlari kencang kearah Alfa-Salman dan mendorong kuat keduanya agar saling menjauh. Salman masih merangsek maju hendak terus memukul Alfa sebelum Pak Arul mendorongnya menjauh lagi. Kemudian terdengar serangkaian kata-kata khas guru memberi wejangan pada muridnya.

Aku kembali ke tempat dudukku. Kembali memperhatikan tulisan Ibu Rini dipapan tulis. Soal kali-kalian yang belum selesai. Gimana menyelesaikannya ini?

"Kenapa, Si? Melamun ngeliatin papan tulis?", suara Isah, teman sekelasku, terdengar.

"Tuh, gimana nyelesein soal kali-kaliannya?"

"Nggak tau. Tanya Ifah tuh, kali aja tau"

"Apa?", Ifah yang baru masuk kembali ke kelas bertanya.

"Tuh, gimana nyelesein perkalian Ibu tadi...".

"Nggak tau. Aku aja belum selesai nyatat, terkaget-kaget dengar teriakan tadi".

"Ibu Rini kita, mana?"

"Ke kantor. Bawa Alfa sama Salman ke kantor sama guru2 lain".

Pending. Baruuu aja dapet pelajaran baru tentang Matematika, belum tau gimana hasil akhir dari angka-angka dipapan tulis itu, ada yang berantem lagi. Parahnya, Salman lagi. Hobinya berantem kah?

Baca Juga : [Cerpen] Diambil Hikmahnya Saja - Uli Nasifa

***

Minggu pagi. Aku berlari lebih dulu menuju rumah sepupuku sebelum kedahuluan mama sampai. Seperti biasa, nenek cerewet alias mama kandungku itu pasti akan berteriak-teriak khawatir. Jangan lari cepat-cepat lah. Jalan biasa aja kenapa lah. Dan apalah-apalah yang lain khas emak-emak menkhawatirkan anaknya. Take it easy, mom. Aku sudah besar. Sudah bukan bayi lagi. Sudah hampir kelas 4 SD. Tak usahlah terlalu risau. Sudah jagoan ini.

"Farisiiii...!", adik sepupuku yang berteriak setelah melihatku berlari mendekat kearahnya. Taya. Kakak sepupuku yang sedang menjemur sarung, terlihat menoleh.

"Ciciiiihhh...", ujarnya sambil memandang ibuku. Baiklah, mom. Panggilanmu disini adalah cicih. Maka cih cih saja sana. Eh? Maksudku apa ya? Aku berfikir sebentar. Ah, entahlah...

Ibu mereka menjengukkan kepala dari pintu depan. Ia sedang membawa baskom cucian ke dalam rumah.

"Ada kue", Taya.

"Ada HP baruuuu...", Ka Ais.

Wah, HP baru nih Ka Ais. Warnanya hitam. Mirip HP androidku dulu yang sekarang rusak. Mudah-mudahan suatu hari nanti aku punya yang begini juga. Uangku dan mom belum cukup untuk beli HP baru. Sabaaaaarrrr.

"Pinjam dong, Ka"

"Nih, sebentar aja. Kaka buat tugas-tugas sekolah".

"Okay", kupencet tombol on. Terlihat sederet aplikasi. Ada beberapa game, asyiiiikkk...

"Nggak usah, Si. Kaka buat tugas-tugas sekolah", Momku.

"Sebentar". Janganlah berisik, Momku. Salah satu game Ka Ais terlihat keren.

"Biar aja, Cih, nanti Ais ambil kalo sudah cukup waktu dipinjeminnya..."

Aku nyengir senang.

Baca Juga : [Cerpen] Sesal Di Ujung Perjalanan Waktu - Defras Espen

"Khawatir terlempar. Farisi ini bisa lempar HP kalo kalah main game", ayolah Mom, jangan bongkar kartuku disini. Game baru saja loading setengah.

"Waaahh, jangan dilempar. Kaka cape belinya, bela-belain nggak jajan beberapa hari".

Oh gitu, besok-besok lah saya nabung uang jajan.

"Denger nggak, Si? Ambil aja, Ka, khawatir beneran jatoh tu HP", Momku.

"Nggak. Jangan dilempar ya, Si. Nggak Kaka pinjimen lagi ntar. Susah Kaka ngedengerin kata-kata Guru kalo HP ini rusak".

"Okay". Game keren baru saja dimulai.

***


"Sudaaahh...kaka lagi yang main HPnya..."

Tidaaaakk...monster Baracuda baru saja kukalahkan. Tolong jangan diambil dulu, Kak. Monster Megalodon masih menunggu untuk ku kalahkan.

"Pinjeeemmm...", tangan Kak Ais meraih HP ditanganku. Monster Megalodon terlihat terkekeh senang, tak jadi kukalahkan. Baiklah.

Ku edarkan pandangan, Kak Ais masuk kedalam rumah, mungkin mengamankan HP barunya. Taya sedang  mengajak ayahnya bicara diujung jalan sana. Sesekali tangannya menunjuk buah manggis yang masih bergelantungan dipohon di depan mereka berdiri.

"Ikut ngaji kah, Si? Ke tempat Kakek Rahman", Ka Ais. Ia muncul kembali diberanda tempat aku duduk dari tadi.

"Kakek Rahman yang dulu ngajarin saya ngaji?".

"Iya".

"Izin ke mama dulu ya. Ntar dicariin".

"Sudah Kaka bilangin tadi, pas kaka kedapur. Mama Farisi lagi goreng ikan sama mama Kaka".

"Okelah kalo begitu".

"Siiipp. Tayaaaaa...! Ngaji ayoooo...".

"Asiaaaappp".

Bertiga kami jalan kaki menuju rumah Pak Guru Ngaji. Rumah beliau tak terlalu jauh. Sampai diberanda, anak-anak lain sudah ada diteras.

"Kakek Rahman lagi ke kubur", salah seorang dari mereka meneriaki kami.

Baiklah.

"Kita kesamping sekolah Kakak dulu yok. Kemarin ada gazebo baru".

"Disekolah SD Kakak dulu?", Taya.

"Ya. Om Itun sma Om Sian yang bikin".

"Ayoooo...", Taya.

"Nggak papa ikut duduk? Orang yang bikin kita yang numpang duduk".

"Nggak papa. Emang buat orang-orang yang pingin numpang duduk, kata Om Itun waktu Kaka lewat pas mereka bikin gazebonya itu dulu".

"Okelah kalo begitu".

Kembali kami jalan kaki menuju bangunan SD tak jauh dari rumah Guru Rahman. Sesampai di gazebo, Kak Ais langsung bersandar di dinding gazebo yang melebihi tinggi kepala Kak Ais saat duduk. Lumayan besar gazebo ini. Muat utk 5 orang lebih, duduk. Dindingnya dari batang bambu yang disusun tanpa dibelah, diapit kayu kecil diujung atas dan bawahnya. Kalau saja dindingnya dari kayu, maka akan kusebut gardu satpam saja. Aku duduk didekat Kak Ais semenara Taya melangkah ke samping gazebo.

"Kemana, Ya?".

"Ke belakang gazebo, klo nggak salah ada pohon jambu biji. Kali aja ada buahnya".

"Jangan jauh-jauh. Kakek Rahman datang, ngaji kita".

"Yaaa".

"Di sekolah Kaka ada beberapa kali hilang sandal, Si. Dari kata yang ngeliat, yang ngambil anak cowok. Katanya dari SD Farisi atau yang dekat Rumah Sakit".

"Ha?!".

"Ni ada videonya pas sandal guru Kaka dibawanya lari", Ka Ais mengeluarkan HP barunya, dan membuka sebuah video. Video amatir itu memperlihatkan seorang anak laki-laki sedang celingak celinguk kiri kanan, memperhatikan arah belakangnya sebentar sebelum dengan cepat menyambar sepasang sandal didepannya. Abak dalam video itu kemudian lari dan kamera sempat mengiringinya sebelum serumpun pohon, entah pohon apa, menghalangi anak laki-laki dalam video itu berlari. Kemudian gelap. Video berakhir.

"Kenal?", aku menatap Kak Ais yang baru saja menanyaiku. Sepertinya aku mengenalnya, Ka. Mirip Salman. Tapi video itu terlalu singkat. Dan pengambilan gambarnya dari jauh. Terlalu cepat memastikan kalo itu Salman. Tapi rambut dan postur tubuhnya...benar-benar mirip Salman. 

Aku sudah hampir menjawab pertanyaan Ka Ais sebelum bunyi krasak  disamping gazebo menarik perhatian kami. Taya muncul dan langsung berdiri dihadapan kami duduk.

"Ada maling", bisik Taya.

Aku kaget.

"Dimana?", Kak Ais juga terlihat kaget. Tapi ia masih bisa ikutan berbisik seperti Taya.

"Dibelakang sekolah. Ngincar sepeda balap. Untung sepedanya berkunci".

Aku lega.

"Teriakin", Kak Ais, "atau tegur".

"Belum berani. Taya liat dia bawa pisau. Ngorek-ngorek kunci sepeda".

Aku kaget lagi.

"Mungkin sepedanya juga. Hilang kunci", Ka Ais.

"Nggak tau, tapi seingat Taya, sepeda balap itu punya Om Itun. Yang dipakai beliau kemarin kewarung Alap, Ka...".

Ka Ais yang kutatap, terlihat kaget lagi.

"Gede nggak malingnya?".

"Kaya Kaka. Mirip yang kaya divideo. Yang ngambil sandal di video...".

Aku dan Kak Ais saling pandang. Orang yang sama kah? Salman? Ah, mudah-mudahan bukan.

"Disini nih dibelakang sekolahan. Mungkin dari dinding gazebo sebelah situ keliatan. Kalo dinding gazebo ada lubangnya untuk ngeliat, atau ngintip".

Aku memandang dinding gazebo sebelah dalam yang ditunjuk Taya. Kak Ais juga sedang melihat kearah sana. Didorong rasa penasaran, kami merangsek kedalam gazebo. Mudah-mudahan benar ada lubang disela-sela dinding bambu disana.

Belum sempat kami mencari lubang untuk mengintip, terdengar suara 'brak!' tidak terlalu keras dari belakang gazebo. Buru-buru aku memgintip dari sela bambu ditengah gazebo. Nihil. Hanya ada pohon bonsay, pohon bambu Jepang, dan dinding sekolah SD diujung sebelah sana. Tapi ada sedikit terlihat ujung roda sepeda yang terlihat, menurutku, terlihat sedikit bergerak-gerak.

"Sebelah sini, Si, keliatan". Kak Ais. Taya terlihat mengangguk2 sambil menatapku.

Aku mengendap menuju Kak Ais, kesebelah kanan dinding gazebo. Terpaksa mengendap, berjalan sambil jongkok karena kalau aku berdiri, kepala dan sebagian badanku mungkin saja akan terlihat dari kejauhan sana, karena dinding gazebo ini hanya setengah menutup gazebo.

"Emang mirip anak cowok yang ngambil sendal disekolah Kaka. Mirip yang divideo", Ka Ais.

Aku kaget lagi. Salman? Mudah-mudahan bukan.

Aku mengintip. Kali ini terlihat jelas sebuah sepeda balap yang sedang diutak-atik seorang anak laki-laki. Yang terlihat baru punggungnya. Tapi aku sudah merasa lemas saja. Punggung itu sangat mirip dengan  punggung anak laki-laki yang meninju kepalaku beberapa hari yang lalu. Dan sangat mirip punggung Salman, kakak kelasku disekolah, yang kemarin beradu jotos dengan dengan Alfa. Dilapangan sekolah. Jiga rambutnya. Jika itu memang Salman, apa yang harus kulakukan?

Anak itu terlihat berhenti berkegiatan. Memasukkan sesuatu yang bergagang ditangannya kedalam saku celana dan mulai melirik kekiri kanan. Ia melirik kearah kirinya lagi sebelum memutar badan melihat situasi dibelakang punggungnya.

Aku refleks merunduk. Padahal tidak menunduk pun badanku pasti tidak kelihatan karena terlindung dinding gazebo. Kulirik cepat Ka Ais dan Taya. Syukurlah mereka masih merunduk juga, membuatku sedikit lega karena dengan begitu kami tidak terlihat oleh anak laki-laki disana. Parahnya, ia memang Salman! Yang beberapa hari yang lalu membuat kepalaku berdenyar sakit oleh tinjunya.

Sedang apa dia disana? 'Ada maling...', kata-kata Taya teringat lagi. 'Ngincar sepeda...'. Tidaaaakkk...kakak kelasku... 'Bawa pisau...'. Aku terduduk lemas. Kena tinjunya saja bikin kepalaku nyut-nyut sampai sore. Pisau?

"Dia beneran motong kunci sepeda, Si...", Ka Ais berbisik. Taya kembali mengangguk-angguk. Aku mengintip lagi. Benar. Salman menggerus pengaman sepeda dengan alat yang tadi dimasukkannya dalam saku celananya. Seperti pisau belati. Bagaimana ini? Kemana orang-orang sampai ia berani beraksi? Apa yang harus kami lakukan?

"Jadi gimana? Kakak belum berani negur. Khawatir marah. Kita dikejarnya sampe kemana-mana. Ada pisau dia. Kata satpam sekolah Kaka, larinya cepat".

Benar. Aku pernah melihatnya menang lomba lari saat jam pelajaran olahraga mereka.

"Diteriakin aja?", Taya berinisiatif.

"Belum berani juga. Khawatir kita yang dimarahi orang-orang. Ini jam tidur siang. Kaka pernah dimarahi Om Sian waktu bangunin dia dan temennya pas Kaka perlu pinjem pompa sepeda".

Aku mengangguk, "Apalagi kalo kita disangka ikut komplot. Ingat nggak pas kita dimarahi waktu disangka ikut ngambil buah klengkeng? Padahal kita ikut ngeliatin aja", aku berbisik seperti Ka Ais. Khawatir terdengar Salman.

"Jadi gimana?"

Aku diam sejenak. Kemudian teringat sesuatu, "Rekam pakai HP Kaka".

Ka Ais terlihat kaget sebentar, kemudian senyum. Jempolnya terangkat sebelum ia merogoh kantong celananya untuk mengeluarkan HP. Ia memainkan jempolnya sebentar kemudian mengarahkan kamera kelubang kecil disela dinding bambu gazebo.

Terdengar suara 'brak' dari Salman. Aku mengintip lagi. Ia masih memggerus dan mencongkel kunci pengaman sepeda. Berhentilah, kawan. Tugas kita belajar disekolah. Usahlah berkelakuan begitu....

"Apa itu, oy!". Suara serak laki-laki dewasa terdengar. Kulihat Salman berdiri cepat sambil memasukkan pisau kesakunya, juga dengan cepat. Ia berbalik saat seorang laki-laki dewasa mendekatinya. Om Sian.

"Nggak papa, Om. Ngeliatin ban sepeda nih. Kaya kempes".

"Beneran?".

"Nih, nih, ban depan". Salman menutup kunci ban dengan badannya dan menunjuk ban depan sepeda balap. Saat itu Taya berdiri, membuat Ka Ais menepuk jidatnya sendiri.

"Adduh! Tetap jongkok, Ya", bisik Ka Ais sambil tetap jongkok. Kulihat Salman mengetahui keberadaan Taya. Gawat! Aku harus tetap jongkok seperti Ka Ais saja.

"Mana? Ini kencang bannya. Belajar boongin saya ya? Orang mana sih ni anak. Kayak bukan orang sini. Orang mana kamu? Awas sana, jauh-jauh dari sepeda orang. Ntar disangka orang maling, jongkok-jongkok samping sepeda orang. Ini kayaknya sepeda Itun nih. Sana! Eh?! Kuncinya kok putus? Kamu yang mutusin?". Kulihat Om Sian memandangi Salman sembari mundur selangkah, "Bawa apa kamu? Pisau ya? Gunting? Kunci Inggris?!" Om Sian mulai mendekati Salman dan seperti hendak menggeledah.

"Nggak, Om. Saya nggak ngapa-ngapain. Ya kan, anak kecil?" Salman menunjuk Taya sambil sesekali melirik Om Sian. 

Om Sian terkecoh. Ia balik badan memandang Taya. Saat itulah Salman melarikan diri secepat kilat. Kaget ada yang bergerak cepat, Om Sian balik memandang Salman yang hilang sekejap mata dibalim tembok sekolah. 

"Oy! Kemana lariii!! Oy, maling! Eh? Kali aja bukan maling. Oy, bocaaaahhh. Siniiii!!". Om Sian mengejar. Tapi kalah cepat. Aku berdiri. Kulihat dari ujung koridor sebelah sana, punggung Salman sudah melesat seiring kakinya berlari cepat. Kemudian hilang tertutup tembok. Kemudian sekilas kulihat ia mengayuh sepeda menjauh. Pulang. Atau entah kemana. Yang jelas jika ia terus mengayuh sepedanya +- satu setengah kilo lurus, kemudian belok beberapa meter, maka ia akan sampai ke sekolah kami. Ah, Salman...

"Kawan kamu ya, Taya? Kamu anak Upi kan ya? Kawanmu kah yang tadi?!", Om Sian kini berbalik kearah kami.

"Bukan" Taya menggeleng cepat sebelum Ka Ais berdiri.

"Bukan teman kami Om. Orang mana juga nggak tau. Tapi mirip sama yang katanya ngambil sendal disekolah saya".

"Beneran?"

"Iya, beneran. Nih ada videonya. Kami juga sempat merekam dia motong kunci sepeda barusan".

"Eh? Beneran dia yang motong kunci? Wah, dia bilang tadi nggak. Jadinya nggak ku tangkap. Kalian kenapa diam aja, harusnya teriakin atau panggil warga".

"Pingin juga tadi. Tapi pas liat dia bawa pisau, kami video aja".

"Alah! Sama pisau aja takut. Tapi kalo dia berani ngelukain, mikir juga sih".

"Ya, itu".

"Liat videonya sini"

Kami bergabung dengan Om Sian dan beberapa orang yang muncul setelahnya. Kasak kusuk terdengar. Seorang ibu-ibu kaget berharap pelaku bukan anaknya. Setelah Om Sian meyakinkan bahwa Salman bukan dari wilayah sekitar warga sini, baru ibu itu lega. Seorang laki-laki muda yang kemudian kaget, membolak-balik sepeda balap sambil mengecek kunci sepeda yang sekarang putus. Terdengar makian dan ucapan, "...kunci baru beli..." dan bla...bla...bla...yang lain. Aku malas mendengar. Lebih senang memperhatikan Ka Ais dan Bapak-Bapak yang lain yang sedang mengeluarkan smartphone masing-masing. Ada kata-kata "...kirim ke HP ku...", "...video bukti...", dll.

Salman...

Ayo kita menuntut ilmu saja...

 ***

Kami berjalan pulang menjelang senja. Rencana ngaji, tak terealisasi. Entah jadi ngaji atau tidak karena kulihat Guru Rahman juga ada disekitar 'sepeda balap yang putus kunci' tadi.

"Handak dilaporkan ke polisi katanya klo sekali lagi ketahuan, anak cowok tadi", Ka Ais.

"Supaya jera", Taya.

 "Kenal nggak sama orangnya, Si? Sama anak cowok yang congkel kunci sepeda tadi".

 "Mmm...mirip kaya yang divideo kawan Kaka, yang mbawa lari sendal".

 "Iya. Mungkin orang yang sama", Ka Ais.

 "Iya mirip sekali", Taya.

"Andai ketangkep tadi, babak belur. Om Sian sama Om Itun itu nggak segan mukul klo ada anak-anak kelakuannya belum bagus", Ka Ais.

Salman...

"Andai temen Kaka, Kaka bilangin supaya nggak berbuat gitu lagi. Nggak bagus kelakuan begitu".

"Sama. Andai temen Taya, Taya caplok mukanya".

Aku ketawa. Ka Ais kaget sambil memandang Taya. Kami terus berjalan kaki. Hampir magrib, mama sudah pasti menantiku dengan sangat. Badanku juga sudah gatal ingin mandi. 

Salman...

Jika besok kita ketemu disekolah, apa yang harus kukatakan padamu?


TAMAT.

Diberdayakan oleh Blogger.
close