Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

[Cerpen] Menua Bersamamu - Maya Asytaqu Ilayk

MENUA BERSAMAMU

By Maya Asytaqu Ilayk


"Selamat ulang tahun, Mas," ucap Nea sambil bergelayut manja di pundak Haris yang sedang sibuk di meja kerjanya. Kedua tangannya melingkar di leher suaminya. Ia mendaratkan kecupan mesra di pipi Haris. Lelaki hebat yang telah menemaninya selama lima belas tahun berumah tangga. 


Haris menggenggam jemari Nea dan mengecupnya. "Terima kasih, Sayang." Haris menyudahi pekerjaannya. Laptop yang menyala segera ia matikan, kemudian menarik sang istri agar duduk di pangkuannya. 


Kini Haris yang memeluk erat tubuh ramping Nea dari belakang. Lelaki itu menempelkan dagunya pada ceruk leher sang istri. "Mana, kadonya untuk Mas?" Suara berat Haris dan napas hangatnya menciptakan desiran halus di dada Nea. Seulas senyum menggembang di bibir mungilnya. 


"Maaf, Nea nggak punya kado buat Mas Haris," jawab sang istri sembari menikmati kecupan lembut Haris pada leher jenjangnya. 


"Kalau begitu, Mas minta sendiri, deh, kadonya, boleh?" bisik Haris. 


"Boleh, apa pun itu pasti Nea kasih, kecuali ...." 


Nea melonggarkan tangan kokoh Haris yang melingkar di tubuhnya, kemudian bangkit. Dengan wajah sendu ia melangkah menuju jendela yang terbuka di salah satu sudut kamar. Di luar sedang gerimis, tetapi yang basah kedua mata bermanik hitam pekat miliknya. 


Haris menyusul Nea yang berdiri memandangi hujan. Ia berdiri tepat di samping sang istri. 

Baca Juga : [Cerpen] Pulang - Laily Qadarsih


Hatinya pilu melihat istrinya mengerjap, menahan bulir bening di kedua sudut matanya agar tak tumpah. Lelaki bertubuh tinggi itu mengelus rambut panjang Nea yang terurai. Menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi pipi istrinya ke belakang telinga. 


"Kecuali apa?" Haris menanyakan kata-kata Nea yang tak diteruskannya tadi. Sebenarnya Haris sudah tahu apa yang dimaksud oleh istrinya. 


Nea menatap lekat wajah suaminya. Kedua iris kecokelatan milik Haris menatapnya lembut.


"A-anak, Mas. Mas Haris tahu 'kan, itu adalah satu-satunya hal yang nggak bisa Nea berikan," ucap Nea bergetar. 


"Mas tak pernah menutut itu, Nea. Mas paham itu di luar kuasa kita." Haris mengenggam erat jemari istrinya, mencoba menguatkan. Ditatapnya wajah ayu sang istri lekat-lekat. 


"Tapi, Mas pasti mau 'kan, punya anak? Maafkan Nea, Mas. Seharusnya Nea merelakan Mas Haris untuk menikah lagi," ucapnya lirih. Satu-dua bulir bening mulai berjatuhan. Haris mengusap air mata di pipi istrinya. 


"Dengar, Nea. Mas hanya mau punya anak jika itu dari kamu. Artinya, kalau pernikahan kita tidak dikaruniai buah hati, itu bukan masalah untuk Mas. Kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Itu sama halnya kamu menolak takdir-NYA, berdosa, Nea," tegas Haris. 


Haris menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya. Nea hanya bisa menangis, ia tak bisa lagi berkata-kata. Haris begitu menyayangi dan menghargai dirinya. Lelaki itu menerima dirinya apa adanya. Nea tahu itu, hanya saja, ia selalu sedih manakala melihat suaminya bermain dengan anak kecil di sekitar komplek rumah mereka. Terkadang, ia merasa cemburu dengan wanita di luar sana yang mengendong bayinya. Ia merasa tak mampu memberi kebahagiaan yang utuh untuk  suaminya. 


Wanita mana yang tak ingin disebut sempurna? Menikah dengan Haris dan melahirkan keturunan untuk suaminya begitu didamba oleh Nea. Tak hanya sebatas do'a, sepasangan suami istri itu telah melakukan berbagai pengobatan medis maupun alternatif demi mempunyai keturunan. Namun, hingga rambut di kepala keduanya memiliki dua warna, kehadiran sang buah hati tak kunjung mereka dapatkan. Usia Haris sudah menginjak empat puluh lima tahun, begitu pun dengan istrinya. Mereka lahir di tahun yang sama. Itu artinya, kemungkinan untuk hamil bagi Nea sangatlah kecil. 

Baca Juga : [Cerpen] Cemburu - Uli Nasifa


Haris lelaki penyabar, ia tak pernah mempermasalahkan tidak adanya keturunan dari pernikahannya dengan Nea. Baginya, kebahagiaan rumah tangga itu tidak bisa diukur oleh ada atau tidaknya seorang anak. Dan setiap rumah tangga pasti mempunya ujiannya masing-masing. 


Cinta Haris kepada istrinya tak pernah pudar dimakan usia. Haris selalu memperlakukan istrinya dengan lembut, sama seperti saat pertama menikahinya, tak ada yang berubah. Nea adalah wanita istimewa dalam hidupnya. Lima belas tahun wanita itu setia mendampinginya dalam suka dan duka. 


Haris dan Nea sama-sama berprofesi sebagai guru sekolah menengah atas. Haris mengajar di SMA negeri sedangkan istrinya mengajar di SMK swasta. Itulah yang membuat keduanya tak merasa kesepian meski belum dikaruniai momongan, karena mereka mempunyai anak didik yang jumlahnya ratusan. Berbagai tingkah polah anak didiknya membuat keduanya terhibur. Mereka mengajar dengan sepenuh hati layaknya mendidik anak sendiri. 

Baca Juga : [Cerpen] Faith - Amerta Delavera Ardani


***

Sabtu malam saat Haris pulang dari masjid, Nea memberi kado untuk suaminya. Bingkisan kecil dengan hiasan pita merah hati telah ia siapkan sejak kemarin. 


"Mas, ini kadonya. Maaf terlambat, ya," ucap Nea  sembari mengulurkan bingkisan itu. 


"Wah, dapat kejutan, nih, dari istri tercinta! Apa, ya, isinya?" Haris mengguncang-guncang kadonya, menerka isi di dalamnya. 


"Buka aja, Mas."


Haris membuka bingkisan itu dengan rasa penasaran. Wajah istrinya tampak gembira.


Ternyata isinya sebuah amplop putih. Haris semakin penasaran. Kemudian ia membukanya, ternyata berisi sepucuk kertas. Haris membuka dan membacanya. 


"Bismillah, bulan depan kita umrah bareng, ya, Mas Sayang." Haris mengulang sekali lagi kata-kata yang dituliskan Nea di kertas itu seakan tak percaya. Bunyinya sama, berarti ia tak salah baca. 


Haris kaget sekaligus terharu. Pergi ke tanah suci adalah bagian dari doa yang ia langitkan di setiap sujudnya. Hadiah dari sang istri begitu istimewa baginya. Allah menjawab do'anya melaui perantara Nea. Ia berucap syukur kepada Yang Maha Kuasa dan berterima kasih Nea. Haris memeluk erat istrinya dan mendaratkan kecupan lembut di pucuk kepalanya. 


Baru beberapa bulan yang lalu Haris lulus ujian sertifikasi guru. Sedangkan Nea sudah beberapa tahun lebih dulu lulus sertifikasi. Gaji yang diterima Nea tentu lebih besar daripada suaminya, karena ditambah dengan tunjangan sertifikasi.

Baca Juga : [Cerpen] Jejak Persahabatan - Ihsan Ardianto


Meskipun begitu, Nea tak pernah menuntut banyak kepada Haris, juga tak merendahkan suaminya. Ia tetap menerima berapapun nafkah yang diberikan Haris kepadanya. Apalagi rumah yang mereka tempati dan dua buah kendaraan roda dua yang mereka miliki adalah hasil dari suaminya. 


Nea begitu bersyukur bersuamikan Haris. Baginya, dengan Haris bisa menerima dirinya apa adanya itu sudah lebih dari cukup. Selain penyabar, Haris memiliki hati yang tulus. 


***


Di depan Ka'bah, sepasang suami istri itu khusyuk berdoa. Meminta pada pemilik alam semesta agar menyatukan mereka berdua sehidup sesurga.


TAMAT.


Tarakan, 25 April 2024.

Diberdayakan oleh Blogger.
close