Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

Risalah Menuju Islam Kaffah

sumber foto : https://pixabay.com/id/vectors/muslim-sholat-berdoa-masjid-mesjid-7059888/

Manusia yang terus mengevalusi dirinya serta memperhatikan amalnya akan menjadi pribadi yang makin bertakwa. Makna takwa di sini bukan hanya sekadar melakukan ibadah-ibadah mahdhoh. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah menjelaskan makna takwa sebagai berikut :

“Orang yang bertakwa adalah mereka yang menjauhi hal-hal yang diharamkan dan menunaikan berbagai kewajiban.”

Keterikatan manusia dengan ajaran Islam menjadikannya mampu mengamalkan kebaikan, melaksanakan aktivitas yang diwajibkan Allah dan meninggalkan aktivitas yang diharamkan Allah. Keterikatan ini butuh adanya muyul/kecenderungan manusia pada hal yang fitri padanya. Yaitu saat nuraninya mengajak hidup pada jalan petunjuk (hidayah) yang benar menurut akalnya.

Umar ibnu Khattab ra. berpesan : “Haasibu anfusakum qabla antuhasabu.” Hisablah dirimu sebelum kelak engkau dihisab. Ucapan ini menjadi motivasi bagi setiap muslim untuk muhasabah diri. Bahkan Imam Mawardi mengajarkan untuk melakukan muhasabah ini setiap malam.

Selain muhasabah atas dosa-dosa sendiri, untuk pribadi yang belum taat pada Allah, juga tak kalah pentingnya untuk memuhasabahi keluarga, masyarakat, serta negeri ini. Selama syariat Islam terus dilalaikan oleh kaum muslimin, penerapan hukum Islam tak bisa tegak sempurna di bumi ini. Padahal, sebagai orang beriman selalu mengharapkan Allah menurunkan berkah dari langit dan bumi.

Baca Juga : Muhammad bin Isa (Abu Ja'far Ath - Thabbai Guru Imam Abu Dawud)

Allah SWT berfirman :

"...Masuklah ke dalam Islam secara kaffah. Dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaithan." (QS. Al-Baqarah : 208)

Jika umat Islam enggan menyempurnakan keimanannya, tak mau patuh pada penerapan Islam kaffah, menolak Islam ditegakkan dalam institusi negara, maka sepanjang itu pula setiap waktu yang dilalui tidak mendatangkan keberkahan dari langit dan bumi. Seyogyanya ayat ini menjadi renungan bagi umat Islam, agar kembali pada kesempurnaan iman. Melainkan memperhatikan hari demi hari untuk terus melakukan muhasabah agar kembali menuju Islam yang kaffah sebagai konsekuensi logis dari keimanan.

Baca Juga : Rabiy'i bin Sabrah bin Ma'bad

"Maka demi Rabbmu. Pada hakikatnya mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara apa saja yang mereka perselisihkan. Dan mereka tidak merasa keberatan sedikit pun dengan putusan itu. Serta mereka menerima dengan penerimaan yang sepenuhnya." (QS. An-Nisa' : 65).

Baca Juga : Sabrah bin Ma'bad bin Ausajah (Seorang Sahabat yang Shahih)

__________________________
Oleh: Tsurayya Putri
Diberdayakan oleh Blogger.
close