Dengan Saling Memaafkan, Kita Rajut Perdamaian & Persaudaraan (Materi Khutbah Idul Fitri) - Mushpih Kawakibil Hijaj
![]() |
| Materi Khutbah Idul Fitri. |
Jamaah Idul Fitri yang berbahagia..
Sebuah keniscayaan bagi kita, untuk senantiasa bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Atas segala limpahan anugrah dan nikmatnya yang tak terkira, diantaranya: nikmat umur, sehat dan kecukupan dunia. Serta, kenikmatan yang tak ternilai harganya, yaitu kesempatan menjalankan ibadah di bulan ramadhan dan berjumpa dengan hari raya, idul fitri tahun 1447 H yang mulia.
Oleh sebab itu sebagai bentuk rasa syukur kita semua, mari bersama-sama, tingkatkan takwa kepada Allah yang maha esa, dengan menjalankan segala bentuk perintahnya, dan menjauhi segala larangannya. Insyaallah dengan begitu akan selalu ada, pertolongan dan jalan keluar dari permasalahaan hidup kita di dunia.
Jamaah Idul Fitri yang semoga Allah senantiasa rahmati…
Idul fitri hari yang datang dengan penuh berkah ilahi, setelah satu bulan kita mendidik diri, berpuasa menahan haus lapar serta menjaga lisan dan hati, akhirnya kita kembali suci, bagaikan kapas yang putih berseri, hati pun kembali bersih bening bersemi.
Di pagi nan indah ini, lantunan takbir berkumandang memenuhi bumi, mengagungkan Allah yang maha besar lagi maha tinggi.
اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ
Jamaah idul fitri yang semoga diberkahi Allah subhanhuwataala...
Hari raya Idul Fitri datang membawa cahaya, menyapa hati yang rindu akan damai dan bahagia, menjadi momentum untuk kita semua, melepas luka saling memaafkan dengan tulus tanpa rekayasa, menghapus dendam yang lama tersimpan dalam jiwa, mengganti benci dengan kasih yang penuh makna, agar hidup kembali bersih dan suci dalam ridha-Nya Allah ta’ala.
Dalam Al-Qur’an surat al-Araf ayat 199 tertera.
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ
“Jadilah pemaaf dan perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”
Imam Abdurrazaq ash-Shan’ani dalam tafsir Abdurrazaq cetakan Darul Kutubul Ilmiyah juz 2 halaman 105. Beliau mencantumkan sebuah rangkaian kata, yang berasal dari Malaikat Jibril berisi perintah Allah subhanahu wata’ala:
يَا مُحَمَّدُ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَأْمُرُكَ أَنْ تَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ , وَتُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ , وَتَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ
“Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah Yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi memerintahkanmu agar memaafkan orang yang menzalimimu, memberi kepada orang yang tidak memberimu, dan menyambung hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu.”
Oleh sebab itu, jamaah idul fitri, yang semoga senantiasa Allah berkahi..
Di hari dimana hati kembali suci dan berseri ini, kita sama-sama lepaskan segala dendam yang tersembunyi, kita rajut kembali kasih yang sempat terhenti, dari lisan terucap maaf setulus hati, dari jiwa mengalir keikhlasan yang murni, tak ada lagi benci, tak ada lagi iri, yang ada hanyalah cinta yang terpatri, karena Idul Fitri mengajarkan kita arti kembali—kembali kepada fitrah diri, saling memaafkan demi ridha Ilahi.
اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ
Jamaah idul fitri yang semoga Allah senantiasa limpahkan dengan cinta..
Dalam Q.S. Ali Imran ayat 134 tertera, bahwa Allah subhanahuwataala, mencintai mereka yang berlapang dada, yang mampu mengendalikan murka, dan yang saling memaafkan sesama manusia.
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ
“(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Dalam Tafsir Ibnu Mundzir karya Imam al-Mundzir an-Naisaburi, Juz 1 halaman 384 dapat kita baca, dari Ibnu Hayyan beliau berkata:
قَالَ: يَغِيظُونَ فِي الْأَمْرِ، فَيَغْفِرُونَ، وَيَعْفُونَ عَنِ النَّاسِ، وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَهُوَ مُحْسِنٌ، وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Yaitu mereka yang ketika marah dalam suatu urusan, mereka memaafkan dan mengampuni sesama manusia. Barang siapa melakukan hal itu, maka ia adalah orang yang berbuat kebaikan, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Dengan begitu cintanya Allah subhanawataala, dapat kita raih dengan salah satu jalannya, yakni saling memaafkan kesalahan manusia. Rasulullah saw. bersabda:
وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا[1]
“Seseorang yang memaafkan orang lain akan Allah swt. tambahkan kemuliaannya,”
Jemaah idul fitri, yang semoga Allah senantiasa tanamkan kemuliaan di hati..
Berkaitan dengan saling maaf memaafi, Syekh Muhammad al-Amin bin Abdullah al-Harari dalam Kitab Kaukabul Wahhaj syarah shahih Muslim juz 24 halaman 370 dapat kita telusuri:
وَمَنْ عُرِفَ بِالْعَفْوِ وَالصَّفْحِ سَادَ وَعَظُمَ فِي الْقُلُوبِ وَزَادَ عِزُّهُ وَإِكْرَامُهُ
“Seseorang yang dikenal memiliki sikap pemaaf dan lapang dadanya, maka ia akan menjadi sosok yang diagungkan di dalam hati manusia, serta bertambah kemuliaan dan kehormatannya.”
Oleh karenanya Jamaah idul fitri, Jadilah kita semua pemaaf wahai insan sejati, kita berusaha hapuskan dendam, iri dan dengki, karena hidup bukan sekadar tentang diri sendiri, ada hak-hak manusia yang perlu kita hormati, Serulah kepada yang ma’ruf nan suci, tebarkan kebaikan di bumi ini, agar cahaya iman dan Islam terus berseri, kita menjadi hamba yang terpuji, yang mendapatkan keberuntungan karena senantiasa rendah hati, memilih meminta dan memberikan maaf bukan memilih membenci.
اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ
Hadirin jamaah idul fitri yang semoga Allah limpahkan kebaikan..
Saling memaafkan erat kaitannya dengan perdamaian. Nikmat yang besar kita bisa hidup di negeri yang penuh dengan keberagaman. Banyak suku, budaya, dan pandangan, adalah kesempatan, untuk kita menjaga persatuan. Hari yang suci ini juga adalah momentum hari perdamaian, kita berusaha hapuskan kebencian, permusuhan dan perpecahan. Jangan sampai terframing atau terprovokasi kelompok yang suka memecah belah agama dan kehidupan. Kita jaga negeri ini agar tetap satu kesatuan, agar tetap terjalin kuat nilai-nilai persaudaraan.
Allah swt. berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara,”
Imam al-Qurthubi dalam tafsir al-Qurthubi juz 16 halaman 322 dan 323 menjelaskan:
قَوْلُهُ تَعَالَى:" إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ" أَيْ فِي الدِّينِ وَالْحُرْمَةِ لَا فِي النَّسَبِ،
“Firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara,” maksudnya: bersaudara dalam agama dan dalam kehormatan (hak yang harus dijaga), bukan dalam nasab/keturunan.”
وَلِهَذَا قِيلَ: أُخُوَّةُ الدِّينِ أَثْبَتُ مِنْ أُخُوَّةِ النَّسَبِ،
“Karena itu dikatakan: persaudaraan dalam agama lebih kuat daripada persaudaraan nasab (keturunan).”
Kenapa demkian?
فَإِنَّ أُخُوَّةَ النَّسَبِ تَنْقَطِعُ بِمُخَالَفَةِ الدِّينِ
“Karena sesungguhnya persaudaraan nasab (keturunan) dapat terputus karena perbedaan agama.”
وَأُخُوَّةَ الدِّينِ لَا تَنْقَطِعُ بِمُخَالَفَةِ النَّسَبِ.
“Sedangkan persaudaraan dalam agama tidak terputus karena perbedaan nasab (keturunan).”
Dalam hadis nabi Muhammad saw. tentang persaudaraan juga bisa kita temukan:
لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَقَاطَعُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا.
“Janganlah kalian saling dengki, jangan saling membenci, dan jangan saling memutus hubungan silaturahmi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ
Di negeri yang indah dan kaya akan keberagaman budaya, kita menjaga persatuan sebagai nikmat yang luar biasa. Momentum suci ini menjadi jalan penghapus benci dan permusuhan antar sesama, agar tak goyah oleh hasutan yang memecah belah agama. Janganlah ada dengki atau dendam yang merusak indahnya jalinan cinta, Ketahuilah bahwa iman adalah pengikat yang utama, sebuah persaudaraan agama yang melampaui batas nasab dan kasta. Takkan putus ikatan ini meski garis keturunan tak lagi sama, karena kehormatan sesama mukmin wajib dijaga selamanya.
Hadirin jamaah idul fitri.. di hari yang suci ini, mari, kita bangun momentum saling memaafkan dengan setulus hati, dari lisan ke lisan telinga ke telinga hati ke hati, bersama kita berusaha menyucikan diri, dari dosa dan kesalahan kepada Allah swt. yang maha tinggi. Dan kepada sesama manusia kita harus mawas diri, satu sama lain saling meminta maaf atas kesalahan baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Supaya kita tidak menjadi hamba yang merugi, karena kesalahan kepada sesama manusia yang belum terobati. Bangun perdamaian dan persaudaraan sebagaimana perintah allah dan nabi. Bersama kita merajut kasih dalam harmoni, bersama kita jaga idul fitri, agar tetap suci!
اَللهُ أَكْبَرُ3× وَللهِ الْحَمْدُ
[1] Imam Ad-Darimi, Sunan ad-Darimi, (Arab: Dar al-Mughni, 1412 H), juz II, h. 1042.



.png)