Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

[Senandika] Tantangan Waktu - Elsa

Sumber gambar : https://pixabay.com/vectors/watch-mechanism-time-gears-1277873/

Tantangan Waktu

Mandiri bukan hal yang mudah buat sebagian anak seusiaku. Kepergian mama 17 tahun yang lalu, membuat aku harus mandiri, berusaha menjadi gadis tangguh yang bisa tanpa mama, dan kepergian ayah 11 tahun yang lalu membuat aku menjadi gadis kuat tanpa seorang sosok pelindung.


Begitu banyak yang ingin ku pinta tapi aku menyadari bahwa 1 hal yang ku minta tak bisa kembali.


Aku sudah hampir memasuki 17 tahun, tapi keinginanku masih sama seperti yang dulu, menginginkan orang tuaku menyaksikanku bertumbuh dalam pelukan hangat mereka.


Satu anugerah terbesar bagi saya, saya masih mempunyai 1 saudara perempuan yang Tuhan titipkan untuk selalu ada buat saya.


Kami berdua seperti tak diinginkan dunia, dunia seolah tak berpihak pada kami berdua.

Bahkan saya berpikir bahwa dunia tak ingin kami bahagia.


Usia yang masih dibilang remaja harus memaksakan diri untuk mandiri dalam berbagai hal. Apapun kondisinya, saya mencoba menerima kenyataan bahwa saya tak sempurna seperti kebanyakan orang, banyak sekali kekurangan bahkan tak ada kelebihan dalam hidupku.


Seandainya hidupku adalah cerita, aku ingin secepatnya berakhir. Di luar sana aku sangat bahagia, bahkan ada yang ingin seperti saya selalu tertawa bahagia, tanpa mereka sadari aku berusaha menendam luka dengan senyuman.


Mungkin mereka berpikir bahwa aku tak pernah merasakan sedih.


Agar kalian mengetahuinya bahwa aku tak sanggup hidup seperti ini, di dunia yang tak pasti. Banyak sekali derita yang ku alami, bahkan saya tak ingin menjadi diri saya sendiri yang berusaha, kuat tapi aslinya saya tak mampu lagi.


Mama dan ayah saya meskipun sudah tak bisa ditemukan di dunia ini lagi, tapi mereka adalah salah satu motivasi saya untuk kuat menghadapi dunia.


Perjalanan kalian masih panjang, ibu ayah! Masih banyak hal seru yang perlu dicoba.

Banyak tantangan yang harus dilewati bersama-sama.


Tak pernah aku rasakan saat-saat bersama atau tak ada satu moment kebersamaan kita berempat. Seharusnya, ibu dan ayah duduk disampingku setiap malamnya, menemaniku mengerjakan tugas dan banyak hal sulit lainnya.


Menceritakan banyak hal seru dalam hidup. Dan mendengarkan aku membahas bagaimana perahuku menghadang badai, lalu menertawakannya bersama seolah semua bahaya adalah sesuatu yang kecil tak perlu dipikirkan.


Seharusnya kita merayakan keberhasilan-keberhasilan kecilku. Membeli makanan kesukaan kalian dan menghabiskannya berempat, tapi semua terasa mahal.


Bahkan jika pun aku bekerja seumur hidup, belum tentu atau tidak mungkin aku bisa membeli makanan yang bisa dinikmati berempat dengan kalian malam ini.


Indahnya malam ini, berkumpul bersama-sama memikirkan masa depanku yang penuh dengan harapan.


Sehat selalu dialam lain ibu dan ayah, kuat-kuat menghadapi segala yang menuju kalian, kelak kita berempat akan bersama di titik yang telah diatur oleh sang maha kuasa.


Akan kuceritakan semua, hal yang ku simpan hari ini. Tenang saja di sana, aku masih akan terus berdiri menghadapi badaiku sendiri.


Ketika aku membayakangnya, aku sangat bahagia, apalagi aku merasakannya.

Surat untuk ayah


Ayah.

Apa kau merindukan anak gadis mu ini?, anak mu hari ini rindu.

Izinkan aku menangisi kepergianmu beberapa tahun yang lalu.

Aku tak seberuntung orang lain,disaat mereka punya pelukan dan siap sedia melindungi,aku malah dipaksa semesta untuk menjaga diri sendiri.

Tak peduli aku siap atau tidak.

Ayah,dunia semakin kasar pada gadis kecilmu.


Jika seandainya ayah ada di sampingku aku ingin memeluk ayah,menangis meluapkan segalah rasa rindu dan cerita betapa tak sanggupnya hidupku.


Tapi aku tak di ijinkan untuk itu,bahkan begitu banyak waktu ku yang terbuang dengan sia sia.


Tidak heran,jika waktu itu Tuhan bertanya apakah aku mampu kehilangan ayah?

Aku tak bisa menjawab takdir yang terus menerus menekankan ku untuk menjawab.


Karna aku tak punya kuasa untuk membujuk takdir agar mau mengembalikan mu.


Terima kasih,ayah

Untuk luka yang ku beri,entah bertemu atau tidak senang pernah dicintai oleh ayah.


Aku iri,mereka di beri kesempatan untuk menemukan cinta yang tak ada duka.


Tapi aku?

Diajar hidup tanpa pahlawan, diajarkan agar pundak ku kuat, sekuat pundak mu, dihanyut kesedihan tanpa pertolonganmu.


Karya:Elsa.y.lely.

Baca Juga Puisi Lain Di Penadiksi :
Diberdayakan oleh Blogger.
close