Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

Qalbu dan Pikiran - Moch. Karim Amirudin

Sumber gambar : https://pixabay.com/vectors/heart-love-kawaii-face-expression-5106075/

QALBU DAN PIKIRAN

MOCH. KARIM AMIRUDIN 2 A WUSTHO 2021


Allah menciptakan manusia dengan sangat sempurna, menciptakan komponen-komponen yang lengkap dari diri manusia. Allah menciptakan komponen-komponen itu, semata agar untuk beribadah kepadanya. Allah berfirman yang artinya “aku menciptakan jin dan manusia supaya (mereka) menyenbahku”. Allah menciptakan komponen- komponen tadi itu dengan berbagai macam jenis dan bentuk, yang pastinya satu persatu memiliki fungsi tersendiri. Misalnya, kaki yang digunakan untuk berjalan, mata digunakan untuk melihat, tangan digunakan untuk makan, minum, bersalaman dan masih banyak lagi komponen-komponen yang belum disebutkan. Maka, akan timbul pertanyaan “apakah reptile, serangga, hewan melata lainnya tidak memiliki kaki, mata dan tangan ?.....” jawabannya, pastinya punya “lalu mengapa mereka tidak dikategorikan sebagai makhluk yang sempurna juga ?....”.

Baca Juga : [Puisi] Bagiku Cinta Adalah Rahmat - Niayah S.Pd

Ada dua komponen yang dimiliki manusia namun, tidak dimiliki makhluk hidup lainnya yaitu QOLBU dan FIKIRAN. Kedua komponen inilah yang membuat manusia di juluku “MAKHLUK SEMPURNA”. Kedua komponen inilah yang berperan sebagai dalang dari komponen lainnya. Maksudnya, sebagai pemicu pergerakan komponen lainnya yang sudah di sebutkan di atas. Baik bergerak untuk berbuat kebaikan atau kejahatan tergantung sohibnya.

Di dalam agama islam kita dilarang untuk berbuat kejahatan, kita dibatasi melakukan suatu hal yang menuju pada ranah haram seperti mencuri, berzina, membunuh dan lain sebagainya. Di masa inilah qolbu dan fikiran beraksi. Berperan penting dalam pencegahan melakukan suatu hal yang dilarang syariat. Terkadang, mereka juga serasi dalam melakukan keharaman karena disebabkan oleh suatu faktor tertentu yang membuat mereka melakukan itu. Gambarannya begini “pada suatu hari ada seseorang pria miskin yang berkerja serabutan dengan penghasilan yang sangat kecil, yang hasilnya hanya bisa digunakan untuk makan sehari-hari saja. Si pria memiliki satu anak perempuan yang masih berumur 9 tahun yang tengah menderita sakit keras dan berbaring lemah diatas keranjang.

Baca Juga : [Cerpen] Cincin Yang Berbicara - Lalitya Nandini

Di ceritakan juga pada suatu hari ketika sang pria sedang berkerja, alih-alih si pria mendapat kabar dari tetangganya bahwa penyakit yang diderita anaknya kambuh, sehingga harus dibawa ke rumah sakit oleh sebab itu Tetangganya yang membawa anaknya ke rumah sakit. Langsung saja sang pria pergi ke rumah sakit tanpa memperdulikan pekerjaannya. Sesampainya di rumah sakit si pria langsung menuju ke kamar di mana anaknya dirawat. Si pria mendapati salah seorang dokter yang tengah memeriksa anaknya.dengan tergesa-gesa si pria menghampiri sang dokter dan langsung melemparkan berbagai pertanyaan. Setelah menerima penjelasan dari dokter dan akhirnya si pria tahu bahwa anaknya mengidap penyakit kanker stadium akhir dan harus segera dilakukan oprasi. Pasca sakit yang diderita anaknya, si pria tidak tahu kalau yang diderita anaknya bukan penyakit biasa. Awalnya si pria hanya mengira itu hanya demam biasa yang ternyata malah berujung fatal. Pastinya si pria mikir, dari mana nendapatkan uang untuk biaya oprasi dan tidak sedikit uang yang harus di keluarkan untuk biaya oprasi tersebut”.

Baca Juga : Kenali Suicidal Thoughts yuk!

Di situlah qolbu dan fikiran mulai meraung-raung layaknya singa yang sedang kelaparan. Secara tidak langsung fikiran menawarkan pendapatnya. Jika sang pria ingin mendapatkan uang dengan cara cepat, maka harus dilakukan dengan cara yang instan seperti muncuri atau merampok. Dan qolbu pastinya akan mengikuti pendapat fikiran. Karena qolbu terdesak dan merasakan apa yang dirasakan si pria. Apapun akan dilakukan qolbu agar si pria bisa keluar dari masalahnya, dengan menyetujui anjuran dari fikiran entah itu baik atau buruk. 

Jika sudah demikian datanglan yang namanya iman. Iman langsung memaki-maki keduanya, menghina dan mencemo’ah bahwasanya yang dilakukan keduanya merupakan suatu hal yang picik. Mereka berdua tidak tahu bahwa allah di atas maha melihat atas segala yang mereka berdua lakukan. Mereka berdua egois, tidak mau memikirkan bagaimana kedepannya. Jika mereka berdua melakukan itu, azab allah itu lebih sakit dari apapun. Kemudian iman perlahan menasehati qolbu dan fikiran. Hingga akhirnya mereka berdua sadar akan kesalahan mereka. Begitupun si pria, yang awalnya di diktrin oleh qolbu dan fikiran akhirnya ikut sadar juga. Bahwa yang dilakukan si pria merupakan dosa besar. Alhasil si pria memohon ampun kepada allah dan menyerahkan semua urusannya juga kepada allah. Tugas pria hanyalah ikhtiar dan tawakal.

Baca Juga : [Puisi] Di Ambang Kegelapan - Bagas Taufik Kemas

Setelah itu si pria berkerja seperti dulu lagi, kali ini si pria di berkerja lebih giat lagi. Barkat ketabahan dari si pria, sungguh allah maha penyayang. Allah memberikan rahmat kepada si pria dengan kesembuhan anaknya. Si pria dikabari oleh tetanganya, kali ini tetangganya membawa kabar bahagia bahwa anaknya telah sembuh dan keesokan harinya sudah boleh dibawa pulang ke rumah. Betapa bahagianya si pria, sifat ar-rohman dan ar-rohim allah itu memang benar adanya. Allah memberikan ar-rohman dan ar-rohimnya hanya bagi hambanya yang mau berikhtiar dan bertawakal. Si pria tak henti-hentinya mengucapkan syukur atas apa yang di karuniainya. 

Dari kutipan cerita diatas saya mengambik kisah nyata dari seopang ayah dan anak yang menderita kemiskinan. Jika kita mau berfikir secara logis, kemungkinan anak sang pria tadai tidak mungkin akan sembuh. Malah akan berujung pada kemantian, karena tidak segera ditangani. Akan tetapi qudrat allah tidak ada yang mustahil. Dari pemaparan diatas memang, qolbo dan fikiran keduanya sangat penting dan saling berkesinambungan sebagai alat pemicu pergerakan koponen-komponen lainnya. Namun, kadang mereka berdua berkerja diluar batas, melewati had-had yang telah ditetapkan dalam agana islam. Disini iman berperan lebih penting dari pada keduanya yaitu sebagai penasehatjikalau mereka berdua melakukan kesalaha. Juga sebagai penasehat agar mereka berkerja dengan apa yang di perintahkan sang Khaliq. @AMIER_KA.

Diberdayakan oleh Blogger.
close