Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

[CERPEN] Setulus Hati Larasati karya: Anisa Laili Fitria


Langit mulai gelap, awan yang semula putih berubah menghitam, rintik menjadi deras. Manusia berdesakan mencari tempat berteduh, tidak peduli dengan yang lainnya. Larasati – gadis berhijab dan berbaju batik yang sedang berteduh – menatap iba anak-anak yang berdiri di pinggir jalan, menggigil kedinginan. Seharusnya anak-anak seusia mereka bisa mendapatkan kasih sayang dan kehidupan yang layak. Namun, nasib tak berpihak pada mereka. 

****

Larasati – gadis yang biasa disapa Laras – melangkahkan  kakinya menuju rumah bertuliskan ‘Mutiara Bunda’ yang nampak sederhana dari depan. Namun, luas dan terdapat banyak kamar di dalamnya. Laras mengedarkan pandangannya, mencari penghuni rumah.

“Laras, kamu sudah pulang?” tanya seorang wanita yang menghampiri Laras.

“Iya, Bu.” Laras mencium punggung tangan wanita yang dipanggil ibu itu.

“Kamu enggak bawa payung? Basah semua ini,” tanya Bu Widya – ibu angkat Larasati.

“Laras lupa, Bu. Tadi hujannya udah reda, eh, pas jalan lagi hujannya deras lagi.” 

“Yaudah, kamu mandi sana!”

“Iya, Bu. Adik-adik di mana?”

“Anak-anak di kamar, lagi belajar.”

“Laras mandi dulu, ya, Bu. Nanti Laras susul adik-adik.” Laras berlalu menuju kamarnya. 

Larasati – salah satu anak yang tinggal di panti asuhan ‘Mutiara Bunda', ia ditemukan Bu Widya di jalan dekat rumahnya. Sungguh mulia hati Bu Widya, mau merawat anak-anak yang kurang beruntung. Bu Widya mendirikan panti asuhan ‘Mutiara Bunda’ lima belas tahun setelah adanya Larasati. Ia tidak tega melihat anak-anak terlantar. Saat ini, anak-anak yang diasuhnya kurang lebih sepuluh anak. Bu Widya sebenarnya ingin mengasuh lebih banyak anak. Namun, keterbatasan ekonomi dan tidak adanya donatur membuat wanita paruh baya itu mengurungkan niatnya.

****

Seperti biasa, Laras pulang kerja jalan kaki karena letak rumahnya dan tempat kerja tak begitu jauh. Laras mendekati anak-anak yang dilihatnya kemarin, ia ingin membawa mereka pulang. Sebelumnya ia telah meminta izin kepada Bu Widya. Ia meyakinkan Bu Widya untuk merawat anak-anak itu. Ia juga berjanji akan bekerja lebih giat agar bisa mencukupi kebutuhan adik-adik panti. 

“Adik-adik, kalian mau enggak ikut, kakak?” tanya Larasati saat sudah berada di dekat tiga anak yang berpakaian lusuh. 

“Ke mana, kak?” tanya anak berbadan kurus.

“Ke rumah kakak, nanti kalian enggak perlu kerja kayak begini lagi.”

“Kami mau kak, tapi-, ucapan anak yang berpostur agak tinggi itu terpotong, saat melihat pria bertubuh besar berjalan mendekat ke arah mereka.

“Apa-apaan ini, lu mau bawa anak-anak ini?” tanya pria berbadan besar dan bertato itu.

“Iya, pak. Kasihan mereka,” jawab Larasati.

“Enak aja lu bawa anak-anak ini. Mereka itu ladang uang gue.”

“Astaghfirullah, kasihan mereka, pak. Mereka layak mendapatkan kehidupan yang lebih baik.”

“Lu mau ngelawan gue? Kalau lu mau bawa mereka, hadapi gue dulu.”

“Bapak mau saya laporin polisi atas tuduhan mengekploitasi anak? Kalau bapak mau saya akan panggil mereka,” tanya Larasati sambil menunjuk polisi di sebrang.

Setelah berpikir dan menimbang ucapan Larasati, akhirnya preman itu luluh. “Gue lepasin mereka, tapi jangan laporin gue!” pinta preman itu.

“Baik, pak. Kami permisi!” Larasati membawa ketiga anak tersebut menuju tempat tinggalnya.

***

Sesampainya di panti, Larasati langsung memperkenalkan ketiga anak itu ke penghuni panti.

“Assalamualaikum, semua,” ucap Larasati.
“Waalaikum salam,” jawab anak-anak dan bu Widya serempak.

“Adik-adik, Kak Laras bawa teman baru untuk kalian,” ujar Larasati. “Ayo, kalian kenalan sama teman yang lain!” pinta Larasati pada ketiga anak itu.

“Hai, aku Naila,” ucap anak perempuan berbadan kurus.

“Hai, aku Teguh,” ujar anak laki-laki berpostur tinggi.

“Hai, aku Sekar,” ucap anak perempuan berbadan gemuk.

“Naila, Teguh, Sekar. Kakak namanya Kak Larasati, kalian bisa panggil Kak Laras dan itu Bu Widya, pemilik panti ini.” Laras menunjuk bu Widya.

“Anak-anak, kalian ajak teman kalian ke kamar, ya. Kalian pinjemin baju buat mereka!” pinta bu Widya.

“Iya, Bu,” jawab anak-anak, kemudian beranjak dari ruang tamu.

Laras dan bu Widya tersenyum haru, melihat anak-anak bisa menerima satu sama lain. Laras berjanji akan mengusahakan yang terbaik untuk anak-anak panti.

____________
Penulis: Anisa Laili Fitria
Diberdayakan oleh Blogger.
close