Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

[Flash Fiction] Adel Tersayang - Egi David Perdana

Sumber foto : https://pixabay.com/id/illustrations/mata-psikologi-gangguan-kecemasan-730749/

Amin memandang adik perempuan nya yang tertunduk malu, perasaan Amin amat bahagia, juga merasakan perih yang amat dalam. Bagaimana tidak, ia baru diberitahu ibunya jika selain dua saudaranya ia juga memiliki seorang saudari, dan saudarinya tersebut bagi Amin benar-benar diabaikan.


Setelah tahu, 4 bulan pemuda tanggung yang belum juga bekerja itu serasa hidup di neraka, sebab ia membenci ayah dan ibunya yang dulu tega merahasiakan kelahiran meski alasannya demi kebaikan mental Amin serta kedua saudaranya.


Dengan ramah Amin menawarkan roti yang sengaja ia beli meski harus hujan-hujanan, apalagi Amin baru menempati rumah tersebut selama 2 bulan sehingga ia yang kehujanan sempat kesulitan mencari warung di sekitar kompleks.


Tapi Adel, sang adik, hanya diam. Ia menatap tajam ke arah Amin. Tersenyum.


Amin pun membalas senyum Adel, untuk sementara ini rasa negatif nya hilang, ia sementara merasakan hawa surga di rumah baru yang lagi-lagi ia anggap neraka.


Adel tertawa, tertawa khas kuntilanak, ya Adel adalah hantu, tepatnya kuntilanak. Amin sebetulnya penakut, bahkan lampu kamar saja tidak pernah ia matikan.


Tapi semenjak ia tahu adiknya yang hilang kini telah menjadi roh penasaran, perlahan-lahan ia tidak takut sama sekali dengan hal ghaib apapun.


Menurut kabar yang Amin dengar dari berbagai media sosial, arwah bayi yang baru lahir akan dibawa ke limbo, tempat yang ada di tengah-tengah surga maupun neraka, tapi terkadang roh penghuni limbo pergi ke dunia untuk sekedar menengok keluarga mereka.


Perlahan-lahan roti yang Amin tawarkan menjadi basi, tanda jika Adel telah mengkonsumsi saripati roti tersebut.


Amin menawarkan minum dan beberapa detik kemudian segelas air mineral langsung menjadi keruh.


Amin sendirian malam itu karena ibu dan ayah serta kedua saudara nya menengok salah seorang anggota keluarga yang baru melahirkan, Amin tidak ikut karena seorang yang anti sosial, hal tersebutlah yang membuatnya sulit mendapatkan pekerjaan, yang menyebabkan dirinya merasakan depresi berupa rasa bersalah, kecemasan serta rasa malu pada keluarganya.


Apalagi semenjak diketahui ada seorang adik yang belasan tahun diabaikan, lingkungan keluarga yang bagi Amin bagai medan perang saudara naik level keburukannya menjadi neraka.


Adel menatap tajam Amin yang dibalas senyuman hangat, Amin sendiri sedang membaca artikel horor di sebuah portal berita, sejak tahu saudarinya adalah kuntilanak ia memang mengasah keberaniannya, Amin lebih aktif dalam mengakses konten horor baik berupa teks maupun video. Awal-awal memang amat menakutkan tapi akhirnya Amin terbiasa.


Sedang di luar hujan deras, Amin menyeruput teh hangat, kemudian menawarkannya pada Adel tapi secepat kilat ia mengatakan akan membuat yang baru karena Amin sendiri masih ingin menikmatinya. Amin pun membuat teh hangat sambil sesekali menatap Adel yang juga menatap tajam Amin sambil mengeluarkan tawa khas kuntilanak.


Amin mengabaikan mata Adel yang makin memerah dan tawanya yang kini memekakkan telinga, rasa sayang Amin pada Adel lebih besar daripada rasa takut pada hantu atau setan yang sebetulnya amat manusiawi.


Rasa sayang itu muncul akibat rasa iba luar biasa pada adiknya tersebut, dimana selama belasan tahun Adel sama sekali tidak dianggap keberadaannya, Amin saja yang pernah diabaikan oleh sang ibu selama tahun-tahun di SMA nya akibat malas-malasan dan sifat anti sosial merasa hidupnya amat buruk waktu itu, apalagi Adel yang sudah belasan tahun.


Tiba-tiba suara handphone berdering dan bersamaan dengan itu listrik mati berbarengan dengan suara halilintar yang menggelegar.


Amin menyalakan senter di handphonenya kemudian mengangkat telepon, terdengar suara sang ibu dibalik telepon. Mulanya hanya obrolan biasa, Amin ditanyai keadaannya apakah baik-baik saja sendirian di rumah.


Tapi jawaban Amin yang menyatakan ia tidak sendiri melainkan bersama Adel membuat sang ibu naik pitam.


"Kamu ini gimana!? Yang meninggal waktu baru lahir itu anak Tante Julia! Adel masih sehat wal'afiat! Lagi dijemput keluarga karena kamu terus nuntut!"


Tapi tak terdengar balasan dari Amin. Ia tergeletak, darah segar mengalir dari lehernya dan reaksi wajah Amin shock sekaligus amat ketakutan. Amin mati.


Handphone tergeletak di lantai. Menyala. Terlihat sebuah artikel berjudul "Teror Kuntilanak Penghisap Darah! Waspada dan Perbanyak Berdoa."

Diberdayakan oleh Blogger.
close