Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

[Dongeng] Rubah dan Burung Gagak - Rizka Awaliah

dongeng rubah dan burung gagak

Di siang yang terik, rubah berjalan menyusuri bukit. Niatnya adalah untuk mencari makanan, tapi tidak juga ditemukan.

“Ke mana lagi aku harus mencari makanan?” tanya rubah.

Kakinya yang kecil berjalan pelan sambil mengamati sekitar bukit, berharap ada buah yang bisa dimakan. Namun, ini bukan musim panen jadi cukup sulit menemukan buah-buahan.

Perjalanannya membawa rubah ke perbatasan desa. Desa itu dihuni oleh manusia, mereka memiliki banyak makanan. Mereka bercocok tanam dan menghasilkan buah serta sayur yang melimpah. Namun, hewan hutan tidak berani memasuki Kawasan desa karena banyak ranjau yang manusia buat untuk mengamankan hasil ladangnya.

Baca Juga :

Rubah memerhatikan desa dari kejauhan, dirinya tidak cukup berani untuk menerobos perbatasan.

Rubah itu termenung, dan matanya melihat burung gagak hinggap di dahan pohon yang tidak jauh darinya.

“Gagak itu sepertinya membawa sesuatu,” ucap rubah berjalan mendekat.

Dan ternyata benar, burung gagak membawa sepotong keju di paruhnya.

"Wahh, itu makananku,” ucap rubah.

Segera saja rubah itu berkata pada burung gagak, “wahai burung gagak, bisakah kau membagi makanan itu?”

Burung gagak menggeleng tegas.

Sang rubah menghela napas, ‘bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan keju itu,’ ucapnya dalam hati.

Rubah mulai memikirkan cara agar gagak memberikan keju tersebut. rubah mendapat ide jenius, “aku harus membuatnya bicara, sehingga dia akan membuka paruhnya dan keju itu akan terjatuh.”

Ide itu sangat sempurna.

Rubah pun mulai bertanya, “Selamat siang, burung gagak. Apa kabarmu?”

Burung gagak tidak bergeming.

“aku suka sekali dengan warna bulumu, bisa kau beritahu aku rahasia keindahan bulumu?” tanya rubah, dan hanya dibalas dengan senyuman oleh burung gagak.

Ternyata membuat burung gagak bicara tidaklah mudah, ‘apa yang harus aku lakukan lagi?’ gumam rubah.

Akhirnya rubah mendapat ide jenius lagi.

“Wahai burung gagak, aku sudah mengatakan bahwa bulumu sangat indah. Setelah dilihat-lihat cakarmu juga bagus. Sangat kekar,” puji rubah.

“Paruhmu juga indah, dia terlihat … tajam dan runcing. Persisi seperti milik elang. Aku yakin suaramu juga tidak kalah indahnya, bisakah aku mendengarnya sedikit?” tanya rubah.

Medengar pujian yang begitu manis dari rubah, burung gagak tanpa sadar membuka paruhnya dan bersuara.

Namun, tanpa dirinya sangka kejunya terjatuh. Rubah sudah siap membuka mulutnya di bawah pohon, dan keju itu pun terjatuh tepat ke mulutnya.

Rubah segera memakan keju tersebut, “nyam … nyam …,” ucapnya merasakan nikmat.

“Terima kasih, gagak,” ucapnya dengan senyum puas. Sedangkan gagak hanya mematung melihat kejunya dimakan oleh rubah.

________________

Oleh: Rizka Awaliah 
Diberdayakan oleh Blogger.
close