![]() |
| Tulisan Islami. |
Tanda-Tanda Orang Yang Dermawan
Salah satu kata dalam bahasa Arab yang bermakna orang dermawan adalah As-Sakhi. Ibnu Sidah atau Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Al-Mursi menjelaskan:
[1]السَّخِيُّ: الْجَوَادُ
Artinya: " As-Sakhi adalah orang yang dermawan."
Diantara tanda orang yang dermawan atau murah hati ada tiga tanda: yang pertama bisa memaafkan seseorang ketika mampu membalasnya. Yang kedua, menunaikan zakat dan yang ketiga, gemar sedekah.
A. Memaafkan Seseorang Ketika Mampu Membalasnya
Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Asy-Syura ayat 40:
وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَاۚ فَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ
Artinya: “Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. Akan tetapi, siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zalim.”
Salah satu keutamaan memaafkan orang padahal kita mampu membalasnya adalah diangkat derajatnya. Dalam sejarah, nabi Yusuf a.s. pernah dimasukkan kedalam sumur oleh saudara-saudaranya, sampai terpisah puluhan tahun dengan ayahnya yaitu nabi Yakub a.s. Karena kemurah hatian, kedermawanan, kemuliaan dan keikhlasan nabi Yusuf a.s. ia memaafkan perbuatan saudara-saudaranya tersebut. Bahkan ketika nabi Yusuf a.s. menjadi salah satu penguasan mesir dan mampu membalas perbuatan saudaranya itu, tapi ia memilih memaafkan sebagaimana dalam Q.S. Yusuf ayat 92:
قَالَ لَا تَثْرِيْبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَۗ يَغْفِرُ اللّٰهُ لَكُمْۖ وَهُوَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ
Artinya: “Dia (Yusuf) berkata, “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu. Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.”
Bukan hanya memaafkan, nabi Yusuf a.s. juga mendoakan saudara-saudaranya. Maka semakin diangkat tinggilah derajat dan kemuliaan nabi Yusuf a.s sebab memiliki kemuliaan hati, mampu memaafkan kesalahan saudara-saudaranya bahkan ketika nabi Yusuf a.s. berkuasa untuk membalasnya.
B. Menunaikan Zakat
Zakat yang diwajibkan kepada seluruh umat Islam ada dua, zakat fitrah dan zakat mal. Zakat fitrah adalah zakat yang dikeluarkan pada bulan ramadhan. Rasulullah saw. bersabda:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ، أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ المُسْلِمِينَ[2]
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, telah mengabarkan kepada kami Malik, dari Nafi', dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha' kurma atau satu sha' gandum (sya'ir) atas setiap Muslim, baik orang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan.” (H.R. Imam Al-Bukhari nomor 1.504)
Adapun penjelasan tentang satu sha, tecantum dalam kitab al-Fiqhul Islami wa Adillatuh karya Syekh Wahbah al-Zuhayli:
وَزَكَاةُ الْفِطْرِ صَاعٌ (أَرْبَعَةُ أَمْدَادٍ)، وَالْمُدُّ: حَفْنَةٌ مِلْءُ الْيَدَيْنِ الْمُتَوَسِّطَتَيْنِ[3]
Artinya: "Zakat fitrah adalah satu sha‘ (empat mud). Sedangkan satu mud adalah satu cakupan penuh dengan dua telapak tangan manusia pada umumnya.”
Dari ukuran satu sha tersebut para ulama terutama di Indonesia yang membayar zakat dengan beras memperkirakan satu sha sekitar 2.75 kg atau 3.5 liter beras.
Adapun keutamaan atau hikmah adanya zakat fitrah, sebagaimana hadis nabi saw. bersabda:
- حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ بَشِيرِ بْنِ ذَكْوَانَ، وَأَحْمَدُ بْنُ الْأَزْهَرِ، قَالَا: حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدّثَنَا أَبُو يَزِيدَ الْخَوْلَانِي، عَنْ سَيَّارِ ابْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الصَّدَفِي، عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ
Artinya: "Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad bin Basyir bin Dzakwan dan Ahmad bin al-Azhar, berkata: Telah menceritakan kepada kami Marwan bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abu Yazid al-Khaulani dari Sayyar bin Abdurrahmanal-Shadafi, dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, beliau berkata: Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan ucapan/perbuatan keji, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Maka barang siapa menunaikannya sebelum salat (Idulfitri), maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barang siapa menunaikannya setelah salat, maka itu hanyalah sedekah biasa di antara berbagai sedekah." (H.R. Ibnu Majah nomor 1.827)
Selain zakat fitrah ada juga yang disebut zakat mal (zakat harta), yaitu zakat yang dikeluarkan berkaitan dengan harta tertentu yang telah mencapai nisab (batas minimal harta yang wajib dizakati) dan telah dimiliki selama haul (satu tahun hijriah) pada jenis harta tertentu.
C. Cinta Sedekah
Sedekah adalah memberikan harta atau manfaat karena mengharap ridha Allah Swt. Zakat termasuk dalam sedekah tapi tidak semua sedekah adalah zakat. Karena sedekah cakupannya lebih luas, baik itu ada yang wajib maupun ada yang sunnah, baik itu dengan materi atau non materi. Diantara permasalahan yang terjadi adalah menganggap sedekah hanya dalam bentuk materi saja, sebagaimana keluhan sahabat nabi saw. yang tercantum dalam hadis:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ الضُّبَعِيُّ، حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ، حَدَّثَنَا وَاصِلٌ، مَوْلَى أَبِي عُيَيْنَةَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ عُقَيْلٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ، عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ الدِّيلِيِّ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ، وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ، قَالَ: " أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ، وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ؟ قَالَ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ[5]
“Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Asma al-Dhuba'i, telah menceritakan kepada kami Mahdi bin Maymun, telah menceritakan kepada kami Washil, maula abi 'Uyainah, dari Yahya bin 'Uqail dari Yahya bin Ya'mar dari Abi al-Aswad al-Dili, Dari Abu Dzarr رضي الله عنه, bahwa beberapa orang sahabat Nabi ﷺ berkata kepada Nabi ﷺ: "Wahai Rasulullah, orang-orang yang memiliki banyak harta telah memborong pahala. Mereka salat sebagaimana kami salat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka." Beliau bersabda: "Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian sesuatu yang dapat kalian gunakan untuk bersedekah? Sesungguhnya pada setiap tasbih (ucapan Subḥānallāh) ada sedekah, pada setiap takbir (ucapan Allāhu Akbar) ada sedekah, pada setiap tahmid (ucapan Alḥamdulillāh) ada sedekah, pada setiap tahlil (ucapan Lā ilāha illallāh) ada sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah, dan pada hubungan suami istri salah seorang di antara kalian pun terdapat sedekah." Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah apabila salah seorang dari kami menyalurkan syahwatnya, ia juga mendapatkan pahala karenanya?" Beliau menjawab: "Bagaimana pendapat kalian, jika ia menyalurkan syahwatnya pada jalan yang haram, bukankah ia mendapat dosa? Maka demikian pula apabila ia menyalurkannya pada jalan yang halal, ia mendapatkan pahala." (H.R. Muslim nomor 1.006)
Bahkan secara umum setiap kebaikan adalah sedekah, sebagaimana sabda nabi saw.:
وَقَالَ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ: - عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ[6]
“Ibnu Abi Syaibah berkata: dari nabi saw. bersabda: "Setiap kebaikan adalah sedekah." (H.R. Muslim nomor 1.005)
Maka sedekah tidak hanya terbatas pada materi tapi non materi pun banyak yang termasuk sedekah. Berikut sedekah non materi yang terdapat dalam hadis nabi saw.:
حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ هَمَّامٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ، كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ، يَعْدِلُ بَيْنَ الِاثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَيُعِينُ الرَّجُلَ عَلَى دَابَّتِهِ فَيَحْمِلُ عَلَيْهَا، أَوْ يَرْفَعُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ، وَيُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ
[8]
Artinya: "Telah menceritakan kepadaku Ishaq telah mengabarkan kepada kami Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Hammam dari Abi Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Setiap persendian manusia wajib dikeluarkan sedekah untuknya pada setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan di antara dua orang adalah sedekah. Menolong seseorang pada kendaraannya lalu membantunya naik ke atasnya, atau mengangkatkan barang bawaannya ke atas kendaraan itu, adalah sedekah. Ucapan yang baik adalah sedekah. Setiap langkah yang ia ayunkan menuju salat adalah sedekah. Dan menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah sedekah.” (H.R. Imam al-Bukhari nomor 2.989)
يَكُفُّ شَرَّهُ عَنِ النَّاسِ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ يَتَصَدَّقُ بِهَا عَلَى نَفْسِهِ[9]
“Ia menahan keburukan (gangguan) dirinya dari manusia, karena sesungguhnya hal itu adalah sedekah yang ia sedekahkan untuk dirinya sendiri”
[1] Ibnu Sidah/Abu Al-Hasan Ali bin Ismail bin Sayyidah Al-Mursi, Al-Muḥkam wa Al-Muḥīṭh Al-A‘ẓham, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyyah, 1421 H / 2000 M), juz V, h. 282. Disalin dari Maktabah Syamilah tanggal publikasi 8 Dzulhijjah 1431 H.
[2] Imam al-Bukhari. Shahih al-Bukhari, (t.tp.: Dar Ṭawq an-Najāh, 1422 H), juz II, h. 130. Disalin dari Maktabah Syamilah tanggal publikasi 24 Rajab 1433 H.
[3] Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz II, halaman 911
[4] Imam Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, (t.tp.: Dar Ar-Risalah Al-'Alamiyyah, 1430 H / 2009 M), juz III, h. 39. Disalin dari Maktabah Syamilah tanggal publikasi 27 Dzulqa'dah 1434 H.
[5] Imam Muslim, Shahih Muslim, (Beirut: Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, t.th.), juz II, h. 697. Disalin dari Maktabah Syamilah tanggal publikasi 8 Dzulhijjah 1431 H.
[6] Imam Muslim, Shahih Muslim, (Beirut: Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, t.th.), juz II, h. 697. Disalin dari Maktabah Syamilah tanggal publikasi 8 Dzulhijjah 1431 H.
[7] Imam al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, (Mesir: Syarikat Maktabah wa Mathba‘ah Mustafa Al-Babi Al-Halabi, 1395 H / 1975 M), juz IV, h. 339. Disalin dari Maktabah Syamilah tanggal publikasi 8 Dzulhijjah 1431 H.
[8] Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (t.tp.: Dar Thauq An-Najah, 1422 H), juz IV, h. 56. Disalin dari Maktabah Syamilah tanggal publikasi 24 Rajab 1433 H.
[9] Abu Nu'aim Ahmad bin Abdullah Al-Ashbahani, Hilyatul Auliyā’ wa Ṭabaqātul Aṣfiyā’, (As-Sa‘ādah, dekat Muhafazhah Mesir, tahun 1394 H / 1974 M), juz VIII, h. 307. Disalin dari Maktabah Syamilah tanggal publikasi 24 Muharram 1433 H.



.png)