Selamat Datang di penadiksi.com | *Mohon maaf jika terjadi plagiat/copy karya kalian oleh penulis di web ini, segera laporkan ke penadiksishop@gmail.com karena kami bergerak dalam pengembangan penulis, baik untuk pemula atau profesional dan keterbatasan kami dalam penelusuran terkait karya, kami ucapkan Mohon Maaf🙏*

[Cerpen] Tangisan di Balik Pagar - Yeni Purwanti Wardiningsih

Sumber gambar : https://pixabay.com/illustrations/house-building-hill-tree-fence-7532959/
Cerpen.

Tangisan di Balik Pagar

‎Gelas susu cokelat di tanganku baru saja tandas setengahnya ketika keheningan pagi itu mendadak pecah. Dari arah sebelah rumah, sebuah lengkingan suara khas bocah melesat masuk lewat celah ventilasi.

‎"Ibuuu... Ibuuu... Nderek!"

‎Suara itu melengking tinggi, disusul jeritan tangis yang langsung pecah dan makin lama makin menjadi-jadi. Kalimat “nderek”—kata dalam bahasa Jawa yang berarti ingin ikut—itu diulang berkali-kali seperti sebuah mantra keputusasaan.

‎Aku menggeser mangkuk bekas sarapanku ke tengah meja, lalu beranjak mendekati jendela samping rumah. Gorden kuibaskan sedikit, menciptakan celah kecil agar mataku bisa mengintip ke luar.

‎Di sana, di halaman bebatuan yang dinaungi pohon nangka, si Unyil sedang duduk bersimpuh. Bocah perempuan usia lima tahun yang tubuhnya mungil dan biasanya cunal-cunil aktif bukan main itu, kini sedang menangis. Air matanya deras membasahi pipi yang memerah, sementara badannya terguncang hebat karena napas yang memburu.

‎Di sampingnya, sang Mbah Putri sibuk mendekap pundak kecil itu, mencoba membujuk dan menenangkan dengan bisikan-bisikan halus yang sayangnya kalah saing dengan volume tangis si Unyil. Sementara itu, sosok ibunya sudah tidak kelihatan lagi punggungnya. Mungkin sudah berbelok di ujung gang untuk berangkat kerja.

‎Hanya tersisa teriakan pilu Unyil yang menggema di udara pagi.

Baca Juga : [Cerpen] Suatu Pertanda - Fukuda Maruyama

‎Melihat pemandangan itu dari balik jendela, mendadak ada rasa penuh yang menghantam dadaku. Sesak sekali. Sebagai anak SMA yang dunianya baru seputar tugas sekolah dan nongkrong, melihat pemandangan sedih sedekat ini selalu berhasil membuat hatiku mencos.

‎Semua orang di gang kami tahu cerita di balik dinding rumah itu. Unyil kecil harus tumbuh dalam pusaran badai orang dewasa yang terlalu cepat. Ayah dan ibunya bercerai saat usia Unyil baru menginjak dua tahun. Konon, pernikahan kedua orang tuanya dulu terjadi karena dijodohkan oleh sang Mbah. Mungkin karena dasarnya tidak ada kecocokan, komitmen itu runtuh, meninggalkan puing-puing yang harus dilewati kaki-kaki kecil Unyil.

‎Saat menatap tubuh mungilnya yang masih terguncang oleh sisa tangis, sebuah pikiran mendadak menghantamku. Gila, ya. Anak sekecil itu, yang seharusnya baru belajar mengeja huruf atau bingung memilih warna krayon, sudah dipaksa oleh keadaan untuk mencerna pergolakan hidup yang begitu rumit.

‎Pikiran bawah sadarnya mungkin belum paham apa itu kata 'perceraian' atau 'tuntutan ekonomi'. Tapi hatinya, secara naluriah, bisa merasakan ada ruang kosong yang besar di rumahnya. Dia harus belajar mengerti mengapa ayahnya tidak ada, dan mengapa setiap pagi ibunya harus melangkah pergi dengan tergesa-gesa demi menyambung hidup.

‎Ada kedewasaan yang dipaksakan tumbuh sebelum waktunya di sana. Di saat anak-anak seusianya merengek karena mainannya rusak, Unyil merengek karena takut kehilangan satu-satunya jangkar dunianya yang tersisa: ibunya. Setiap lambaian tangan di ambang pintu bukan sekadar pamitan biasa bagi Unyil, melainkan sebuah kecemasan kecil apakah ibunya akan benar-benar kembali pulang.

Baca Juga : (Cerpen) Firasat Ibu Karya Hanifah Afnan

‎Dunia orang dewasa terkadang terlalu egois dan bising, sampai lupa bahwa patahannya sering kali jatuh dan melukai jiwa-jiwa paling murni yang tidak tahu apa-apa. Unyil sedang menampung patahan itu sendirian, mengunyah rasa sepi dan rindu dalam balutan tubuhnya yang cunal-cunil.

‎Tangis Unyil perlahan mulai mereda menjadi cegukan kecil di pelukan Mbah Putrinya, namun dadaku masih menyisakan rasa ngilu yang sama. Bocah mungil itu sedang berdamai dengan takdirnya yang tidak sempurna, tepat di depan mataku.


PURWOKERTO, 22 MEI 2026

BY~ Yeni Purwanti Wardiningsih~

Memuat postingan...
Diberdayakan oleh Blogger.